HOME  ⁄  Nasional

Sekolah Rakyat Lombok Barat Terapkan Pendidikan Asrama 24 Jam untuk Bentuk Karakter Siswa dari Keluarga Miskin

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Sekolah Rakyat Lombok Barat Terapkan Pendidikan Asrama 24 Jam untuk Bentuk Karakter Siswa dari Keluarga Miskin
Foto: Sejumlah siswa sekolah rakyat sedang latihan baris-berbaris di SRMP 18 Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Sabtu 17/10/2026 (sumber: ANTARA/Sugiharto Purnama)

Pantau - Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 18 Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), menerapkan sistem pendidikan berbasis asrama dengan pengasuhan selama 24 jam untuk membentuk karakter, kedisiplinan, kemampuan akademik, nilai spiritual, serta keterampilan sosial siswa dari keluarga kurang mampu.

Sistem pendidikan tersebut dirancang agar pembentukan karakter tidak hanya berlangsung selama kegiatan belajar mengajar di ruang kelas, tetapi juga diterapkan dalam seluruh aktivitas kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.

Kepala SRMP 18 Lombok Barat, Satria Irwandi, mengatakan pendidikan di Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada peningkatan kecerdasan intelektual, tetapi juga pengembangan kepribadian dan kemampuan siswa dalam berinteraksi dengan orang lain.

"Siswa tidak hanya diajarkan kemampuan secara kognitif, namun juga kemampuan spiritual, kemampuan bagaimana mereka berinteraksi dengan sesama," ujar Satria saat ditemui di SRMP 18 Lombok Barat, NTB, Sabtu (17/10/2026).

Menurutnya, pendidikan karakter menjadi salah satu bagian penting dalam proses pembelajaran karena kemampuan akademik perlu diimbangi dengan sikap, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Melalui sistem berasrama, pihak sekolah dapat memberikan pendampingan secara lebih intensif untuk memastikan perkembangan akademik dan perilaku siswa berjalan secara beriringan.

Sekolah Rakyat Lombok Barat Terapkan Pengasuhan Siswa Selama 24 Jam

Satria menjelaskan bahwa penerapan sistem pendidikan berasrama memungkinkan sekolah melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap siswa selama 24 jam.

Dalam pelaksanaannya, SRMP 18 Lombok Barat melibatkan wali asuh dan wali asrama yang bertugas mendampingi siswa selama tinggal jauh dari keluarga.

Kedua unsur pendamping tersebut menjalankan peran pengasuhan untuk membantu siswa menyesuaikan diri dengan kehidupan asrama sekaligus membangun kebiasaan positif.

"Kami mengawasi mereka selama 24 jam, sehingga ada pengasuhan yang kami terapkan di situ yang membangun karakter mereka. Ada peran wali asuh dan wali asrama sebagai pengganti orang tua," kata Satria.

Keberadaan wali asuh dan wali asrama menjadi bagian penting dalam pelaksanaan pendidikan karena mereka tidak hanya mengawasi kegiatan siswa, tetapi juga memberikan bimbingan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui pendampingan tersebut, siswa dibiasakan untuk mengembangkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan berinteraksi dengan sesama penghuni asrama.

Satria menilai pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui materi pembelajaran, tetapi perlu diterapkan melalui kebiasaan dan aktivitas yang dilakukan secara berkelanjutan.

Karena itu, lingkungan asrama dimanfaatkan sebagai bagian dari proses pendidikan untuk membentuk perilaku dan kepribadian siswa.

Siswa yang Mengalami Kesulitan Belajar Tidak Langsung Dikeluarkan

Selain menerapkan sistem pengasuhan selama 24 jam, SRMP 18 Lombok Barat juga mengembangkan pendekatan pendidikan inklusif bagi siswa dari keluarga miskin dengan beragam latar belakang sosial dan kemampuan akademik.

Satria menjelaskan bahwa setiap siswa memiliki kondisi dan kebutuhan pembelajaran yang berbeda sehingga sekolah perlu memberikan pendampingan sesuai dengan persoalan yang dihadapi.

Siswa yang mengalami keterlambatan kemampuan membaca, pernah terlibat perkelahian, atau menghadapi persoalan perilaku lainnya tidak langsung dikeluarkan dari sekolah.

Sebaliknya, pihak sekolah terlebih dahulu melakukan pendekatan untuk memahami penyebab kesulitan belajar maupun persoalan perilaku yang dialami siswa.

Salah satu langkah yang diterapkan adalah melakukan asesmen guna mengetahui faktor yang memengaruhi kemampuan akademik, kondisi psikologis, dan perkembangan perilaku siswa.

Hasil asesmen tersebut digunakan sebagai dasar untuk menentukan bentuk pembinaan dan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa.

