
Pantau - Direktorat Reserse Siber (Ditressiber) Polda Metro Jaya mengungkap lima tersangka dalam kasus penyebaran SMS palsu menggunakan perangkat Fake BTS yang dioperasikan di sepanjang rute MRT Jakarta dari Bundaran HI hingga Blok M, Jakarta Selatan.
Salah satu tersangka berinisial JYI diketahui mempelajari metode pengiriman SMS tersebut secara otodidak melalui media sosial dan sebuah saluran aplikasi Telegram sebelum mengimpor peralatan yang diperlukan untuk menjalankan aksinya.
Kasubdit IV Ditressiber Polda Metro Jaya AKBP Grawas Sugiharto mengatakan JYI awalnya tertarik setelah menemukan penawaran mengenai metode pengiriman SMS melalui sebuah saluran Telegram.
"Jadi belajar dari media sosial. Pelaku membaca di sebuah saluran Telegram yang menawarkan kesempatan untuk mengirimkan SMS ini, lalu dicoba hingga akhirnya melakukan kejahatan tersebut," ungkap Grawas.
Pelaku Gunakan Templat SMS dan Manipulasi Nama Pengirim
Polisi turut mendalami kemungkinan para pelaku sengaja memanfaatkan momentum promosi perbankan maupun platform niaga elektronik atau e-commerce agar SMS palsu terlihat lebih meyakinkan.
Namun, berdasarkan hasil penyelidikan, pelaku diketahui tidak secara khusus memilih atau mengincar momentum promosi tertentu dalam menjalankan aksinya.
Pemeriksaan barang bukti forensik digital menunjukkan pelaku menggunakan pola atau templat pesan yang kurang lebih sama dengan mengatasnamakan sejumlah lembaga keuangan berbeda.
"Kalau dari barang bukti forensik, nama pengirimnya mungkin perbankan A, perbankan B, atau perbankan C, tetapi isinya kurang lebih sama. Pelaku hanya menggunakan templat, jadi tidak secara khusus memanfaatkan momen promosi," kata Grawas.
Modus tersebut juga mengandalkan manipulasi identitas pengirim SMS sehingga pesan yang diterima masyarakat tampak seolah-olah berasal dari lembaga resmi.
Nama pengirim yang terlihat sah membuat masyarakat lebih mudah percaya terhadap isi pesan hingga tautan yang disertakan dalam SMS tersebut.
"Karena nama pengirim tampak valid dan berasal dari lembaga yang sah, banyak masyarakat yang terkecoh dan mengeklik tautan yang ada di dalam SMS tersebut," jelas Grawas.
Mobil Berputar-putar di Rute MRT Picu Kecurigaan Polisi
Aksi kelompok tersebut mulai terendus kepolisian pada 31 Juli 2026 ketika penyidik mencurigai sebuah mobil berwarna perak bernomor polisi B 2755 XXX yang bergerak perlahan dan berputar-putar di sekitar rute MRT Jakarta.
Petugas kemudian menggeledah kendaraan tersebut dan mengamankan pengemudi berinisial GM yang saat itu diketahui sedang mengoperasikan perangkat untuk menyebarkan SMS palsu.
Pengembangan penyidikan mengungkap GM menjalankan kegiatan tersebut berdasarkan arahan tersangka NL.
NL diketahui berperan mencari kendaraan sekaligus pengemudi yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan operasional kelompok tersebut.
Sementara itu, seluruh kegiatan operasional jaringan tersebut diketahui mendapatkan pendanaan dari tersangka AGW.
Lima Tersangka Berbagi Peran dalam Operasi Fake BTS
Pemeriksaan forensik digital selanjutnya membawa penyidik kepada dua tersangka lain, yakni JYI dan AD, yang memiliki peran berbeda dalam menjalankan modus tersebut.
JYI berperan sebagai teknisi yang merakit dan memasang perangkat Fake BTS ke dalam kendaraan yang digunakan selama beroperasi.
AD berperan menentukan isi pesan yang dikirimkan kepada masyarakat sekaligus menentukan jumlah SMS palsu yang akan disebarkan.
Secara keseluruhan, lima tersangka memiliki pembagian peran mulai dari pengemudi dan pencari kendaraan, penyandang dana, teknisi perakit Fake BTS, hingga pihak yang menentukan isi serta jumlah SMS palsu yang disebarkan.
- Penulis :
- Shila Glorya




