
Pantau - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon meresmikan Museum Keris Indonesia di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Jumat (16/10), setelah menjalani revitalisasi untuk memperkuat pelestarian warisan budaya dan meningkatkan fungsi museum sebagai pusat edukasi serta pengetahuan kebudayaan.
Peresmian tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mengembangkan museum sebagai ruang pembelajaran sejarah, pusat informasi, dan sarana pelestarian kekayaan budaya Indonesia.
Fadli menjelaskan bahwa Museum Keris Indonesia sebelumnya bernama Museum Pusaka, kemudian mengalami perubahan nama untuk mempertegas identitas serta fokus koleksi yang dimiliki.
Menurutnya, penggunaan nama Museum Keris Indonesia lebih sesuai karena sebagian besar koleksi yang tersimpan dan dipamerkan berkaitan dengan keris serta tradisi perkerisan Nusantara.
"Pusaka itu terlalu luas. Bukan hanya keris, bukan hanya tombak, bisa pisau, bisa segala macam. Bahkan tanah air kita pun adalah pusaka," kata Fadli dalam sambutannya pada peresmian Museum Keris Indonesia di TMII.
Museum Keris Indonesia Miliki 6.021 Koleksi Warisan Budaya
Fadli mengungkapkan bahwa Museum Keris Indonesia saat ini menyimpan sebanyak 6.021 koleksi yang terdiri atas berbagai benda bersejarah dan warisan budaya Nusantara.
Ribuan koleksi tersebut mencakup keris, tombak, pedang, serta sejumlah kecil keramik yang menjadi bagian dari kekayaan benda budaya museum.
Menurut Fadli, keberadaan museum tidak hanya ditujukan sebagai tempat penyimpanan dan pameran benda pusaka, tetapi juga sebagai sarana perawatan koleksi dan pengembangan pengetahuan mengenai tradisi perkerisan.
Museum tersebut diharapkan mampu menjalankan fungsi dokumentasi sejarah sekaligus memperkenalkan keris kepada masyarakat sebagai salah satu warisan budaya penting Indonesia.
Fadli menjelaskan bahwa koleksi Museum Keris Indonesia mencerminkan keberagaman tradisi perkerisan yang berkembang di berbagai wilayah Nusantara.
Tradisi perkerisan tidak hanya ditemukan di Pulau Jawa, tetapi juga berkembang di Sumatera, Bali, Lombok, Sumbawa, Sulawesi, Kalimantan, hingga berbagai kawasan Indonesia bagian timur.
Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa keris memiliki persebaran budaya yang luas dan berkaitan dengan sejarah serta tradisi masyarakat di berbagai daerah.
Melalui koleksi yang dimiliki, Museum Keris Indonesia diharapkan dapat memperkenalkan kekayaan tradisi perkerisan kepada pengunjung secara lebih menyeluruh.
Revitalisasi Museum Jadi Arahan Presiden Prabowo Subianto
Fadli menyampaikan bahwa revitalisasi Museum Keris Indonesia merupakan bagian dari pelaksanaan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan pembaruan terhadap museum dan cagar budaya di berbagai wilayah Indonesia.
Melalui program tersebut, pemerintah berupaya menjadikan museum sebagai institusi kebudayaan yang memiliki fungsi lebih luas dan semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Fadli menekankan bahwa museum harus mampu berperan sebagai pusat edukasi, pusat budaya, pusat informasi, sekaligus ruang pengembangan kebudayaan yang memperkuat jati diri bangsa.
Menurutnya, revitalisasi museum tidak boleh hanya berfokus pada perbaikan bangunan, pembenahan fasilitas, maupun peningkatan kualitas infrastruktur fisik.
Proses pembaruan juga harus disertai penguatan tata kelola, peningkatan kualitas kurasi koleksi, kegiatan penelitian, serta pemanfaatan teknologi digital.
