HOME  ⁄  Nasional

AirNav Indonesia Sukses Terapkan Rute Penerbangan Fleksibel, Hemat Biaya Bahan Bakar dan Kurangi Emisi Karbon

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

AirNav Indonesia Sukses Terapkan Rute Penerbangan Fleksibel, Hemat Biaya Bahan Bakar dan Kurangi Emisi Karbon
Foto: Direktur Operasi AirNav Indonesia Setio Anggoro dalam forum ICAO Air Navigation World – Air Traffic Flow Management (ATFM) 2026, yang digelar di markas ICAO, Montreal, Kanada, Jumat 9/10/2026 (sumber: Airnav Indonesia)

Pantau - AirNav Indonesia mencatat keberhasilan penerapan sistem Free Route Operation (FRTO) yang mampu menghemat biaya bahan bakar maskapai penerbangan sebesar 8,04 juta dolar Amerika Serikat (AS) serta menghindari emisi karbon dioksida (CO2) sebanyak 5.426 ton sepanjang 2025.

Keberhasilan tersebut dipaparkan AirNav Indonesia dalam forum internasional ICAO Air Navigation World – Air Traffic Flow Management (ATFM) 2026 yang berlangsung di markas besar International Civil Aviation Organization (ICAO), Montreal, Kanada.

Direktur Operasi AirNav Indonesia, Setio Anggoro, mengatakan penerapan FRTO memberikan fleksibilitas kepada maskapai penerbangan untuk menentukan lintasan terbang sesuai kondisi dan kebutuhan operasional tanpa mengabaikan aspek keselamatan.

"FRTO memberi keleluasaan kepada maskapai untuk memilih lintasan penerbangan berdasarkan kondisi dan kebutuhan operasional. Tantangannya adalah memastikan kebebasan memilih lintasan tersebut tetap didukung sistem, prosedur, dan kompetensi personel yang memadai," ujar Direktur Operasi AirNav Indonesia Setio Anggoro dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Menurut Setio, penerapan sistem tersebut menjadi bagian dari modernisasi navigasi penerbangan Indonesia untuk meningkatkan efisiensi operasional maskapai sekaligus mendukung pengurangan dampak lingkungan dari sektor transportasi udara.

AirNav Indonesia Terapkan Sistem FRTO Sejak 2023

Setio menjelaskan bahwa pengembangan FRTO di Indonesia bermula pada 2020 ketika pandemi COVID-19 menyebabkan penurunan drastis pergerakan lalu lintas udara akibat pembatasan aktivitas penerbangan.

Kondisi tersebut dimanfaatkan AirNav Indonesia sebagai momentum untuk mengembangkan dan menguji konsep pengelolaan lintasan penerbangan yang lebih fleksibel.

Pengembangan sistem tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut atas permintaan International Air Transport Association (IATA) yang mendorong pengujian konsep User Preferred Route (UPR).

Dalam proses pengujiannya, AirNav Indonesia berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara serta melibatkan Indonesia Air Traffic Controllers Association (IATCA).

Koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan sistem, prosedur operasional, serta kemampuan personel dalam menghadapi perubahan pola lintasan penerbangan.

Sebelum diterapkan secara penuh, konsep FRTO menjalani sejumlah tahapan uji coba dan penilaian risiko keselamatan untuk memastikan operasional penerbangan tetap berjalan aman.

Setelah melalui proses pengujian dan evaluasi, FRTO resmi diberlakukan secara penuh di wilayah Flight Information Region (FIR) Jakarta dan FIR Ujung Pandang pada 5 Oktober 2023.

Penerapan tersebut mencakup ruang udara pada tingkat penerbangan FL330 hingga FL600 atau sekitar 33.000 sampai 60.000 kaki berdasarkan tingkat penerbangan standar.

Kelola Wilayah Udara 7,79 Juta Kilometer Persegi, AirNav Hadapi Tantangan Geografis

Setio mengungkapkan bahwa penerapan FRTO di Indonesia memiliki tantangan tersendiri karena karakteristik geografis negara kepulauan yang berbeda dibandingkan dengan sejumlah negara lainnya.

