
Pantau - Indonesia dan Amerika Serikat memperkuat kerja sama pelestarian bangkai kapal perang USS Houston (CA-30) yang tenggelam dalam Pertempuran Selat Sunda pada Perang Dunia II, dengan menyiapkan pemasangan prasasti peringatan dan penilaian kondisi kapal di perairan Cilegon, Banten, pada awal November 2026.
Bangkai USS Houston merupakan situs bersejarah sekaligus makam perang yang menjadi tempat peristirahatan terakhir lebih dari 650 pelaut dan personel Korps Marinir Amerika Serikat.
Berdasarkan siaran pers Kedutaan Besar Amerika Serikat, Kamis (15/10/2026), kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti peringatan oleh Kuasa Usaha Ad Interim Amerika Serikat, Joy Sakurai, bersama Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana Madya Edwin.
Prasasti tersebut akan dipasang di dasar laut dekat bangkai USS Houston sebagai bentuk penghormatan kepada para personel militer Amerika Serikat yang gugur dalam pertempuran.
Indonesia dan Amerika Serikat Siapkan Penyelaman Gabungan di Cilegon
Pemasangan prasasti peringatan dijadwalkan berlangsung pada awal November 2026 melalui kegiatan penyelaman gabungan yang melibatkan personel TNI Angkatan Laut dan Angkatan Laut Amerika Serikat.
Prasasti tersebut akan ditempatkan di dasar laut, dekat lokasi tenggelamnya USS Houston di perairan Cilegon, Provinsi Banten.
Kegiatan pemasangan prasasti juga akan disertai upacara peletakan karangan bunga untuk mengenang para pelaut dan personel Korps Marinir Amerika Serikat yang gugur.
Upacara tersebut menjadi bagian dari penghormatan terhadap korban Pertempuran Selat Sunda pada masa Perang Dunia II.
Selain memasang prasasti, penyelam dari kedua negara akan melakukan penilaian terhadap kondisi terkini bangkai USS Houston.
Penilaian bawah air tersebut bertujuan mendokumentasikan keadaan fisik kapal untuk memperoleh informasi mengenai kondisi situs bersejarah tersebut.
Dalam pelaksanaannya, tim penyelam akan bekerja sama dengan Naval History and Heritage Command, lembaga Angkatan Laut Amerika Serikat yang menangani sejarah dan warisan maritim.
Keterlibatan lembaga tersebut diharapkan dapat mendukung proses dokumentasi serta penyusunan langkah pelestarian berdasarkan kondisi bangkai kapal di bawah laut.
Operasi penyelaman gabungan ini menjadi salah satu bentuk kerja sama langsung antara kedua angkatan laut dalam melindungi peninggalan sejarah maritim.
USS Houston Jadi Makam Perang Lebih dari 650 Personel Amerika Serikat
USS Houston (CA-30) merupakan kapal perang Amerika Serikat yang tenggelam dalam Pertempuran Selat Sunda pada Perang Dunia II.
Bangkai kapal tersebut memiliki nilai sejarah penting karena berkaitan langsung dengan pertempuran yang menyebabkan gugurnya ratusan personel militer Amerika Serikat.
Lebih dari 650 pelaut dan personel Korps Marinir Amerika Serikat tercatat menjadikan bangkai USS Houston sebagai tempat peristirahatan terakhir mereka.
Status bangkai kapal sebagai makam perang menjadikan upaya perlindungannya tidak hanya berkaitan dengan pelestarian benda bersejarah, tetapi juga penghormatan terhadap para korban perang.
Kuasa Usaha Ad Interim Amerika Serikat, Joy Sakurai, menyampaikan bahwa kegiatan pelestarian tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada awak USS Houston yang gugur.
"Hari ini, kita mengenang para pelaut dan personel Korps Marinir USS Houston yang gugur dalam Pertempuran Selat Sunda dengan mengambil langkah-langkah untuk melindungi kapal militer Amerika Serikat yang tenggelam ini," ujarnya.