Selain itu, pengembangan narasi kebudayaan dan perluasan akses masyarakat terhadap pengetahuan menjadi aspek penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan museum.
"Revitalisasi tidak boleh berhenti hanya pembenahan fisik, bangunan dan fasilitas. Revitalisasi harus diikuti penguatan tata kelola, kurasi, riset, digitalisasi, narasi, serta penguatan akses terhadap pengetahuan," kata Menbud.
Fadli berharap hasil revitalisasi Museum Keris Indonesia dapat terlihat melalui peningkatan kualitas pengelolaan, perawatan koleksi, serta penyajian informasi yang lebih mudah dipahami masyarakat.
Pembaruan museum juga diharapkan mencakup penyusunan alur cerita pameran atau storyline yang mampu menjelaskan sejarah dan perkembangan keris secara menarik.
Penguatan narasi kuratorial diperlukan agar setiap koleksi tidak hanya menjadi benda pajangan, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai nilai sejarah dan budaya yang terkandung di dalamnya.
Museum Keris Indonesia juga diharapkan menghadirkan berbagai program edukasi yang mampu memberikan pengalaman baru kepada pengunjung, khususnya generasi muda.
Fadli Zon Tegaskan Keris Bukan Sekadar Senjata atau Benda Mistis
Fadli menegaskan bahwa keris tidak seharusnya hanya dipandang sebagai senjata tradisional, benda pusaka, ataupun objek yang identik dengan hal-hal mistis.
Menurutnya, keris merupakan warisan budaya yang memiliki makna lebih luas karena mencerminkan ekspresi seni, pengetahuan tradisional, sejarah, perkembangan teknologi, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat.
Keris juga mengandung pengetahuan dan keterampilan tradisional yang berkembang serta diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Fadli mengingatkan bahwa keris telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Pengakuan internasional tersebut menunjukkan pentingnya tradisi perkerisan sebagai bagian dari kekayaan budaya yang perlu dijaga keberlangsungannya.
Menurut Fadli, pengakuan UNESCO juga membawa tanggung jawab bersama untuk melestarikan pengetahuan, keterampilan, dan tradisi yang berkaitan dengan pembuatan maupun perawatan keris.
Upaya pelestarian tersebut diperlukan agar tradisi perkerisan tetap hidup di tengah masyarakat dan dapat diteruskan kepada generasi mendatang.
Museum Keris Indonesia Diharapkan Tingkatkan Kunjungan Wisatawan ke TMII
Fadli berharap peresmian Museum Keris Indonesia setelah revitalisasi menjadi awal pengembangan museum yang semakin berkualitas, baik dari sisi pengelolaan koleksi, penyajian informasi, maupun pelaksanaan program kebudayaan.
Pembaruan museum tersebut juga diharapkan menjadi inspirasi bagi museum-museum lain di kawasan TMII untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan pengalaman edukasi bagi pengunjung.
Menurutnya, keberadaan Museum Keris Indonesia dapat memberikan daya tarik tambahan bagi kawasan TMII sehingga mampu mendorong peningkatan jumlah kunjungan masyarakat.
Fadli menginginkan TMII tidak hanya dikenal sebagai kawasan wisata, tetapi juga berkembang menjadi ruang kebudayaan yang hidup dan dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengenal sejarah serta kekayaan budaya bangsa.
Generasi muda menjadi salah satu kelompok yang diharapkan semakin tertarik mengunjungi museum, mempelajari sejarah, dan memahami nilai-nilai budaya yang diwariskan generasi sebelumnya.
Fadli turut mengajak masyarakat menjadikan kunjungan ke museum sebagai salah satu cara mengenal kekayaan budaya Indonesia sekaligus berpartisipasi dalam upaya pelestariannya.
"Saya mengajak mengunjungi museum, mengenal sejarah dan kekayaan budaya kita, serta turut mengambil bagian dalam merawat dan meneruskannya," kata Fadli.
- Penulis :
- Leon Weldrick




