HOME  ⁄  Nasional

Kapten Kapal MT Hanour 25 Ashari Samadikun Masih Trauma Usai Disandera Perompak Somalia Selama Lima Bulan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Kapten Kapal MT Hanour 25 Ashari Samadikun Masih Trauma Usai Disandera Perompak Somalia Selama Lima Bulan
Foto: (Sumber :Korban sandera perompak Somalia Kapten Kapal MT Hanour 25 Ashari Samadikun (kiri) bersama orang tuanya Syamsuddin Dg Awing (kanan) didampingi Siti Aminah (tengah) saat berada dikediamannya Dusun Moncongloe, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (8/10/2026). ANTARA/Darwin Fatir.)

Pantau - Kapten Kapal MT Hanour 25, Ashari Samadikun, mengaku masih mengalami trauma setelah menjadi korban penyanderaan perompak Somalia selama lima bulan, meski kini telah selamat dan kembali berkumpul bersama keluarganya di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Ashari mengaku belum dapat memastikan kapan akan kembali berlayar karena masih terbayang peristiwa penyanderaan yang menyebabkan dua anak buah kapalnya meninggal dunia.

"Saya bisa pending dulu (pertimbangkan berlayar). Masih memperbaiki (perasaan), karena sampai sekarang saya belum bisa (memutuskan). Saya masih terpikirkan keluarga kru saya, terbayang-bayang kru saya, karena saya lihat dengan mata kepala (ditembak)," tutur Ashari di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (8/10/2026).

Ashari merupakan salah satu korban penyanderaan yang berhasil dipulangkan pemerintah setelah ditawan perompak Somalia sejak 21 April hingga dibebaskan pada 29 September 2026.

Ashari Terpukul Setelah Dua Anak Buah Kapalnya Meninggal

Ashari mengungkapkan bahwa pengalaman paling menyakitkan selama penyanderaan adalah kehilangan dua anak buah kapal yang tidak berhasil pulang bersama kru lainnya.

"Itu yang saya sangat sedih. Semoga kita semua bisa pulang dengan selamat. Tapi Allah SWT berkehendak. Ada dua kru saya tidak bisa pulang, itu yang buat saya sampai sekarang masih terpukul," tuturnya.

Ia bahkan masih mengingat saat salah seorang kru yang bertugas sebagai koki meminta pertolongan sebelum meninggal dunia.

Sebagai kapten, Ashari berupaya memberikan pertolongan sekaligus menyemangati anak buahnya agar tetap bertahan dalam kondisi yang semakin sulit.

Selama penyanderaan, sebanyak 17 kru kapal menghadapi tekanan mental akibat keterbatasan makanan, air minum, serta terputusnya komunikasi dengan dunia luar.

"Selama lima bulan, kami berada di atas kapal itu. Tertekan, terutama mental. Kami putus asa itu di bulan ketiga. Di bulan itu tidak ada lagi telepon, tidak ada lagi komunikasi sama sekali. Makanan sudah habis, alat generator sudah rusak semua, (peralatan) mati," ucapnya.

Situasi semakin memburuk ketika mesin produksi air tawar mengalami kerusakan sehingga para sandera kesulitan memperoleh kebutuhan dasar selama berada di kapal.

Meski beberapa kali mengalami kendala dalam memperbaiki mesin, Ashari bersama kru terus berusaha mencari cara agar peralatan tersebut kembali berfungsi.

"Tapi alhamdulillah, kami berdoa, kami cari jalan, Alhamdulillah ada jalan (mesin menyala)," ujarnya.

Komunikasi Terputus, Ashari Terus Menguatkan Kru Kapal

Saat ditemui wartawan di kediamannya di Dusun Moncongloe, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Ashari menceritakan penderitaan para kru yang tidak dapat berkomunikasi dengan keluarga selama penyanderaan.

Menurutnya, perompak hanya memberikan kesempatan kepada dirinya untuk melakukan panggilan video sebagai sarana menyampaikan informasi kepada keluarga dan pihak luar bahwa para sandera masih hidup.

Sementara itu, kru lainnya tidak memperoleh akses komunikasi melalui telepon maupun panggilan video kepada keluarga masing-masing.

Kondisi tersebut semakin memperberat tekanan psikologis para sandera, terutama ketika persediaan makanan dan minuman semakin menipis.

"Semangatlah yang bisa tenangkan kami. Karena, kami pikir tebusannya bukan uang sedikit. Sempat memang tidak ada komunikasi dari pemerintah, dari NGO-nya Pakistan. Hidup kami di kapal kritis, makanan dan minuman sudah kritis," ungkapnya.

Ashari mengaku sempat merasa bahwa dirinya bersama para kru tidak akan mampu bertahan hidup dalam penyanderaan tersebut.

Namun, sebagai pemimpin kapal, ia memilih menyembunyikan kekhawatiran itu dan terus meyakinkan anak buahnya bahwa mereka akan kembali kepada keluarga.

"Saya merasa mungkin sampai di sini hidup kami. Mungkin sampai di sini perjuangan kami. Cuma saya tidak berani bilang sama anggota. Saya yakinkan, Insyaallah kita pulang. Makanya di situ beratnya, ketika ada yang meninggal. Tapi karena kita saling menguatkan dan pasrah hanya kepada Allah," ucapnya lagi.

Perompak Somalia Awalnya Meminta Tebusan 7 Juta Dolar AS

Selain menghadapi tekanan mental dan keterbatasan kebutuhan hidup, Ashari mengungkapkan bahwa perompak Somalia sempat meminta uang tebusan sebesar 7 juta dolar Amerika Serikat untuk membebaskan para sandera.

Menurut Ashari, nilai tersebut sangat besar dan sulit dipenuhi dalam waktu singkat sehingga dirinya berusaha bernegosiasi dengan para pembajak.

"Saya sempat bertengkar, berargumen sama mereka, saya bilang itu mustahil. Saya jelaskan, kapal ini cuma muat segini minyaknya, harga minyak segini, harga kapal segini, itu tidak logis, tidak bakal ada yang bisa kau dibayar. Biar satu tahun, tiga tahun tidak bakalan dibayar," katanya menirukan.

Ashari yang juga berperan sebagai penerjemah berusaha menjelaskan kepada perompak bahwa nilai tebusan tersebut tidak sebanding dengan kemampuan pihak yang diharapkan membayarnya.

Melalui proses negosiasi, permintaan tebusan akhirnya turun secara bertahap dari 7 juta dolar AS menjadi 4 juta dolar AS, kemudian 3 juta dolar AS, 2 juta dolar AS, hingga mencapai 1,5 juta dolar AS.

Meski demikian, Ashari mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah nilai tebusan terakhir tersebut telah dibayarkan maupun pihak yang bertanggung jawab atas pembayarannya.

"Alhamdulillah mereka mengerti, mereka paham. Sampai diturunkan habis 1,5 juta dolar. Tapi saya tidak tahu pihak negara mana penuhi atau tidak, karena ada dua orang dikirim. Pertama itu namanya Leslie dari Inggris bagian negosiasi masalah uang. Dan satu lainnya menyediakan medical assistance sama makanan," katanya menambahkan.

Setelah dibebaskan pada 29 September 2026 dan berhasil kembali ke Indonesia, Ashari kini memilih memulihkan kondisi mentalnya bersama keluarga sebelum mempertimbangkan kembali pekerjaannya sebagai pelaut.

Pengalaman kehilangan dua anak buah kapal selama penyanderaan masih menjadi beban psikologis yang dirasakannya meskipun telah kembali ke rumah dengan selamat.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026