
Pantau - Permukiman padat Margorejo di Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah, mengalami perubahan setelah program penyediaan air bersih berbasis sambungan induk komunal membantu warga memperoleh akses air layak konsumsi dengan biaya lebih terjangkau.
Program tersebut merupakan hasil kolaborasi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surakarta, Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI), dan Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP).
Melalui sistem sambungan induk komunal atau master meter berbasis pompanisasi, warga berpenghasilan rendah dapat menghemat pengeluaran air rumah tangga hingga 70 persen.
Salah satu penerima manfaat, Suwarno (77), mengaku pengeluaran untuk kebutuhan air minum dan memasak berkurang dari Rp80 ribu menjadi Rp25 ribu per bulan setelah rumahnya terhubung dengan jaringan tersebut.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya mengatasi persoalan kualitas air tanah dan sanitasi di kawasan permukiman padat Surakarta.
Warga Margorejo Sebelumnya Bergantung pada Air Sumur yang Keruh dan Berkapur
Selama bertahun-tahun, warga Margorejo menghadapi persoalan kualitas air bersih meskipun sebagian besar rumah telah memiliki sumur bor.
Kondisi geografis Surakarta yang berada di kawasan cekungan antara Gunung Merapi, Merbabu, dan Lawu membuat air tanah dangkal relatif mudah diperoleh.
Warga dapat memperoleh air dengan melakukan pengeboran hingga kedalaman belasan meter.
Namun, air yang dihasilkan dari sumur dangkal sering kali keruh dan mengandung endapan kapur.
Kualitas air tersebut juga mengalami penurunan ketika musim kemarau panjang.
Bahkan, sejumlah sumur mengalami penyusutan debit air sehingga kebutuhan rumah tangga sulit dipenuhi secara konsisten.
Persoalan tersebut dirasakan Suwarno yang tinggal di rumah berukuran sekitar enam kali dua belas meter bersama lima anak dan sejumlah cucunya.
Sebagai pensiunan pegawai negeri sipil, Suwarno harus mengatur pengeluaran keluarga untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari.
Buruknya kualitas air sumur membuatnya harus membeli air minum dalam kemasan galon.
Setiap bulan, Suwarno mengeluarkan sekitar Rp80 ribu untuk membeli empat galon air minum bermerek.
Pengeluaran tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat penggunaan air yang kualitasnya tidak memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga.
Sumur Dangkal di Surakarta Terdeteksi Mengandung Bakteri E. coli
Persoalan air bersih di kawasan permukiman padat Surakarta tidak hanya berkaitan dengan kondisi air yang keruh atau berkapur.
Pengujian laboratorium berkala oleh dinas terkait menemukan kontaminasi bakteri Escherichia coli atau E. coli pada sejumlah sumur dangkal.
Temuan tersebut terjadi di beberapa kawasan padat penduduk, termasuk Gilingan, Semanggi, Mojo, Joyontakan, Sangkrah, dan Kadipiro.
Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap pencemaran adalah jarak sumur dengan tangki septik yang terlalu dekat.
Di lingkungan permukiman padat, keterbatasan lahan membuat sumber air dan fasilitas pembuangan limbah rumah tangga berada dalam jarak yang berdekatan.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko masuknya kontaminasi tinja ke dalam sumber air tanah.
Kontaminasi bakteri pada air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama penyakit pencernaan.
Persoalan kualitas air dan sanitasi tersebut turut menjadi perhatian Pemerintah Kota Surakarta dalam penanganan tengkes atau stunting.
Pemerintah daerah menetapkan kawasan RW 10 Kelurahan Gilingan sebagai salah satu lokasi prioritas intervensi penanganan tengkes.
Program Master Meter PDAM Bantu Warga Mendapatkan Air Bersih
Upaya mengatasi persoalan air bersih di Margorejo dilakukan melalui pengembangan sistem sambungan induk komunal berbasis pompanisasi.