AirNav Indonesia bertanggung jawab mengelola wilayah udara seluas sekitar 7,79 juta kilometer persegi yang membentang di kawasan dengan lebih dari 17.000 pulau.

Luasnya wilayah pengelolaan tersebut menuntut sistem navigasi penerbangan yang mampu mengakomodasi berbagai pola pergerakan pesawat sekaligus mempertahankan standar keselamatan.

Selain menghadapi tantangan geografis, AirNav Indonesia juga harus melakukan koordinasi dengan 10 FIR negara tetangga untuk memastikan kelancaran penerbangan lintas batas.

Koordinasi tersebut menjadi penting karena penerapan FRTO memungkinkan maskapai memilih lintasan penerbangan yang melintasi wilayah pengelolaan lalu lintas udara berbeda.

Menurut Setio, penggunaan rute yang lebih fleksibel membuat pola potensi konflik antarpesawat menjadi semakin dinamis dibandingkan dengan penerbangan yang menggunakan lintasan tetap.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, AirNav Indonesia memperkuat dukungan sistem otomasi dalam pengelolaan lalu lintas udara serta meningkatkan kompetensi para pemandu lalu lintas udara.

"Standar separasi, koordinasi, dan prosedur keselamatan tetap menjadi bagian dari operasional," katanya.

Setio menegaskan bahwa fleksibilitas pemilihan lintasan tidak menghilangkan kewajiban menjaga jarak aman antarpesawat maupun mematuhi seluruh prosedur keselamatan penerbangan.

Penggunaan FRTO Melonjak 82 Persen pada 2025

AirNav Indonesia mencatat peningkatan signifikan jumlah penerbangan yang memanfaatkan fasilitas FRTO di wilayah FIR Jakarta dan FIR Ujung Pandang.

Berdasarkan data perusahaan, sebanyak 10.578 penerbangan telah menggunakan fasilitas FRTO sepanjang periode 2020 hingga 2025.

Pada 2024, jumlah penerbangan yang memanfaatkan sistem tersebut tercatat sebanyak 2.770 penerbangan.

Angka tersebut meningkat menjadi 5.030 penerbangan sepanjang 2025 atau tumbuh sekitar 82 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Peningkatan tersebut menunjukkan semakin luasnya pemanfaatan lintasan penerbangan fleksibel oleh maskapai untuk mendukung efisiensi kegiatan operasional.

Melalui sistem FRTO, maskapai memiliki keleluasaan menentukan rute penerbangan yang lebih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan operasional masing-masing.

Pemilihan lintasan yang lebih optimal memungkinkan pesawat menempuh jarak lebih pendek sekaligus mengurangi waktu penerbangan.

Efisiensi tersebut berdampak pada berkurangnya konsumsi bahan bakar pesawat sehingga biaya operasional maskapai dapat ditekan.

AirNav Hemat 8,04 Juta Dolar AS dan Hindari Emisi 5.426 Ton CO2

Selain meningkatkan fleksibilitas operasional, penerapan FRTO memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi industri penerbangan nasional.

Berdasarkan perhitungan AirNav Indonesia, penggunaan sistem FRTO sepanjang 2025 menghasilkan penghematan biaya bahan bakar maskapai sebesar 8,04 juta dolar AS.

Penghematan tersebut diperoleh melalui efisiensi lintasan penerbangan yang memungkinkan pesawat memilih rute lebih pendek sesuai kondisi operasional.

Pengurangan jarak tempuh dan waktu penerbangan turut menekan kebutuhan bahan bakar yang digunakan selama perjalanan.

Selain memberikan keuntungan ekonomi, penerapan FRTO juga berkontribusi terhadap upaya pengurangan dampak lingkungan dari aktivitas penerbangan.

