
Pantau - Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menggelar Pemilihan Ketua OSIS (Pemilos) Serentak 2026 berbasis pemungutan suara elektronik atau e-voting yang melibatkan 29.493 siswa dari 90 sekolah sebagai sarana pendidikan demokrasi dan politik bagi calon pemilih pemula.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis (8/10/2026) mulai pukul 08.00 hingga 13.00 WIB di sekolah-sekolah peserta.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Kulon Progo, Pratiwi Ngasaratun, mengatakan Pemilos dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada pelajar mengenai proses pemilihan umum.
“Hal ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai demokrasi Pancasila, memberikan pembelajaran mengenai tahapan pemilihan umum, serta menjadi media pendidikan politik bagi para calon pemilih pemula,” kata Pratiwi di Kulon Progo, Kamis (8/10/2026).
Pemilos 2026 Diikuti 90 Sekolah dan 29.493 Pemilih
Pratiwi menjelaskan bahwa jumlah sekolah dan siswa yang mengikuti Pemilos Serentak 2026 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada 2025, kegiatan tersebut diikuti 81 sekolah dengan jumlah pemilih sebanyak 25.956 siswa.
Sementara pada 2026, jumlah peserta bertambah menjadi 90 sekolah dengan 29.493 siswa yang memiliki hak suara.
Sebanyak 90 sekolah peserta terdiri atas:
- 45 sekolah menengah pertama (SMP).
- 23 sekolah menengah atas dan sekolah menengah kejuruan (SMA/SMK).
- 22 madrasah tsanawiyah dan madrasah aliyah (MTs/MA).
Peningkatan tersebut menunjukkan bertambahnya keterlibatan sekolah dan pelajar dalam kegiatan pendidikan demokrasi di Kulon Progo.
Pratiwi mengatakan sebagian siswa yang saat ini menjadi panitia maupun pemilih berpotensi menggunakan hak suara dalam pemilihan umum pada 2029.
“Jadi, yang hari ini menjadi panitia maupun pemilih, insyaallah nanti pada 2029 tentu sudah akan menjadi pemilih pemula,” ujar Pratiwi saat membuka Pemilos serentak di SMA Negeri 2 Wates.
Pemungutan Suara Elektronik Dibuat Menyerupai Pemilu
Pelaksanaan Pemilos Serentak 2026 dirancang menyerupai tahapan pemilihan umum agar siswa memahami proses demokrasi secara langsung.
Siswa yang memiliki hak suara terlebih dahulu melakukan registrasi sebelum menunggu panggilan menuju bilik suara.
Setelah dipanggil, pemilih memasuki bilik yang telah dilengkapi komputer untuk mengakses aplikasi pemungutan suara elektronik.
Melalui aplikasi tersebut, siswa memilih calon ketua OSIS sesuai pilihannya.
Setelah memberikan suara, pemilih diarahkan menuju tempat pencelupan tinta sebagai tanda telah menggunakan hak pilih.
Panitia juga menyiapkan pemungutan suara susulan pada 12 Oktober 2026 bagi sekolah yang mengalami kendala teknis.
Pratiwi menyebut Pemilos berbasis pemungutan suara elektronik di Kulon Progo sebagai satu-satunya program serupa di Daerah Istimewa Yogyakarta.
KPU dan Bawaslu Terlibat Awasi Pemilos
Pemilos Serentak 2026 dikoordinasikan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Kulon Progo dengan melibatkan sejumlah instansi.
Lembaga yang terlibat antara lain KPU Kabupaten Kulon Progo, Bawaslu, Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga, Balai Pendidikan Menengah, serta Kantor Wilayah Kementerian Agama.
Pada pelaksanaan tahun ini, panitia juga menambah jumlah pengawas di setiap sekolah.
Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat integritas dan transparansi proses pemungutan suara.
Hasil pemilihan nantinya ditetapkan oleh Panitia Pemilihan Organisasi (PPO) sebelum diusulkan untuk penerbitan surat keputusan kepala sekolah.
“Hasil pemilihan akan ditetapkan oleh Panitia Pemilihan Organisasi (PPO) dan diusulkan untuk SK kepala sekolah. Puncaknya, pengukuhan seluruh Ketua OSIS terpilih akan digelar serentak pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda,” tambahnya.
Bupati Ingatkan Calon Ketua OSIS Utamakan Integritas
Bupati Kulon Progo Agung Setyawan menilai Pemilos merupakan sarana pembelajaran bagi pelajar untuk menentukan pilihan dan menghargai perbedaan pendapat.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga melatih siswa menjalankan tanggung jawab dalam proses demokrasi.
Agung mengingatkan para calon ketua OSIS agar tidak menjadikan popularitas sebagai ukuran utama untuk mendapatkan dukungan.
“Untuk calon Ketua OSIS, kepemimpinan bukan soal popularitas atau banyaknya dukungan, melainkan tentang integritas, keteladanan, keberanian mengambil tanggung jawab, dan kesediaan melayani,” ujarnya.
Ia juga meminta para siswa menggunakan hak pilih secara bijaksana dengan mempertimbangkan gagasan dan kemampuan calon pemimpin.
Agung menekankan bahwa pilihan tidak seharusnya hanya didasarkan pada hubungan pertemanan atau ajakan sesaat.
Menurutnya, siswa yang terpilih harus memandang kemenangan sebagai amanah untuk bekerja keras, sedangkan siswa yang belum terpilih tetap dapat berkontribusi dalam kegiatan sekolah.
KPU DIY Apresiasi Inovasi Pemilos Digital Kulon Progo
Ketua KPU Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Surani, mengapresiasi penerapan teknologi pemungutan suara elektronik dalam Pemilos Serentak Kulon Progo.
Menurutnya, penggunaan teknologi digital dapat membantu generasi muda memahami proses pergantian kepemimpinan yang jujur, adil, dan transparan.
“Kulon Progo membuat inovasi e-voting yang memfasilitasi proses pembelajaran bagi anak-anak kita. Digitalisasi ini penting untuk membantu proses demokrasi agar terus bergerak, sekaligus menjaga integritas secara cepat dan tepat,” tutur Sri Surani.
Salah seorang siswa kelas X SMA Negeri 2 Wates, Ahmad Tirta Kawindra, mengaku senang karena dapat mempelajari tahapan pemilu melalui kegiatan tersebut.
“Cukup senang, ya, kita jadi bisa belajar tentang bagaimana tahapan pemilu lewat Pemilos ini. Saya sendiri karena belum pernah memilih di pemilu jadi tahu gambarannya besok seperti apa kalau mau menyalurkan hak suara,” ucap Ahmad.
Pemerintah Kabupaten Kulon Progo berharap kerja sama antarinstansi dapat terus diperkuat agar tingkat partisipasi sekolah dalam Pemilos berbasis pemungutan suara elektronik mendekati 100 persen pada masa mendatang.
- Penulis :
- Aditya Yohan




