
Pantau - Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang berlangsung meriah dengan pertunjukan fragmentasi teater yang menggambarkan perjuangan para pahlawan melawan penjajah di kawasan Monumen Tugu Muda, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (14/10/2026) malam.
Pertunjukan tersebut menjadi salah satu rangkaian kegiatan untuk mengenang peristiwa bersejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang yang berlangsung pada 14–18 Oktober 1945.
Fragmentasi teater dibawakan oleh para anggota Teater Pitoelas dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang dengan menampilkan cuplikan suasana pertempuran pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
Para pemeran mengenakan pakaian menyerupai pejuang kemerdekaan, sementara sejumlah kendaraan jip terbuka turut dihadirkan untuk memperkuat suasana medan pertempuran.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti bersama jajaran pemerintah daerah dan keluarga para pejuang.
Teater Perjuangan Hidupkan Kembali Sejarah Pertempuran Lima Hari Semarang
Pementasan fragmentasi teater menjadi salah satu daya tarik utama dalam peringatan Pertempuran Lima Hari di kawasan Monumen Tugu Muda.
Para pemain dari Teater Pitoelas Untag Semarang memperagakan sejumlah adegan yang menggambarkan perjuangan masyarakat dan para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Dengan mengenakan kostum pejuang serta menghadirkan kendaraan jip terbuka, pertunjukan tersebut menggambarkan kembali suasana pertempuran yang terjadi pada Oktober 1945.
Pertempuran Lima Hari di Semarang merupakan salah satu peristiwa bersejarah yang terjadi tidak lama setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Peristiwa tersebut berlangsung selama lima hari, mulai 14 hingga 18 Oktober 1945, dan menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan masyarakat Semarang.
Pementasan teater perjuangan juga menjadi agenda khas yang rutin ditampilkan dalam kegiatan peringatan tahunan tersebut.
Selain pertunjukan teater, panitia menyelenggarakan upacara, penampilan lagu-lagu perjuangan, serta pembacaan cuplikan sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang.
Wali Kota Semarang Ajak Masyarakat Meneladani Keberanian Para Pejuang
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan bahwa Pertempuran Lima Hari merupakan bukti keberanian para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Menurutnya, peristiwa tersebut harus terus dikenang sebagai bagian dari perjalanan sejarah bangsa, khususnya bagi masyarakat Kota Semarang.
"Kita mengingat bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tumbuh dari sebuah keberanian, kehilangan, dan harapan yang diperjuangkan dengan sepenuh jiwa," katanya.
Agustina menjelaskan bahwa selama 81 tahun perjalanan kemerdekaan Indonesia, berbagai perubahan telah terjadi dalam kehidupan masyarakat.
Perubahan tersebut mencakup perkembangan wajah kota, pergantian generasi, hingga tantangan baru yang harus dihadapi masyarakat.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa keberanian dalam mengambil tanggung jawab merupakan warisan para pejuang yang harus terus dijaga.
"Hari ini perjuangan itu dapat kita temukan pada sosok-sosok yang mungkin jarang disebut, tetapi perannya selalu dekat dengan kehidupan kita," katanya.
Petugas Kebersihan hingga Relawan Disebut sebagai Pahlawan Masa Kini
Dalam kesempatan tersebut, Agustina juga menyoroti peran masyarakat yang memberikan pengabdian melalui pekerjaan dan tanggung jawab sehari-hari.
Ia menilai semangat perjuangan tidak hanya ditunjukkan melalui pertempuran seperti yang terjadi pada masa kemerdekaan.
Menurutnya, pengabdian juga dapat diwujudkan melalui pelayanan kepada masyarakat, terutama oleh mereka yang bekerja dalam situasi sulit.
Agustina mencontohkan tenaga kesehatan yang merawat pasien serta petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemadam kebakaran, dan Dinas Lingkungan Hidup yang menangani kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang.
"Ada pengangkut sampah yang menjaga kota tetap bersih, pasukan kebersihan. Ada petugas lapangan, relawan, dan kader di kampung-kampung yang selalu hadir ketika masyarakat membutuhkan pertolongan," katanya.
Ia menegaskan bahwa para pekerja dan relawan tersebut merupakan bagian dari sosok pahlawan masa kini yang menjalankan tugas sesuai bidang masing-masing.
Menurut Agustina, pengabdian mereka sering kali tidak mendapatkan perhatian besar meskipun memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat.
"Mereka adalah pengingat pengabdian tidak selalu hadir dalam sorotan," katanya.
Peringatan Pertempuran Lima Hari Ditutup dengan Musik dan Kembang Api
Selain fragmentasi teater dan upacara peringatan, kegiatan di kawasan Monumen Tugu Muda juga dimeriahkan dengan pertunjukan lagu-lagu perjuangan.
Pembacaan cuplikan sejarah Pertempuran Lima Hari turut menjadi bagian dari rangkaian acara untuk mengenalkan kembali perjuangan para pahlawan kepada masyarakat.
Peringatan tersebut kemudian ditutup dengan pertunjukan harmoni musik dan kembang api.
Sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat turut menghadiri kegiatan tersebut, termasuk jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Semarang serta organisasi perangkat daerah terkait.
Keluarga para pejuang Pertempuran Lima Hari di Semarang juga hadir dalam acara tersebut.
Di antara keluarga pejuang yang mengikuti kegiatan adalah keluarga KRMT Wongsonegoro, keluarga Bambang Suprapto, dan keluarga dr. Kariadi.
Kehadiran keluarga para pejuang menjadi bagian dari penghormatan terhadap tokoh-tokoh yang memiliki peran dalam sejarah perjuangan di Semarang.
Arus Lalu Lintas Kawasan Tugu Muda Dialihkan Selama Peringatan
Pelaksanaan kegiatan peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang turut berdampak pada arus lalu lintas di sekitar kawasan Monumen Tugu Muda.
Selama rangkaian acara berlangsung, akses kendaraan menuju kawasan tersebut ditutup sementara.
Petugas melakukan pengalihan arus lalu lintas untuk mendukung kelancaran kegiatan yang dipusatkan di sekitar monumen bersejarah tersebut.
Penutupan jalan dilakukan selama pelaksanaan peringatan yang melibatkan berbagai unsur pemerintah daerah, keluarga pejuang, dan masyarakat.
Peringatan tahunan ini menjadi salah satu kegiatan Kota Semarang untuk menjaga ingatan sejarah sekaligus mengenang pengorbanan para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




