HOME  ⁄  Nasional

Guru Besar UI Ingatkan Bahaya Pemberian Telur Mentah pada Bayi, Tekankan Keselamatan di Atas Tradisi Pengasuhan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Guru Besar UI Ingatkan Bahaya Pemberian Telur Mentah pada Bayi, Tekankan Keselamatan di Atas Tradisi Pengasuhan
Foto: (Sumber :Guru Besar Keperawatan Anak dari Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) Universitas Indonesia (UI), Prof. Dessie Wanda. ANTARA/HO-Humas UI.)

Pantau - Guru Besar Keperawatan Anak Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) Universitas Indonesia (UI), Prof. Dessie Wanda, mengingatkan pentingnya edukasi kesehatan berbasis budaya dalam pengasuhan bayi agar kebiasaan turun-temurun tidak membahayakan keselamatan anak.

Peringatan tersebut disampaikan Dessie menyusul laporan meninggalnya bayi berusia 24 hari yang diduga mendapat telur mentah dari neneknya.

Dessie menegaskan bahwa kebiasaan pengasuhan yang diwariskan dalam keluarga perlu disesuaikan dengan rekomendasi kesehatan dan kebutuhan bayi berdasarkan usianya.

"Saya menyoroti kasus bayi berusia 24 hari yang dilaporkan meninggal dunia setelah diduga diberi telur mentah oleh neneknya," kata Dessie di Depok, Jawa Barat, Jumat (16/10/2026).

Menurutnya, keterlibatan orang tua maupun kakek dan nenek dalam merawat bayi merupakan bagian dari kehidupan keluarga, tetapi tidak semua praktik tradisional aman diterapkan.

Guru Besar UI Jelaskan Risiko Pemberian Telur Mentah pada Bayi

Dessie menjelaskan bahwa pemberian makanan kepada bayi harus memperhatikan usia, kondisi kesehatan, dan rekomendasi medis.

Salah satu praktik yang perlu diwaspadai adalah pemberian telur mentah karena berpotensi mengandung bakteri Salmonella.

Bakteri tersebut dapat menyebabkan infeksi yang berbahaya, terutama bagi bayi yang sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang.

Oleh karena itu, keluarga perlu memahami bahwa makanan yang dianggap bermanfaat berdasarkan kebiasaan turun-temurun belum tentu aman bagi bayi.

Dalam rekomendasi kesehatan, bayi berusia kurang dari enam bulan pada umumnya hanya memerlukan air susu ibu (ASI), kecuali terdapat indikasi medis tertentu.

Pemberian makanan pendamping ASI umumnya dimulai ketika bayi mencapai usia enam bulan dengan memperhatikan kesiapan dan kebutuhan gizinya.

Dessie menekankan pentingnya memastikan seluruh praktik pengasuhan tidak menimbulkan risiko terhadap kesehatan dan keselamatan bayi.

Edukasi Kesehatan Harus Memahami Budaya Keluarga

Dessie menilai edukasi mengenai pengasuhan bayi tidak cukup dilakukan hanya dengan menyampaikan larangan terhadap kebiasaan tertentu.

Tenaga kesehatan juga perlu memahami nilai, kepercayaan, dan tradisi yang menjadi dasar keputusan keluarga dalam merawat anak.

Pendekatan komunikasi yang menghargai latar belakang budaya dinilai dapat membantu keluarga menerima informasi kesehatan tanpa merasa disalahkan.

“Tragedi seperti ini menunjukkan perlunya komunikasi yang baik antara tenaga kesehatan dan keluarga. Dalam pendekatan Ethno-Nursing, budaya tidak diposisikan sebagai hambatan, melainkan tatanan nilai yang perlu dipahami secara utuh. Tugas kita adalah mengedukasi masyarakat agar niat baik merawat cucu selalu sejalan dengan keselamatan bayi karena keselamatan bayi lebih utama,” ujar Prof Dessie.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting untuk menjembatani perbedaan pandangan antara kebiasaan keluarga dan rekomendasi medis.

Dengan komunikasi yang tepat, tenaga kesehatan dapat membantu keluarga memahami alasan suatu praktik perlu dipertahankan, disesuaikan, atau dihentikan.

UI Kenalkan Tiga Prinsip Pengasuhan Berbasis Budaya

Melalui Klaster Riset Ethno-Nursing and Cultural Care FIK UI, Dessie mengembangkan pendekatan keperawatan yang mempertimbangkan pengaruh budaya terhadap perilaku kesehatan.

Pendekatan Ethno-Nursing menempatkan pemahaman terhadap tradisi keluarga sebagai bagian dari proses edukasi dan pelayanan kesehatan.

Dessie menjelaskan bahwa terdapat tiga prinsip utama dalam pendekatan tersebut, yaitu maintenance, negotiation, dan repatterning.

Ketiga prinsip tersebut diterapkan untuk membantu tenaga kesehatan menentukan langkah yang sesuai dalam menghadapi praktik pengasuhan di masyarakat.

Berikut penjelasan tiga prinsip tersebut:

Maintenance: Mempertahankan kebiasaan keluarga yang terbukti aman dan memberikan manfaat bagi kesehatan bayi.

Negotiation: Menyesuaikan praktik pengasuhan melalui komunikasi dan kesepakatan antara keluarga dengan tenaga kesehatan.

Repatterning: Mengubah kebiasaan yang berpotensi membahayakan menjadi praktik perawatan yang lebih aman.

Penerapan ketiga prinsip tersebut diharapkan dapat membantu keluarga menjaga nilai budaya tanpa mengabaikan keselamatan bayi.

Keselamatan Bayi Harus Menjadi Prioritas Utama

Dessie menegaskan bahwa bayi dan anak-anak merupakan kelompok yang membutuhkan perlindungan penuh dari orang dewasa.

Hal tersebut disebabkan bayi belum mampu mengenali bahaya maupun melindungi dirinya dari praktik pengasuhan yang berisiko.

“Anak dan bayi belum memiliki kemampuan untuk melindungi diri mereka sendiri. Keselamatan bayi harus menjadi prioritas mutlak di atas kebiasaan apa pun,” tegas Dessie.

Ia mengingatkan bahwa niat baik anggota keluarga dalam merawat anak harus disertai pemahaman mengenai praktik kesehatan yang aman.

Karena itu, edukasi pengasuhan perlu melibatkan seluruh anggota keluarga yang berperan dalam perawatan bayi, termasuk orang tua dan kakek-nenek.

Melalui Klaster Riset Ethno-Nursing and Cultural Care, Universitas Indonesia terus mengembangkan kajian keperawatan yang memperhatikan keberagaman sosial dan budaya masyarakat.

Pengembangan tersebut diharapkan dapat mendukung tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang menghormati budaya keluarga sekaligus mengutamakan keselamatan pasien.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026