HOME  ⁄  Nasional

Survei UI Ungkap 94 Persen Warga Ingin Tetap Tinggal di Rempang Eco-City, Namun 42 Persen Belum Bekerja

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Survei UI Ungkap 94 Persen Warga Ingin Tetap Tinggal di Rempang Eco-City, Namun 42 Persen Belum Bekerja
Foto: Ketua Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (UI) Kawasan Transmigrasi Barelang Vishnu Juwono memberikan keterangan kepada wartawan saat Festival Transmigrasi 2026 di Tanjung Banon, Pulau Rempang, Batam, Kepulauan Riau, Sabtu 10/10/2026 (sumber: ANTARA/Aria Ananda)

Pantau - Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Indonesia (UI) mengungkapkan sebanyak 94 persen responden survei di kawasan transmigrasi Rempang Eco-City, Kota Batam, Kepulauan Riau, berencana tetap menetap meskipun persoalan lapangan pekerjaan dan tingkat pendapatan masih menjadi tantangan bagi masyarakat.

Temuan tersebut diperoleh melalui survei terhadap 172 kepala keluarga (KK) yang dilakukan pada Agustus hingga September 2026 dengan metode wawancara langsung dari rumah ke rumah.

Ketua Tim Ekspedisi Patriot UI Kawasan Transmigrasi Barelang (Batam-Rempang-Galang), Vishnu Juwono, menyampaikan hasil survei tersebut dalam kegiatan Festival Transmigrasi 2026 di Tanjung Banon, Pulau Rempang, Batam, Sabtu (10/10/2026).

"Sebanyak 94 persen mereka berencana tetap tinggal," kata Vishnu dalam kegiatan tersebut.

Selain mengukur keinginan warga untuk menetap, survei tersebut juga meneliti tingkat kenyamanan, keamanan, manfaat program pembinaan, kondisi ekonomi, serta kebutuhan masyarakat setelah menempati kawasan permukiman baru.

Hasil survei menunjukkan sebanyak 87 persen responden merasa nyaman dan aman selama tinggal di Rempang Eco-City, sedangkan 83 persen menyatakan program pembinaan yang diberikan telah membawa manfaat bagi kehidupan mereka.

Dari sisi ekonomi, sebanyak 64 persen responden mengaku kondisi ekonomi keluarga menjadi lebih baik setelah menempati kawasan transmigrasi tersebut.

Sebanyak 42 Persen Responden Belum Bekerja dan 40 Persen Berpenghasilan di Bawah Rp1,5 Juta

Meskipun mayoritas responden menyampaikan penilaian positif terhadap kondisi permukiman, Tim Ekspedisi Patriot UI menemukan sejumlah tantangan dalam meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat Rempang Eco-City.

Berdasarkan hasil survei, sebanyak 42 persen responden tercatat tidak bekerja sehingga ketersediaan lapangan pekerjaan masih menjadi persoalan yang perlu mendapatkan perhatian.

Survei tersebut juga menunjukkan sebanyak 40 persen responden memiliki pendapatan di bawah Rp1,5 juta.

Vishnu menilai temuan tersebut perlu menjadi dasar bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menyusun program pendampingan ekonomi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan pengembangan kawasan transmigrasi tidak cukup hanya diukur melalui penyediaan rumah dan fasilitas permukiman, tetapi juga kemampuan masyarakat memperoleh pekerjaan serta penghasilan yang berkelanjutan.

Ia menekankan pentingnya mempersiapkan masyarakat agar mampu memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri dan tidak terus bergantung pada bantuan pemerintah.

"Kita mau memastikan bahwa nanti pada saat ada perubahan kebijakan, mereka jadi tidak terlalu tergantung lagi pada bantuan pemerintah," ujar Vishnu.

Program penguatan ekonomi dinilai perlu diarahkan pada penciptaan lapangan pekerjaan dan pengembangan sumber pendapatan agar masyarakat dapat mempertahankan kehidupan ekonomi yang stabil dalam jangka panjang.

Tim Ekspedisi Patriot UI Kembangkan Perikanan, Pertanian, Pariwisata, dan UMKM

Vishnu menjelaskan Tim Ekspedisi Patriot UI sebelumnya telah melakukan kajian selama empat bulan pada 2025 untuk mengidentifikasi berbagai potensi ekonomi di kawasan Barelang yang meliputi Batam, Rempang, dan Galang.

Hasil kajian tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui program pendampingan masyarakat sepanjang 2026 dengan fokus pada pengembangan sektor perikanan, pertanian, pariwisata, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pengembangan sektor perikanan dilakukan dengan memperhatikan potensi kegiatan usaha yang dapat menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat kawasan transmigrasi.

Sementara itu, pendampingan sektor pertanian diarahkan untuk mendorong pemanfaatan lahan yang tersedia menjadi kegiatan produktif.