Menurut Sakurai, perlindungan bangkai USS Houston menjadi langkah penting untuk menjaga situs yang memiliki nilai sejarah dan kemanusiaan bagi Amerika Serikat.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia dan TNI Angkatan Laut atas dukungan yang diberikan dalam upaya pelestarian kapal tersebut.
"Kami berterima kasih kepada Pemerintah Indonesia dan TNI Angkatan Laut atas bantuan mereka kepada Amerika Serikat dalam melindungi tempat peristirahatan terakhir lebih dari 650 personel tersebut," katanya.
Penilaian Kondisi Bangkai Kapal Jadi Bagian dari Upaya Pelestarian
Selain penghormatan kepada korban perang, kegiatan penyelaman gabungan akan difokuskan pada penilaian kondisi fisik bangkai USS Houston.
Tim penyelam akan mendokumentasikan keadaan kapal di bawah laut untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi situs saat ini.
Hasil penilaian tersebut diharapkan dapat memberikan informasi yang diperlukan dalam mendukung upaya perlindungan dan pelestarian jangka panjang.
Dokumentasi bawah air juga menjadi bagian dari pendekatan untuk mengelola situs sejarah maritim secara bertanggung jawab.
Indonesia dan Amerika Serikat menempatkan perlindungan bangkai USS Houston sebagai bagian dari upaya menjaga peninggalan sejarah yang memiliki makna bagi kedua negara.
Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat kerja sama bilateral dalam bidang pelestarian warisan sejarah bawah laut.
Melalui penilaian kondisi kapal, kedua negara berupaya memastikan langkah pelestarian dilakukan dengan memperhatikan keadaan situs serta nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.
Kerja Sama Pelestarian USS Houston Didukung DPAA dan AFCP
Proyek pelestarian USS Houston merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Nota Kesepahaman antara Indonesia dan Amerika Serikat yang memperluas kerangka kerja sama terkait Defense POW/MIA Accounting Agency (DPAA).
DPAA merupakan lembaga Amerika Serikat yang menangani upaya pencarian dan identifikasi personel militer yang berstatus tawanan perang atau hilang dalam tugas.
Nota Kesepahaman tersebut menjadi salah satu landasan penguatan kerja sama kedua negara dalam kegiatan yang berkaitan dengan personel militer dan situs bersejarah.
Selain berkaitan dengan DPAA, proyek pelestarian USS Houston juga menjadi bagian dari inisiatif Kedutaan Besar Amerika Serikat melalui Ambassador Fund for Cultural Preservation (AFCP).
AFCP merupakan program yang mendukung perlindungan dan pelestarian warisan budaya serta situs bersejarah.
Melalui program tersebut, Kedutaan Besar Amerika Serikat mendukung upaya menjaga bangkai USS Houston sebagai bagian dari sejarah yang berkaitan dengan Indonesia dan Amerika Serikat.
Keterlibatan AFCP menunjukkan bahwa kegiatan pelestarian USS Houston tidak hanya mencakup kerja sama militer, tetapi juga perlindungan warisan budaya dan sejarah maritim.
Prasasti Peringatan Akan Dipasang pada Awal November 2026
Penyelaman gabungan pada awal November 2026 akan menjadi tahapan pelaksanaan kerja sama pelestarian USS Houston di perairan Cilegon, Banten.
Kegiatan tersebut mencakup pemasangan prasasti peringatan, peletakan karangan bunga, serta dokumentasi kondisi bangkai kapal.
Pemasangan prasasti dimaksudkan untuk mengenang para personel militer Amerika Serikat yang gugur dalam Pertempuran Selat Sunda.
Sementara itu, dokumentasi kondisi kapal akan mendukung upaya perlindungan situs bersejarah tersebut pada masa mendatang.
Indonesia dan Amerika Serikat berupaya menjaga bangkai USS Houston sebagai makam perang sekaligus peninggalan sejarah yang perlu dilindungi.
Melalui kerja sama tersebut, kedua negara menargetkan penguatan perlindungan situs bawah laut, penghormatan kepada lebih dari 650 personel yang gugur, serta pelestarian sejarah Pertempuran Selat Sunda bagi generasi mendatang.
- Penulis :
- Arian Mesa




