
Pantau - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) mengerahkan satu unit helikopter MI-17 dari Skadron 31/Serbu Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad) untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi yang telah menghanguskan 4.363,86 hektare lahan sepanjang 1 Januari hingga 16 Oktober 2026.
Helikopter yang didatangkan dari Semarang, Jawa Tengah, tersebut tiba di Jambi pada Sabtu (17/10/2026) dan dijadwalkan mulai dioperasikan pada Minggu (18/10/2026).
Pengerahan armada udara tersebut dilakukan untuk membantu mobilisasi personel dan perlengkapan pemadaman menuju kawasan Taman Nasional (TN) Berbak dan Taman Hutan Raya (Tahura) Orang Kayo Hitam yang masih mengalami kebakaran.
Pelaksana Harian (Plh.) Satgas Karhutla Jambi Brigjen TNI Nyamin mengatakan helikopter MI-17 akan digunakan untuk mendukung operasi penanganan kebakaran, terutama di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
"Hari ini, MI-17 (helikopter) yang dikirim dari Semarang sudah sampai di sini dan rencana besok pagi kita operasionalkan," kata Brigjen TNI Nyamin di posko udara penanganan karhutla, Kota Jambi, Sabtu.
Helikopter MI-17 Disiapkan untuk Angkut Personel dan Peralatan Pemadaman
Sebelum helikopter MI-17 diterjunkan ke lokasi kebakaran, Satgas Karhutla Jambi akan menggelar rapat koordinasi pada Minggu (18/10/2026).
Rapat tersebut bertujuan menentukan lokasi pendaratan helikopter sekaligus mengatur jumlah personel yang akan diangkut menuju kawasan terdampak kebakaran.
Penentuan area pendaratan menjadi salah satu bagian penting dalam persiapan operasi karena sejumlah titik api berada di kawasan hutan dan lahan yang sulit diakses melalui jalur darat.
Selain mengangkut personel, helikopter MI-17 juga disiapkan untuk membawa berbagai perlengkapan yang dibutuhkan dalam kegiatan pemadaman.
Peralatan tersebut meliputi mesin pompa air, selang pemadam, serta tenda regu yang akan digunakan personel selama menjalankan tugas di lapangan.
Seluruh perlengkapan direncanakan dibawa menuju posko penempatan untuk menunjang kegiatan pemadaman dan kebutuhan operasional petugas.
Dukungan helikopter diharapkan dapat mempercepat mobilisasi personel dan peralatan sehingga penanganan titik api di kawasan yang sulit dijangkau dapat dilakukan lebih efektif.
Sebanyak 148 Personel Gabungan Dikerahkan ke Tiga Lokasi Karhutla
Satgas Karhutla Jambi mengerahkan sebanyak 148 personel gabungan untuk memperkuat operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan.
Personel tersebut berasal dari unsur TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), tim pencarian dan pertolongan (SAR), serta Manggala Agni.
Sebanyak 148 personel gabungan tersebut akan ditempatkan di tiga lokasi utama yang berada di kawasan Taman Nasional Berbak dan Tahura Orang Kayo Hitam.
Lokasi pertama berada di wilayah Desa Rantau Rasau dan Sungai Rambut, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, yang termasuk kawasan Taman Nasional Berbak.
Penempatan berikutnya dilakukan di Desa Labuhan Pering, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, yang juga berada di kawasan Taman Nasional Berbak.
Sementara itu, lokasi ketiga berada di Desa Sungai Aur, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, yang termasuk kawasan Tahura Orang Kayo Hitam.
Penempatan personel di sejumlah lokasi tersebut dilakukan untuk memperkuat pemadaman darat pada kawasan yang masih mengalami kebakaran.
Untuk tahap awal, personel gabungan dijadwalkan menjalankan penugasan selama kurang lebih satu minggu.
Selama masa penugasan, petugas akan melakukan operasi pemadaman dengan dukungan perlengkapan lapangan dan armada udara yang tersedia.
Akses Sulit dan Kebakaran Lahan Gambut Jadi Kendala Pemadaman
Brigjen TNI Nyamin yang juga menjabat sebagai Komandan Korem (Danrem) 042/Garuda Putih menjelaskan bahwa kondisi kebakaran di Jambi masih memerlukan penanganan karena sejumlah titik api masih terpantau.