Tim Ekspedisi Patriot UI juga memberikan perhatian terhadap pengembangan pariwisata dan UMKM sebagai upaya memperluas peluang usaha masyarakat.

Salah satu hasil program pendampingan tersebut adalah fasilitasi pengurusan nomor induk berusaha (NIB) bagi 20 UMKM setempat.

Fasilitasi tersebut dilakukan untuk membantu pelaku UMKM memperoleh legalitas usaha sehingga dapat mendukung pengembangan kegiatan ekonomi mereka.

Vishnu menyampaikan bahwa program pendampingan Tim Ekspedisi Patriot UI dijadwalkan berlangsung hingga akhir November 2026.

Setelah program tersebut berakhir, ia berharap kegiatan pembinaan dapat dilanjutkan oleh perguruan tinggi maupun lembaga pelatihan yang berada di Batam.

Ia juga menekankan perlunya penguatan kerja sama antarkementerian agar program pengembangan kawasan transmigrasi dapat berjalan secara berkesinambungan.

"Kita melihat ini upaya sudah bagus, cuma memang perlu (kelanjutan penguatan) kolaborasi antar-kementerian juga," ungkap Vishnu.

Warga Rempang Eco-City Berharap Program Pendampingan Terus Berlanjut

Salah seorang warga transmigrasi lokal asal Blongkeng, Mery Lelina, turut menyampaikan pengalamannya setelah hampir satu tahun menempati kawasan Rempang Eco-City.

Mery mengaku telah mengikuti sejumlah kegiatan pelatihan yang diberikan kepada warga untuk meningkatkan keterampilan dan membuka peluang usaha.

Pelatihan tersebut antara lain mencakup pemanfaatan lahan pekarangan untuk kegiatan produktif serta pengolahan hasil perikanan menjadi berbagai produk pangan.

Menurut Mery, keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan tersebut berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan usaha untuk mendukung perekonomian keluarga.

Namun, ia berharap program pendampingan tidak dihentikan setelah warga menempati kawasan transmigrasi dalam jangka waktu tertentu.

Mery juga meminta pemerintah, khususnya Kementerian Transmigrasi, tetap melakukan pemantauan dan pembinaan meskipun masyarakat telah tinggal selama beberapa tahun di kawasan tersebut.

"Kami berharap nanti Pak Menteri pun selalu memantau kami terus. Biarpun kami sudah agak berapa tahun di sini jangan dilepas," ucap Mery.

Keberlanjutan program pendampingan menjadi salah satu harapan warga agar keterampilan yang telah diperoleh dapat terus dikembangkan menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan.

Menteri Transmigrasi Tegaskan Warga Harus Memiliki Pekerjaan dan Pendapatan

Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menjelaskan pemerintah memberikan bantuan bahan pangan selama satu tahun kepada warga transmigrasi untuk menopang kebutuhan hidup selama masa transisi.

Bantuan tersebut diberikan agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dasar ketika menjalani proses penyesuaian kehidupan di kawasan permukiman baru.

Setelah masa bantuan berakhir, pemerintah berupaya memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengembangkan kegiatan usaha dan memperoleh penghasilan secara mandiri.

Menteri Iftitah menegaskan bahwa penyediaan pekerjaan dan sumber pendapatan merupakan bagian penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat transmigrasi.

"Intinya masyarakat harus punya pekerjaan, masyarakat harus punya pendapatan," tutur Iftitah.

Selain memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat saat ini, pemerintah juga berencana mempersiapkan generasi muda di kawasan transmigrasi agar memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Langkah tersebut berkaitan dengan perkembangan kegiatan industri di Batam yang berpotensi membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat setempat.

Pemerintah ingin memastikan generasi muda dari keluarga transmigrasi lokal memiliki kemampuan untuk memanfaatkan kesempatan kerja seiring meningkatnya kegiatan industri dan investasi di kawasan Batam.

Menteri Iftitah juga menekankan pentingnya memberikan kesempatan kepada masyarakat transmigrasi lokal untuk menikmati manfaat pertumbuhan ekonomi sehingga tidak tertinggal ketika investasi baru masuk.

Hasil survei Tim Ekspedisi Patriot UI menjadi salah satu gambaran bahwa tingginya keinginan masyarakat untuk menetap di Rempang Eco-City masih perlu diimbangi dengan peningkatan kesempatan kerja dan penghasilan.

Temuan mengenai 42 persen responden yang tidak bekerja serta 40 persen responden berpenghasilan di bawah Rp1,5 juta menjadi perhatian dalam penyusunan langkah lanjutan penguatan ekonomi masyarakat.

Keberlanjutan pendampingan di sektor perikanan, pertanian, pariwisata, dan UMKM, serta kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga pelatihan diharapkan dapat mendukung kemandirian ekonomi warga transmigrasi Rempang Eco-City.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026