HOME  ⁄  Nasional

Skrining Psikososial Pekerja Harus Gunakan Instrumen yang Tervalidasi

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Skrining Psikososial Pekerja Harus Gunakan Instrumen yang Tervalidasi
Foto: Suasana pergelaran seminar bertajuk "Memilih dan Menggunakan Kuesioner Psikososial secara Bertanggung Jawab: Perspektif Validitas, Reliabilitas, dan Implementasi di Tempat Kerja" di Jakarta, pada Rabu (30/9/2026)

Pantau - Skrining psikososial terhadap pekerja perlu menggunakan instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya serta disesuaikan dengan tujuan pemeriksaan dan karakteristik pekerja agar hasil penilaian dapat digunakan secara tepat.

"Instrumen yang digunakan dalam skrining psikososial harus tervalidasi reliabilitasnya. Serta dalam penggunaannya tidak bisa berdiri sendiri dan harus disesuaikan dengan tujuan pemeriksaan serta karakteristik penggunanya," kata Guru Besar dan Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi Konsultan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Dewi S. Soemarko, M.S., Sp.Ok, Subsp.PsiKO (K) dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (4/10/2026).

Dewi menjelaskan skrining psikososial pada pekerja memiliki pendekatan berbeda dibandingkan masyarakat umum karena faktor pemicu stres atau stressor yang dihadapi tidak sama.

Penggunaan kuesioner untuk skrining karena itu harus mempertimbangkan konteks pemeriksaan agar hasil yang diperoleh sesuai dengan tujuan penggunaannya.

Hasil Skrining Bukan Diagnosis

Praktisi Kesehatan Kerja dari SKK Migas dr. Royanul Arief, MM (K3L) mengatakan skrining psikososial di industri minyak dan gas tidak hanya berkaitan dengan kesehatan mental, tetapi juga keselamatan kerja.

Kelelahan mental yang tidak ditangani dan dicegah dapat menimbulkan masalah pada pekerja, menurunkan produktivitas, hingga meningkatkan risiko kecelakaan kerja.

Royanul mengingatkan hasil skrining tidak sama dengan diagnosis sehingga masih membutuhkan penilaian lebih lanjut sebelum diagnosis ditegakkan.

Hasil skrining juga belum dapat langsung digunakan sebagai dasar untuk menentukan kelaikan kerja seorang pekerja.

Pengelolaan risiko psikososial semakin penting pada pekerjaan dengan tuntutan tinggi, sistem kerja shift, lokasi kerja terpencil, paparan risiko operasional, serta pekerjaan yang membutuhkan kesiapan fisik dan mental.

Faktor psikososial di lingkungan kerja dapat berkaitan dengan beban dan tuntutan pekerjaan, hubungan interpersonal, dukungan organisasi, hingga keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi.

Kesehatan Mental Pekerja Berkaitan dengan Produktivitas

Commercial & Partnership Director PT Prodia Widyahusada Indriyanti Rafi Sukmawati menilai kesehatan mental pekerja menjadi bagian penting dalam mendukung produktivitas dan keberlanjutan perusahaan.

"Psikososial di dunia pekerjaan sangat penting karena jika employee-nya healthy not only physycally but also mentally, tentu akan meningkatkan produktivitas. Produktivitas juga akan memperbesar sustainabillity perusahaan," kata Indriyanti.

Pembahasan tersebut disampaikan dalam seminar "Memilih dan Menggunakan Kuesioner Psikososial secara Bertanggung Jawab: Perspektif Validitas, Reliabilitas, dan Implementasi di Tempat Kerja" yang turut menghadirkan psikolog Dwiva Yulia dan dokter spesialis okupasi Iwan Sugiarta.

Kegiatan yang diselenggarakan secara luring dan daring itu merupakan kerja sama Prodia Occupational Health Indonesia, Prodia Widyahusada, FKUI, dan SKK Migas.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026