HOME  ⁄  Nasional

Camino de Flores 2026 Promosikan Wisata Religi Katolik di NTT, Peserta Akan Berziarah Jalan Kaki Sejauh 70 Kilometer

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Camino de Flores 2026 Promosikan Wisata Religi Katolik di NTT, Peserta Akan Berziarah Jalan Kaki Sejauh 70 Kilometer
Foto: Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana bersama Inisiator Camino de Flores Mari Elka Pangestu dan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dalam konferensi pers mengenai "Camino de Flores" yang diselenggarakan di Jakarta, Selasa 13/10/2026 (sumber: ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti)

Pantau - Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), akan dipromosikan sebagai destinasi wisata religi Katolik unggulan melalui kegiatan ziarah berjalan kaki bertajuk Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores yang dijadwalkan berlangsung selama lima hari pada 23–27 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut akan melibatkan 70 peserta dari komunitas kreatif yang dijadwalkan menempuh perjalanan sekitar 70 kilometer melintasi tiga kabupaten, yakni Ngada, Nagekeo, dan Ende.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyatakan dukungannya terhadap pengembangan Camino de Flores sebagai upaya memperluas kunjungan wisatawan ke berbagai wilayah di Pulau Flores.

Dukungan tersebut disampaikan Widiyanti dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Menurutnya, aktivitas pariwisata di Flores selama ini masih banyak terkonsentrasi di Kabupaten Manggarai Barat, terutama kawasan Labuan Bajo yang telah dikenal sebagai destinasi wisata unggulan.

"Selama ini kita tahu wisatawan lebih terkonsentrasi di Manggarai Barat, khususnya Labuan Bajo. Melalui kehadiran 'Camino de Flores', wisatawan akan mengunjungi destinasi di berbagai daratan Flores," kata Widiyanti.

Melalui kegiatan tersebut, pemerintah berharap kunjungan wisatawan dapat menjangkau lebih banyak daerah sehingga manfaat ekonomi sektor pariwisata tidak hanya terpusat di Labuan Bajo.

Camino de Flores Hadirkan Wisata Ziarah Katolik yang Memadukan Budaya dan Alam

Widiyanti menjelaskan bahwa Camino de Flores dikembangkan sebagai alternatif perjalanan wisata yang menggabungkan pengalaman spiritual, budaya, sejarah, dan keindahan alam Pulau Flores.

Konsep perjalanan ini memungkinkan wisatawan tidak hanya mengunjungi destinasi wisata, tetapi juga mengenal kehidupan masyarakat, tradisi lokal, serta nilai-nilai spiritual yang berkembang di wilayah tersebut.

Kegiatan berjalan kaki sambil berziarah menjadi bagian utama dari pengalaman wisata yang ditawarkan kepada peserta.

Selain mengunjungi situs religi, wisatawan juga dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal dan menikmati berbagai atraksi budaya di sepanjang perjalanan.

Menteri Pariwisata menilai konsep tersebut berpotensi menjadi pilihan wisata baru bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda dari perjalanan wisata konvensional.

Penyelenggaraan Camino de Flores juga diharapkan dapat mendorong wisatawan tinggal lebih lama di Flores untuk menikmati berbagai destinasi dan kekayaan budaya setempat.

Dengan meningkatnya lama kunjungan, masyarakat diharapkan memperoleh peluang ekonomi melalui penyediaan kuliner, produk lokal, penginapan, dan layanan pendukung pariwisata.

" Dengan cara ini, perputaran ekonomi tidak lagi terpusat pada satu wilayah, atau pelaku industri besar saja, melainkan langsung menyentuh perekonomian rakyat Flores," tegas Widiyanti.

Pengembangan wisata berbasis masyarakat tersebut diharapkan mampu memperluas distribusi manfaat ekonomi pariwisata ke berbagai wilayah di Pulau Flores.

Sebanyak 70 Peserta Akan Berjalan Kaki dari Bajawa hingga Ende

Inisiator Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dikembangkan untuk mendorong pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat.

Dalam pelaksanaannya pada 23–27 Oktober 2026, sebanyak 70 peserta dari komunitas kreatif dijadwalkan mengikuti perjalanan ziarah berjalan kaki dengan total jarak sekitar 70 kilometer.

Rute perjalanan direncanakan dimulai dari Bajawa dan berakhir di Ende dengan melintasi Kabupaten Ngada, Kabupaten Nagekeo, dan Kabupaten Ende.

"Mulai dari Bajawa dan ujungnya selesainya di Ende, melintasi tiga kabupaten, Ngada, Nagekeo, dan Ende," jelas Mari.

Sepanjang perjalanan, peserta dijadwalkan mengunjungi sejumlah gereja yang menjadi bagian dari pengalaman wisata religi Katolik di Flores.