Melalui pendekatan ini, sekolah berupaya memastikan siswa tetap memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan dan mengembangkan potensi yang dimiliki.

Sekolah Rakyat Gandeng Psikolog Kementerian Sosial untuk Dampingi Siswa

Dalam menangani siswa yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, SRMP 18 Lombok Barat bekerja sama dengan Sentra Paramita sebagai perwakilan Kementerian Sosial di Nusa Tenggara Barat.

Kerja sama tersebut dilakukan dengan melibatkan tenaga psikolog untuk membantu melakukan pemeriksaan terhadap siswa yang menghadapi persoalan tertentu.

"Kami minta bantuan pihak Sentra Paramita sebagai perwakilan Kementerian Sosial di NTB, yaitu dari psikolog untuk memeriksa," papar Satria.

Pelibatan psikolog menjadi bagian dari upaya sekolah memahami kondisi siswa secara lebih menyeluruh sebelum menentukan langkah penanganan.

Pendekatan tersebut juga bertujuan memastikan bahwa persoalan yang dihadapi siswa tidak hanya dilihat dari perilaku yang muncul, tetapi juga mempertimbangkan faktor lain yang mungkin memengaruhinya.

Dengan demikian, proses pembinaan dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan siswa agar mereka tetap memiliki kesempatan berkembang dalam lingkungan pendidikan.

Saat ini, SRMP 18 Lombok Barat memiliki sebanyak 100 siswa yang mengikuti kegiatan pendidikan dengan dukungan 14 tenaga guru.

Sebagai sekolah rintisan berbasis asrama, lembaga pendidikan tersebut juga didukung tenaga pendamping lainnya, termasuk wali asuh, wali asrama, dan petugas dapur.

Keberadaan tenaga pendukung tersebut diperlukan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar sekaligus memastikan kebutuhan pengasuhan siswa selama tinggal di lingkungan sekolah dapat terpenuhi.

Anak Buruh Tani di Sekolah Rakyat Bercita-cita Menjadi Dokter

Salah seorang siswa kelas VIII SRMP 18 Lombok Barat, Muhammad Marzuki, mengaku senang memperoleh kesempatan belajar di Sekolah Rakyat.

Remaja berusia 14 tahun tersebut merupakan anak seorang buruh tani yang memiliki cita-cita menjadi dokter.

Marzuki mengungkapkan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) menjadi salah satu mata pelajaran yang paling disukainya karena berkaitan dengan cita-cita yang ingin diwujudkan.

Ia berharap dapat terus melanjutkan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi agar memiliki kesempatan meraih profesi dokter pada masa depan.

Selain memiliki ketertarikan terhadap pelajaran IPA, Marzuki juga mempunyai kemampuan berbahasa Jepang.

Menurutnya, Sekolah Rakyat menyediakan berbagai fasilitas pembelajaran yang dapat dimanfaatkan siswa untuk mengembangkan kemampuan dan pengetahuan.

Namun, Marzuki mengaku pada awal masuk sekolah belum memahami cara menggunakan sejumlah fasilitas pendidikan yang tersedia.

"Fasilitas sekolah rakyat sangat banyak. Saat awal masuk ke sini, saya tidak tahu bagaimana cara mempelajarinya," kata Marzuki.

Kesempatan mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat memberikan akses bagi Marzuki untuk mempelajari berbagai bidang ilmu pengetahuan sekaligus mengembangkan keterampilan yang dimilikinya.

Pendidikan Berasrama Diharapkan Membuka Peluang Masa Depan Siswa

Penerapan pendidikan berasrama di SRMP 18 Lombok Barat menjadi bagian dari upaya menyediakan lingkungan pembelajaran yang mendukung perkembangan akademik dan pembentukan karakter siswa.

Melalui pengasuhan selama 24 jam, sekolah berupaya membangun kebiasaan disiplin, tanggung jawab, nilai spiritual, dan kemampuan sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan pendidikan inklusif juga diterapkan agar siswa dengan latar belakang dan kemampuan belajar yang berbeda tetap memperoleh kesempatan mengembangkan potensi mereka.

Dukungan guru, wali asuh, wali asrama, serta tenaga psikolog menjadi bagian dari sistem pendampingan yang dijalankan untuk membantu siswa menghadapi berbagai persoalan selama mengikuti pendidikan.

Dengan jumlah 100 siswa dan 14 guru, SRMP 18 Lombok Barat berupaya menjalankan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan kepribadian.

Program tersebut diharapkan dapat membantu anak-anak dari keluarga miskin memperoleh pendidikan yang layak, melanjutkan pembelajaran ke jenjang lebih tinggi, dan mempersiapkan masa depan sesuai dengan cita-cita masing-masing.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026