HOME  ⁄  Nasional

Menaker Yassierli Dorong Kolaborasi Industri dan Kampus untuk Atasi Kesenjangan Kompetensi Tenaga Kerja Indonesia

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Menaker Yassierli Dorong Kolaborasi Industri dan Kampus untuk Atasi Kesenjangan Kompetensi Tenaga Kerja Indonesia
Foto: Dokumentasi - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli saat membuka Temu Mitra Ketenagakerjaan bertajuk “Mewujudkan Pasar Kerja Inklusif: Mempromosikan Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas” di Bekasi, Jawa Barat, Kamis 1/10/2026 (sumber: Kemnaker RI)

Pantau - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia industri, asosiasi profesi, dan perguruan tinggi untuk mengatasi kesenjangan kompetensi tenaga kerja Indonesia agar lulusan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Yassierli menilai kerja sama berbagai pihak menjadi langkah penting dalam menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, tersertifikasi, dan mampu bersaing di tengah perkembangan teknologi serta perubahan kebutuhan dunia kerja.

"Kesenjangan antara kebutuhan industri dan keterampilan lulusan hanya bisa dijembatani lewat kolaborasi nyata," kata Yassierli di Jakarta, Kamis.

Menurut Menaker, masih terdapat kesenjangan antara kemampuan yang diperoleh lulusan selama menempuh pendidikan dan keterampilan yang dibutuhkan perusahaan maupun sektor industri.

Karena itu, keterlibatan aktif pemerintah, industri, asosiasi profesi, dan kalangan akademisi diperlukan untuk memperkuat sistem pendidikan, pelatihan, serta sertifikasi kompetensi tenaga kerja.

Menaker Apresiasi Kerja Sama Panasonic, APITU, dan UNSADA untuk Tingkatkan Kompetensi SDM

Sebagai contoh kolaborasi tersebut, Yassierli mengapresiasi penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) Tripartit antara PT Panasonic Gobel Indonesia, APITU Indonesia, dan Universitas Darma Persada (UNSADA).

Penandatanganan kerja sama tiga pihak itu berlangsung dalam rangkaian Seminar Nasional HVAC-R 2026 yang membahas pengembangan kompetensi tenaga kerja di bidang teknik pendingin dan tata udara.

Seminar tersebut mengusung tema "Membangun Masa Depan Smart & Green Building: Sinergi Industri, Akademisi, dan Profesional dalam Membangun SDM Kompeten dan Berdaya Saing".

Kegiatan ini diselenggarakan untuk merespons kebutuhan peningkatan kualitas tenaga kerja teknik seiring pesatnya perkembangan teknologi Heating, Ventilation, Air Conditioning, and Refrigeration (HVAC-R).

Teknologi HVAC-R mencakup sistem pemanasan, ventilasi, pengondisian udara, dan refrigerasi yang digunakan dalam berbagai kebutuhan bangunan maupun sektor industri.

Melalui kerja sama tersebut, ketiga pihak sepakat membangun ekosistem pendidikan dan industri dengan pendekatan link and match untuk menyelaraskan kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.

Ruang lingkup kemitraan mencakup peningkatan keterampilan atau upskilling, pengembangan riset, program magang industri, sertifikasi profesi, serta dukungan terhadap penyerapan tenaga kerja di bidang teknik.

Dalam kerja sama ini, UNSADA berperan menyiapkan lulusan sarjana teknik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri.

APITU Indonesia bertugas mendorong penerapan standar kompetensi kerja serta meningkatkan profesionalisme teknisi pendingin dan tata udara.

Sementara itu, PT Panasonic Gobel Indonesia berperan menyediakan dukungan transfer teknologi industri untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan mahasiswa maupun tenaga teknis.

"Kemitraan tripartit seperti ini adalah contoh konkret link and match, di mana industri, asosiasi profesi, dan kampus bergerak bersama bersama mencetak tenaga kerja yang kompeten, tersertifikasi, dan siap bersaing," ujar Menaker Yassierli.

Kebutuhan Teknisi HVAC-R Meningkat Seiring Perkembangan Gedung Pintar dan Industri

Yassierli juga menyoroti besarnya peluang kerja di sektor pendingin dan tata udara seiring meningkatnya kebutuhan teknologi HVAC-R dalam berbagai bidang industri.

Menurutnya, kebutuhan tenaga teknisi di sektor tersebut diperkirakan terus berkembang, terutama untuk mendukung pembangunan gedung pintar atau smart building dan bangunan ramah lingkungan atau green building.

Selain digunakan pada sektor bangunan, teknologi HVAC-R memiliki peran penting dalam sistem rantai dingin atau cold chain yang dibutuhkan untuk menjaga kualitas produk pangan dan mendukung kegiatan logistik.

Perkembangan tersebut membuka peluang kerja bagi lulusan teknik yang memiliki kemampuan mengoperasikan, merawat, dan memahami teknologi pendingin serta tata udara.

