
Pantau - Universitas Airlangga (Unair) menjajaki peluang kerja sama riset dan transfer teknologi vaksin dengan berbagai institusi internasional melalui forum Vaccine World Asia Congress-Southeast Asia and Biologics World Southeast Asia 2026 guna memperkuat kesiapsiagaan Indonesia menghadapi ancaman epidemi dan pandemi pada masa mendatang.
Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas pertukaran pengetahuan, meningkatkan kapasitas penelitian, serta mendorong penguasaan teknologi vaksin melalui kolaborasi lintas negara.
Sekretaris Lembaga Penyakit Tropis (LPT) Unair sekaligus epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair, Laura Navika Yamani, mengatakan kerja sama internasional menjadi bagian penting dalam memperkuat kemampuan pengembangan vaksin.
“Di sini kami mendapatkan perspektif, pengalaman, dan kemampuan dari masing-masing pihak sehingga bisa ditemukan peluang kerja sama serta transfer pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian tidak terjadi monopoli dan ke depan bisa terbangun sinergi serta kolaborasi untuk menghadapi kemungkinan epidemi atau pandemi,” ujar Laura di Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Unair Dorong Transfer Teknologi Vaksin Antarnegara
Laura menjelaskan bahwa pengembangan vaksin membutuhkan keterlibatan berbagai pihak yang memiliki kemampuan dan pengalaman berbeda.
Menurutnya, kerja sama lintas negara dapat membantu lembaga penelitian memperoleh akses terhadap perkembangan teknologi serta metode pengembangan vaksin.
Kolaborasi tersebut juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap penguasaan teknologi oleh pihak tertentu.
Namun, Laura menegaskan bahwa kerja sama internasional tidak cukup hanya dibangun melalui pertemuan formal antarlembaga.
Setiap institusi perlu memahami tantangan, kapasitas, dan kebutuhan mitra agar kerja sama yang dirancang mampu memberikan hasil nyata.
Melalui pendekatan tersebut, pertukaran pengetahuan diharapkan dapat berkembang menjadi kegiatan penelitian bersama dan transfer teknologi yang berkelanjutan.
Unair Pelajari Pengembangan Vaksin dari India, Malaysia, dan CEPI
Dalam forum internasional tersebut, Unair memanfaatkan kesempatan untuk mempelajari berbagai praktik pengembangan vaksin dari sejumlah negara dan lembaga.
Pihak yang terlibat dalam pertukaran pengalaman antara lain perwakilan Indonesia, India, Malaysia, serta Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI).
CEPI merupakan koalisi global yang mendukung pendanaan dan koordinasi pengembangan vaksin untuk menghadapi potensi ancaman epidemi dan pandemi.
Melalui forum tersebut, peserta dapat membandingkan tantangan yang dihadapi masing-masing negara dalam pengembangan teknologi vaksin.
Pertukaran pengalaman juga mencakup kebutuhan riset, kemampuan produksi, serta dukungan regulasi yang diperlukan untuk mempercepat pengembangan vaksin.
Laura menilai pemahaman terhadap kondisi masing-masing mitra menjadi dasar penting dalam membangun kerja sama yang saling melengkapi.
LPT Unair Tetapkan Tiga Sasaran Penguatan Riset Vaksin
Lembaga Penyakit Tropis Unair menetapkan tiga sasaran utama melalui keikutsertaan dalam forum pengembangan vaksin dan produk biologis tersebut.
Sasaran pertama adalah memperbarui pengetahuan mengenai perkembangan teknologi vaksin dan bahan biologis terapeutik.
Pembahasan mencakup berbagai tahapan pengembangan produk, mulai dari proses manufaktur, pelaksanaan uji klinis, hingga ketentuan regulasi.
Sasaran kedua adalah membuka peluang kerja sama penelitian dengan institusi dan negara lain.
Keterlibatan akademisi, peneliti, regulator, dan pelaku industri diharapkan dapat memperkuat pengembangan teknologi serta kapasitas penelitian vaksin.
Sasaran ketiga adalah memetakan persoalan dan kebutuhan setiap pihak untuk menemukan peluang kerja sama yang dapat diwujudkan dalam program konkret.
Pemetaan tersebut diperlukan agar hasil pertemuan internasional tidak berhenti pada pertukaran informasi, tetapi berlanjut menjadi kegiatan riset bersama.
Kolaborasi Global Diharapkan Perkuat Kesiapsiagaan Pandemi
Laura menekankan bahwa kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit menular membutuhkan penguatan kemampuan penelitian dan kerja sama yang berkelanjutan.
Menurutnya, setiap negara memiliki tantangan berbeda dalam pengembangan vaksin, sehingga kolaborasi diperlukan untuk saling melengkapi kemampuan yang tersedia.
“Harapannya, kita lebih waspada dan siap menghadapi kemungkinan epidemi atau pandemi di masa mendatang karena bekerja sama,” kata Laura.
Forum Vaccine World Asia Congress-Southeast Asia and Biologics World Southeast Asia 2026 mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem vaksin dan produk biologis.
Peserta forum mencakup pemerintah sebagai regulator, industri farmasi, perusahaan teknologi kesehatan, akademisi, peneliti, serta praktisi sektor kesehatan.
Melalui partisipasi tersebut, Unair berharap dapat memperluas jejaring penelitian internasional sekaligus meningkatkan kemampuan nasional dalam pengembangan teknologi vaksin.
Penguatan kolaborasi riset dan transfer teknologi diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan Indonesia terhadap kemungkinan epidemi dan pandemi pada masa mendatang.
- Penulis :
- Aditya Yohan




