HOME  ⁄  Nasional

Indonesia Jajaki Kerja Sama Logam Tanah Jarang dengan Gabon, Perkuat Kemitraan Strategis di Afrika

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Indonesia Jajaki Kerja Sama Logam Tanah Jarang dengan Gabon, Perkuat Kemitraan Strategis di Afrika
Foto: (Sumber :Duta Besar Republik Indonesia untuk Kamerun merangkap Chad, Guinea Ekuatorial, Gabon, Kongo, dan Republik Afrika Tengah Agung Cahaya Sumirat menjawab pertanyaan jurnalis di Jakarta, Selasa (13/10/2026). /ANTARA/Uyu Septiyati Liman.)

Pantau - Pemerintah Indonesia tengah merintis kerja sama strategis dengan Gabon di sektor logam tanah jarang atau rare earth minerals sebagai bagian dari upaya memperluas kemitraan ekonomi dan pertambangan dengan negara-negara di kawasan Afrika Tengah.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Kamerun merangkap Chad, Guinea Ekuatorial, Gabon, Kongo, dan Republik Afrika Tengah, Agung Cahaya Sumirat, mengungkapkan bahwa pembahasan kerja sama tersebut masih berlangsung dan belum mencapai tahap akhir.

"Kita punya kepentingan yang sangat strategis untuk menjalin kemitraan dengan Pemerintah Gabon… Ini belum selesai, masih berproses, on going, sedang dirintis berbagai kerja sama di sektor rare earth minerals, mineral tanah jarang," ucap Agung di Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Selain menjajaki kerja sama logam tanah jarang dengan Gabon, Indonesia juga tengah membuka peluang kemitraan di sektor mineral fosfat dengan Republik Kongo.

Meski demikian, Agung belum dapat mengungkapkan rincian mengenai perkembangan maupun hasil pembahasan dengan kedua negara tersebut karena proses penjajakan masih berjalan.

Indonesia Perluas Kerja Sama Pertambangan dengan Negara Afrika

Agung menjelaskan bahwa hubungan kerja sama Indonesia dengan sejumlah negara di kawasan Afrika Tengah selama ini lebih banyak berfokus pada sektor minyak dan gas bumi (migas).

Gabon menjadi salah satu mitra penting Indonesia dalam perdagangan komoditas energi, terutama sebagai pemasok minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri.

Menurut Agung, Angola dan Gabon merupakan dua negara di kawasan Afrika Tengah yang menjadi sumber utama impor minyak mentah Indonesia.

Sementara itu, Nigeria yang berada di kawasan Afrika Barat juga termasuk dalam tiga besar negara Afrika pemasok minyak mentah bagi Indonesia.

Kerja sama dengan Gabon tidak hanya berlangsung melalui aktivitas perdagangan, tetapi juga mencakup investasi perusahaan energi Indonesia di sektor migas.

PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) diketahui menguasai lebih dari 70 persen saham perusahaan eksplorasi migas asal Prancis, Maurel & Prom.

Perusahaan tersebut memiliki sejumlah aset migas yang tersebar di beberapa negara Afrika, termasuk Angola, Gabon, dan Tanzania.

Keberadaan investasi tersebut menjadi salah satu alasan Indonesia terus berupaya mempererat hubungan ekonomi dan kerja sama strategis dengan Pemerintah Gabon.

"Ini menjadi salah satu (hal mengapa) kita berkepentingan untuk terus memperkuat kerja sama dengan Gabon," ujar Dubes Agung.

Neraca Perdagangan Indonesia dan Gabon Masih Defisit

Di tengah upaya memperluas kerja sama sektor pertambangan, hubungan perdagangan Indonesia dengan Gabon masih mencatatkan defisit sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), Indonesia mengalami defisit perdagangan dengan Gabon sebesar 411,3 juta dolar AS atau sekitar Rp7,38 triliun.

Pada periode tersebut, nilai ekspor Indonesia ke Gabon tercatat sebesar 11,4 juta dolar AS atau sekitar Rp204,50 miliar.

Sementara itu, nilai impor Indonesia dari Gabon mencapai 422,7 juta dolar AS atau setara Rp7,58 triliun.

Kondisi serupa juga terjadi dalam hubungan perdagangan Indonesia dengan Angola yang mencatatkan defisit sebesar 1,086 miliar dolar AS atau sekitar Rp19,48 triliun.

Nilai ekspor Indonesia ke Angola sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai 94,1 juta dolar AS atau sekitar Rp1,69 triliun.

Adapun nilai impor dari Angola tercatat sebesar 1,18 miliar dolar AS atau setara Rp21,17 triliun.

Perdagangan dengan Republik Kongo Catat Surplus

Berbeda dengan Gabon dan Angola, neraca perdagangan Indonesia dengan Republik Kongo justru mencatatkan surplus selama delapan bulan pertama 2026.

Data Kemendag menunjukkan surplus perdagangan Indonesia dengan Republik Kongo mencapai 104,3 juta dolar AS atau sekitar Rp1,87 triliun.

Nilai ekspor Indonesia ke Republik Kongo tercatat sebesar 106,9 juta dolar AS atau setara Rp1,92 triliun.

Sementara itu, nilai impor dari negara tersebut mencapai 2,6 juta dolar AS atau sekitar Rp46,64 miliar.

Di tengah kondisi perdagangan tersebut, Indonesia masih menjajaki peluang kerja sama mineral fosfat dengan Republik Kongo sebagai bagian dari pengembangan hubungan ekonomi bilateral.

Rencana kemitraan logam tanah jarang dengan Gabon dan mineral fosfat dengan Republik Kongo masih berada dalam tahap pembahasan, sehingga belum terdapat rincian lebih lanjut mengenai bentuk maupun hasil kerja sama yang akan dijalankan.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026