Peserta juga akan mendatangi kampung adat untuk mengenal kehidupan masyarakat serta berbagai tradisi budaya yang masih berkembang di daerah tersebut.

Selain itu, perjalanan mencakup kunjungan ke sejumlah situs budaya yang menjadi bagian dari kekayaan sejarah dan identitas masyarakat Flores.

Wisatawan juga akan memperoleh kesempatan mencicipi kuliner lokal sebagai bentuk pengenalan terhadap makanan tradisional daerah.

Interaksi langsung dengan masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan ini untuk memperkuat hubungan antara wisatawan dan komunitas setempat.

Keindahan alam Flores juga menjadi daya tarik perjalanan karena peserta dapat menikmati pemandangan sepanjang jalur ziarah yang dilalui.

Camino de Flores Terinspirasi Tradisi Ziarah Camino de Santiago di Spanyol

Mari menjelaskan bahwa Camino de Flores dikembangkan dengan mengambil inspirasi dari Camino de Santiago, tradisi perjalanan ziarah berjalan kaki yang terkenal di Spanyol.

Konsep tersebut kemudian diadaptasi dengan karakteristik Pulau Flores yang memiliki kekayaan spiritual, budaya, sejarah, dan alam.

Melalui pendekatan ini, penyelenggara ingin menghadirkan pengalaman perjalanan yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan destinasi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk melakukan refleksi spiritual.

Aspek kesehatan juga menjadi bagian dari kegiatan karena peserta menjalani perjalanan dengan berjalan kaki di sepanjang rute yang telah direncanakan.

Selain itu, kegiatan tersebut dirancang untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan tradisi Flores melalui pengalaman langsung di berbagai lokasi.

Pengembangan jalur wisata tematik diharapkan dapat menghubungkan sejumlah destinasi, situs religi, dan atraksi budaya yang tersebar di Pulau Flores.

Dengan demikian, Camino de Flores diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkenalkan potensi wisata religi Katolik yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Program ini juga diarahkan untuk memperkuat keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan dan pengembangan aktivitas pariwisata.

Camino de Flores Galang Dana untuk Korban Gempa Bumi Agustus 2026

Selain mempromosikan wisata religi dan budaya, penyelenggaraan Camino de Flores juga membawa misi sosial berupa penggalangan dana bagi masyarakat terdampak bencana alam.

Mari Elka Pangestu mengatakan penyelenggara akan menghimpun sumbangan untuk membantu pembangunan kembali wilayah Flores yang terdampak gempa bumi pada Agustus 2026.

Penggalangan dana tersebut diharapkan menjadi salah satu bentuk kontribusi kegiatan pariwisata terhadap proses pemulihan masyarakat di wilayah terdampak bencana.

Penyelenggara ingin menghubungkan pengembangan sektor pariwisata dengan upaya membantu masyarakat bangkit setelah menghadapi dampak gempa bumi.

"Kami ingin menghubungkan pengembangan pariwisata, membantu masyarakat bangkit sekaligus membangun fondasi bagi pariwisata Flores yang lebih kuat, berkelanjutan dan berbasis masyarakat," ujar Mari.

Menurutnya, Camino de Flores tidak hanya bertujuan memperkenalkan destinasi wisata baru, tetapi juga mendorong pertumbuhan pariwisata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk berpartisipasi melalui penyediaan produk lokal, kuliner, serta berbagai layanan pendukung perjalanan wisata.

Pemerintah Harapkan Wisata Religi Dorong Pemerataan Ekonomi di Flores

Kementerian Pariwisata berharap penyelenggaraan Camino de Flores dapat menjadi salah satu upaya memperluas pengembangan pariwisata di luar kawasan Labuan Bajo.

Melalui jalur wisata yang melintasi sejumlah kabupaten, kunjungan wisatawan diharapkan dapat menjangkau lebih banyak wilayah di daratan Flores.

Pemerataan kunjungan tersebut juga diharapkan memberikan kesempatan bagi masyarakat lokal untuk memperoleh manfaat ekonomi dari aktivitas pariwisata.

Pengembangan wisata religi dan budaya berbasis masyarakat menjadi salah satu pendekatan yang didorong untuk menciptakan sektor pariwisata yang lebih inklusif.

Selain memperkenalkan potensi wisata Katolik, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan apresiasi wisatawan terhadap tradisi, sejarah, dan kehidupan masyarakat Flores.

Dengan menggabungkan perjalanan ziarah, wisata budaya, keindahan alam, pemberdayaan masyarakat, dan kegiatan sosial, Camino de Flores diarahkan menjadi model pengembangan wisata yang berkelanjutan.

Penyelenggaraan pada 23–27 Oktober 2026 diharapkan semakin memperkuat posisi Pulau Flores sebagai destinasi wisata religi Katolik di Indonesia sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat di berbagai wilayah Nusa Tenggara Timur.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026