Salah satu kendala utama yang dihadapi Satgas Karhutla adalah kondisi geografis yang menyulitkan personel menjangkau lokasi kebakaran melalui jalur darat.
Keterbatasan akses tersebut menyebabkan petugas tidak dapat langsung memasuki sejumlah kawasan yang masih terdapat titik api.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Satgas memaksimalkan pemadaman melalui udara menggunakan metode water bombing atau pengeboman air dari helikopter.
Metode tersebut dilakukan dengan menjatuhkan air dari udara menuju kawasan yang mengalami kebakaran untuk menekan dan memadamkan api.
Namun, pemadaman melalui udara menghadapi tantangan tersendiri ketika kebakaran terjadi di kawasan lahan gambut.
Air yang dijatuhkan melalui metode water bombing umumnya hanya membasahi bagian permukaan atas lahan gambut.
Sementara itu, lapisan gambut di bawah permukaan masih berpotensi menyimpan bara api meskipun bagian atasnya telah terkena air.
Kondisi tersebut menyebabkan pemadaman kebakaran lahan gambut tidak cukup hanya mengandalkan penyiraman air dari udara.
Oleh karena itu, Satgas Karhutla Jambi tetap mengombinasikan operasi pemadaman melalui jalur darat dan udara untuk menangani kebakaran yang masih berlangsung.
Dua Helikopter Pengeboman Air Masih Beroperasi di Jambi
Selain mengerahkan helikopter MI-17 dari TNI AD, Satgas Karhutla Jambi masih mengoperasikan dua helikopter untuk melakukan pemadaman melalui udara.
Kedua helikopter tersebut digunakan dalam operasi water bombing pada kawasan yang mengalami kebakaran.
Brigjen TNI Nyamin menegaskan bahwa pemadaman melalui jalur darat dan udara tetap dilakukan secara bersamaan untuk mempercepat penanganan titik api.
"Pemadaman kita kedua duanya darat dan udara waterbombing masih kita lalukan, termasuk hari ini kan dua helikopter waterombing melakukan pemadaman lewat udara," tutupnya.
Operasi darat dilakukan oleh personel gabungan yang ditempatkan di sejumlah lokasi kebakaran, sedangkan pemadaman udara dilaksanakan menggunakan helikopter yang telah disiapkan.
Kombinasi kedua metode tersebut diperlukan karena kebakaran di kawasan lahan gambut berpotensi menyisakan bara api di bawah permukaan tanah.
Dengan dukungan personel darat dan armada udara, Satgas berharap penanganan kebakaran di kawasan Taman Nasional Berbak dan Tahura Orang Kayo Hitam dapat berlangsung lebih optimal.
Luas Karhutla Jambi Capai 4.363,86 Hektare hingga 16 Oktober 2026
Berdasarkan data Satgas Karhutla Provinsi Jambi, luas lahan yang tercatat mengalami kebakaran selama periode 1 Januari hingga 16 Oktober 2026 mencapai 4.363,86 hektare.
Angka tersebut merupakan akumulasi luas lahan yang terbakar sepanjang periode tersebut dan menjadi gambaran kondisi karhutla yang ditangani di Provinsi Jambi.
Dengan masih terpantau sejumlah titik api, Satgas terus memperkuat operasi pemadaman melalui penambahan dukungan personel dan armada udara.
Pengerahan helikopter MI-17 dari Semarang menjadi salah satu langkah untuk mengatasi kendala mobilisasi menuju kawasan kebakaran yang sulit dijangkau.
Helikopter tersebut diharapkan dapat membantu pengangkutan personel dan perlengkapan sehingga operasi pemadaman darat dapat menjangkau lokasi sasaran.
Satgas Karhutla Jambi juga akan terus mengoptimalkan penggunaan helikopter pengeboman air untuk mendukung upaya pemadaman dari udara.
Melalui pengerahan 148 personel gabungan, tambahan helikopter MI-17, serta pemadaman darat dan udara secara bersamaan, Satgas Karhutla Jambi berupaya mempercepat penanganan kebakaran yang masih berlangsung di kawasan hutan dan lahan gambut.
- Penulis :
- Arian Mesa