"Ini peluang yang harus kita siapkan SDM-nya sejak di bangku kuliah," kata Yassierli.

Menaker menekankan bahwa persiapan tenaga kerja untuk menghadapi perkembangan teknologi harus dilakukan sejak masa pendidikan agar lulusan memiliki keterampilan yang relevan ketika memasuki dunia industri.

UNSADA dan Panasonic Siapkan Pusat Pelatihan Teknologi Pendingin dan Tata Udara

Rektor Universitas Darma Persada, Agus Salim Sadikin, menyambut positif kerja sama dengan Panasonic Gobel Indonesia dan APITU karena dinilai dapat meningkatkan kualitas pembelajaran serta kesiapan kerja mahasiswa.

Agus menjelaskan bahwa kehadiran Training Center Panasonic akan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempelajari teknologi dan standar yang digunakan secara langsung dalam dunia industri.

Fasilitas tersebut diharapkan mampu menjembatani pembelajaran teori di perguruan tinggi dengan keterampilan praktik yang dibutuhkan di lapangan.

"Bagi UNSADA, kerja sama ini membuka akses bagi mahasiswa untuk belajar langsung dengan teknologi dan standar industri. Kami ingin lulusan kami tidak hanya kuat secara teori, misalnya memahami siklus refrigerasi dan perhitungan beban pendinginan, tetapi juga terampil di lapangan dan siap bekerja maupun berwirausaha," kata Agus Salim Sadikin.

Menurut Agus, penguasaan teori mengenai siklus refrigerasi dan perhitungan beban pendinginan tetap menjadi bagian penting dalam pendidikan teknik, tetapi harus dilengkapi kemampuan praktik yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Melalui kerja sama tersebut, UNSADA berharap dapat menghasilkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja sekaligus memiliki kemampuan mengembangkan usaha mandiri di bidang teknik pendingin dan tata udara.

Sementara itu, M. Arif Rachmat Gobel dari PT Panasonic Gobel Indonesia menyatakan bahwa pengembangan Training Center Panasonic merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas SDM nasional.

Menurutnya, teknologi tata udara terus berkembang menuju sistem yang semakin hemat energi dan ramah lingkungan sehingga mahasiswa maupun teknisi perlu memperbarui pengetahuan serta keterampilan.

"Melalui Training Center ini, kami ingin mahasiswa dan teknisi mendapatkan pengetahuan produk dan teknologi terkini, sehingga Indonesia memiliki tenaga ahli yang siap mendukung pembangunan smart and green building," ujarnya.

Pusat pelatihan tersebut diharapkan menjadi sarana transfer pengetahuan mengenai produk, teknologi, serta penerapan sistem pendingin dan tata udara yang mengikuti perkembangan industri.

APITU Dorong Sertifikasi Profesi dan Penerapan Standar Keselamatan Teknisi

Ketua Umum APITU Indonesia, Agus Susilo, menegaskan pentingnya penerapan standar kompetensi dalam pengembangan profesi teknisi pendingin dan tata udara.

Menurut Agus, pekerjaan di bidang HVAC-R membutuhkan keterampilan teknis yang memadai sekaligus pemahaman terhadap standar keselamatan kerja.

Karena itu, sertifikasi profesi menjadi salah satu aspek penting untuk memastikan mahasiswa maupun teknisi memiliki kemampuan yang sesuai dengan standar pekerjaan.

Melalui kemitraan dengan UNSADA dan Panasonic Gobel Indonesia, APITU menyatakan kesiapan untuk berbagi pengalaman praktik lapangan serta membuka akses terhadap jaringan profesional di sektor pendingin dan tata udara.

APITU juga akan mendukung proses sertifikasi kompetensi agar mahasiswa dan tenaga teknis mampu mengikuti perkembangan teknologi, regulasi, serta standar mutu industri.

"Lewat kemitraan ini, para praktisi APITU siap berbagi pengalaman lapangan, membuka jejaring profesional, dan mendukung sertifikasi agar mahasiswa maupun teknisi mampu menjawab perkembangan teknologi dan regulasi, termasuk mutu rantai dingin," kata Agus Susilo.

Kerja sama antara UNSADA, APITU Indonesia, dan Panasonic Gobel Indonesia diharapkan dapat memperkuat hubungan antara pendidikan tinggi, asosiasi profesi, dan dunia industri dalam pengembangan tenaga kerja teknik nasional.

Kolaborasi tersebut juga diarahkan untuk memperkecil kesenjangan kompetensi lulusan melalui peningkatan keterampilan, pengalaman praktik, transfer teknologi, serta sertifikasi profesi.

Menaker Yassierli menekankan bahwa pengembangan SDM Indonesia membutuhkan kerja sama nyata berbagai pihak agar tenaga kerja tidak hanya memiliki pengetahuan akademis, tetapi juga keterampilan profesional, kompetensi terstandar, dan kesiapan menghadapi persaingan dunia kerja.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026