AirNav Indonesia mencatat bahwa penggunaan sistem tersebut sepanjang 2025 berhasil menghindari emisi karbon dioksida sebesar 5.426 ton.

Pengurangan emisi tersebut berkaitan dengan efisiensi konsumsi bahan bakar yang dihasilkan melalui pemilihan lintasan penerbangan lebih optimal.

Dengan demikian, penerapan FRTO memberikan manfaat ganda berupa penghematan biaya operasional maskapai sekaligus mendukung pengurangan emisi karbon dari sektor penerbangan.

AirNav Perluas Kerja Sama FRTO dengan Negara Tetangga

AirNav Indonesia juga terus memperluas penerapan FRTO melalui kerja sama lintas FIR dengan sejumlah negara untuk mendukung kelancaran penerbangan internasional.

Salah satu capaian penting dalam pengembangan sistem tersebut adalah pelaksanaan operasi penuh FRTO bersama FIR Oakland pada Maret 2023.

Kerja sama kemudian berlanjut dengan penerapan operasi FRTO bersama FIR Port Moresby pada Juni 2024.

Pada Juli 2025, AirNav Indonesia kembali mencatat perkembangan melalui pelaksanaan operasi penuh FRTO antara Indonesia dan Australia.

Rangkaian kerja sama tersebut menunjukkan bahwa penerapan sistem navigasi penerbangan fleksibel tidak hanya berlangsung di wilayah udara domestik, tetapi juga telah diperluas untuk mendukung konektivitas penerbangan lintas negara.

Perluasan penerapan FRTO dilakukan melalui koordinasi antarotoritas navigasi penerbangan serta penyesuaian prosedur operasional agar pengelolaan lintasan dapat berlangsung secara berkesinambungan.

Kolaborasi internasional tersebut menjadi bagian dari upaya AirNav Indonesia memperkuat sistem navigasi penerbangan yang lebih efisien dengan tetap mempertahankan standar keselamatan.

AirNav Siapkan Pengembangan Sistem Navigasi Penerbangan Masa Depan

Setio menjelaskan bahwa pengembangan FRTO akan terus dilanjutkan sebagai bagian dari modernisasi sistem navigasi penerbangan Indonesia.

Ke depan, sistem tersebut diproyeksikan menjadi salah satu fondasi pengembangan konsep Trajectory-Based Operations (TBO), yakni pendekatan pengelolaan lalu lintas udara berdasarkan lintasan atau trajektori penerbangan.

Pengembangan TBO diharapkan mampu mendukung pengelolaan pergerakan pesawat yang lebih terencana, terintegrasi, dan sesuai dengan kebutuhan operasional penerbangan.

Selain memperkuat sistem dan prosedur, AirNav Indonesia juga menyelaraskan peningkatan kompetensi pemandu lalu lintas udara dengan program ICAO APAC Project 30/10.

Penyelarasan tersebut dilakukan untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu mengikuti perkembangan teknologi serta modernisasi layanan navigasi penerbangan.

"Ke depan, FRTO menjadi salah satu fondasi pengembangan Trajectory-Based Operations (TBO). AirNav juga menyelaraskan pengembangan kompetensi pemandu lalu lintas udara dengan ICAO APAC Project 30/10 sebagai bagian dari modernisasi layanan navigasi penerbangan," ujar Setio.

Melalui pemaparan dalam forum ICAO ATFM 2026 di Montreal, AirNav Indonesia membagikan pengalaman penerapan sistem FRTO di wilayah udara kepulauan yang memiliki tantangan geografis, operasional, dan koordinasi internasional.

Dengan capaian 10.578 penerbangan pengguna sepanjang 2020–2025, pertumbuhan pemanfaatan sebesar 82 persen pada 2025, penghematan bahan bakar senilai 8,04 juta dolar AS, serta penghindaran emisi CO2 sebanyak 5.426 ton, AirNav Indonesia terus mengembangkan layanan navigasi penerbangan yang lebih efisien dan berorientasi pada keselamatan.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026