Program tersebut melibatkan PDAM Surakarta, Coca-Cola Foundation Indonesia, dan Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan.
Melalui sistem master meter, air dari jaringan PDAM dialirkan menuju permukiman padat melalui pipa induk.
Selanjutnya, distribusi air dibagi ke meteran mandiri yang terhubung dengan rumah-rumah warga.
Pengelolaan jaringan tersebut dilakukan oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Margorejo.
Skema komunal ini memberikan alternatif bagi warga berpenghasilan rendah yang sebelumnya menghadapi kendala dalam memperoleh sambungan PDAM secara langsung.
Salah satu kendala yang dihadapi warga adalah biaya pemasangan sambungan baru yang relatif mahal.
Selain itu, persoalan legalitas kepemilikan tanah juga menjadi hambatan bagi sebagian masyarakat untuk mengakses layanan air perpipaan resmi.
Di sisi lain, pemerintah telah membatasi pengeboran sumur dalam untuk menjaga kelestarian cadangan air tanah perkotaan.
Kehadiran sistem sambungan komunal menjadi salah satu solusi untuk memperluas akses air bersih di tengah keterbatasan tersebut.
Biaya Air Suwarno Turun dari Rp80 Ribu Menjadi Rp25 Ribu per Bulan
Suwarno menjadi salah satu warga Margorejo yang merasakan manfaat langsung dari program penyediaan air bersih tersebut.
Sejak sekitar satu tahun terakhir, rumahnya telah terhubung dengan jaringan pompanisasi PDAM melalui sistem sambungan komunal.
Sebelumnya, Suwarno harus mengeluarkan Rp80 ribu setiap bulan untuk membeli air minum dalam kemasan galon.
Setelah menggunakan jaringan air bersih tersebut, pengeluarannya turun menjadi sekitar Rp25 ribu per bulan.
Biaya tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum sekaligus memasak.
Dengan demikian, Suwarno menghemat sekitar Rp55 ribu setiap bulan dibandingkan pengeluaran sebelumnya.
Penurunan biaya tersebut setara dengan penghematan sekitar 68,75 persen.
Selain lebih terjangkau, air yang diterima warga juga telah melalui proses disinfeksi menggunakan klorin.
Air dari jaringan tersebut tidak lagi memiliki persoalan endapan kapur seperti yang sebelumnya ditemukan pada air sumur dangkal.
Pasokan air juga disebut lebih stabil dan tidak bergantung pada kondisi sumur ketika musim kemarau panjang.
Lingkungan Margorejo Berubah dengan Akses Air dan Sanitasi yang Lebih Baik
Perubahan di Margorejo tidak hanya terlihat dari berkurangnya pengeluaran warga untuk kebutuhan air bersih.
Lingkungan permukiman yang sebelumnya menghadapi persoalan sampah dan sanitasi kini menunjukkan perubahan kondisi.
Lorong-lorong sempit yang dahulu dipenuhi tumpukan sampah mulai terlihat lebih tertata dengan keberadaan tanaman dalam pot.
Warga juga dapat memanfaatkan air dari jaringan pompanisasi untuk berbagai kebutuhan rumah tangga.
Pada Kamis (8/10/2026), aktivitas warga di Margorejo terlihat berlangsung di sekitar kawasan permukiman yang telah memperoleh akses jaringan air bersih.
Sebagian warga menggunakan air tersebut untuk menyiram tanaman di sekitar rumah.
Perubahan tersebut memperlihatkan manfaat penyediaan infrastruktur dasar bagi masyarakat yang tinggal di kawasan padat penduduk.
Program sambungan induk komunal di Margorejo menjadi salah satu bentuk kerja sama antara penyedia layanan air, lembaga sosial, dan masyarakat dalam memperluas akses air bersih.
Melalui pengelolaan oleh kelompok swadaya masyarakat, jaringan tersebut diharapkan dapat terus memenuhi kebutuhan air rumah tangga dengan biaya yang terjangkau.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




