HOME  ⁄  Nasional

Survei Unisba Ungkap 67,6 Persen Responden Gunakan Kental Manis sebagai Pengganti Susu, Pengaruh Iklan Jadi Sorotan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Survei Unisba Ungkap 67,6 Persen Responden Gunakan Kental Manis sebagai Pengganti Susu, Pengaruh Iklan Jadi Sorotan
Foto: (Sumber :Arsip foto - Murid-murid sekolah dasar minum susu di Boyolali, Jawa Tengah (2/9/2024). ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/Spt.)

Pantau - Survei Universitas Islam Bandung (Unisba) terhadap 2.150 responden menunjukkan sebanyak 67,6 persen responden mengaku menggunakan kental manis sebagai pengganti susu, sehingga memunculkan perhatian terhadap pengaruh iklan dan kebiasaan konsumsi terhadap pemahaman gizi keluarga.

Temuan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam tulisan Fajar Junaedi berjudul Mengubah Ingatan Iklan Menjadi Kesadaran Gizi Keluarga yang diterbitkan pada Senin (12/10/2026).

Dalam tulisannya, Fajar membahas bagaimana pesan iklan yang ditayangkan berulang kali dapat membentuk persepsi masyarakat mengenai pilihan pangan untuk keluarga.

Ia menyoroti bahwa produk kental manis yang dahulu kerap digambarkan sebagai minuman susu keluarga masih dipersepsikan sebagian masyarakat sebagai pengganti susu untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.

Survei Unisba Catat 67,6 Persen Responden Menggunakan Kental Manis sebagai Pengganti Susu

Berdasarkan survei yang melibatkan 2.150 responden, sebanyak 67,6 persen mengaku menggunakan kental manis sebagai pengganti susu.

Angka tersebut menunjukkan bahwa penggunaan kental manis sebagai pengganti susu masih ditemukan di kalangan responden penelitian.

Dalam tulisannya, Fajar mengaitkan temuan tersebut dengan kebiasaan konsumsi yang terbentuk melalui paparan informasi dan pengalaman masyarakat selama bertahun-tahun.

Ia menjelaskan bahwa perubahan pengetahuan mengenai gizi tidak selalu langsung diikuti perubahan perilaku konsumsi.

Kebiasaan yang telah berlangsung lama dapat terus dipertahankan meskipun informasi mengenai pangan dan ketentuan promosinya mengalami perkembangan.

Iklan Televisi Dinilai Berperan Membentuk Persepsi Keluarga

Fajar mencontohkan tayangan iklan televisi pada masa lalu yang menggambarkan suasana sarapan keluarga.

Dalam gambaran tersebut, seorang ayah bersiap bekerja, anak-anak mengenakan seragam sekolah, dan ibu menyiapkan makanan serta menuangkan minuman berwarna putih ke dalam gelas.

Adegan keluarga tersebut disertai musik yang mudah diingat sehingga pesan iklan dapat melekat dalam ingatan penonton.

Menurut Fajar, penggambaran tersebut dapat membentuk hubungan antara produk yang diiklankan dengan kesan keluarga sehat dan perhatian orang tua terhadap anak.

Pesan yang ditampilkan secara berulang berpotensi berkembang menjadi keyakinan dan kebiasaan konsumsi.

Kebiasaan tersebut kemudian dapat diteruskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Perubahan Informasi Gizi Belum Tentu Mengubah Kebiasaan Konsumsi

Dalam pembahasannya, Fajar menekankan bahwa perkembangan pengetahuan gizi dan aturan promosi pangan tidak otomatis mengubah kebiasaan masyarakat.

Ia menilai persepsi yang terbentuk selama puluhan tahun memerlukan proses untuk mengalami perubahan.

Fenomena penggunaan kental manis sebagai pengganti susu menjadi salah satu contoh hubungan antara pesan komunikasi, pemahaman produk, dan perilaku konsumsi keluarga.

Hasil survei Unisba tersebut menjadi dasar pembahasan mengenai pentingnya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap fungsi dan penggunaan produk pangan.

Kesadaran Gizi Keluarga Menjadi Perhatian

Tulisan Fajar mengangkat perlunya memperhatikan pengaruh komunikasi pemasaran terhadap keputusan orang tua dalam memilih pangan bagi anak.

Pembahasan tersebut menempatkan pemahaman gizi sebagai bagian penting dalam menentukan pilihan konsumsi keluarga.

Temuan survei juga menunjukkan bahwa informasi mengenai produk pangan perlu dipahami secara tepat agar masyarakat tidak hanya mengandalkan persepsi yang terbentuk dari iklan lama.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026