
Pantau - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 2.097 kejadian bencana di Indonesia sepanjang 2026 hingga 16 Oktober pukul 16.00 WIB, dengan kebakaran hutan dan lahan menjadi bencana terbanyak, sementara pemerintah terus memperkuat mitigasi untuk meningkatkan ketahanan masyarakat.
Berdasarkan infografik ANTARA yang mengacu pada data BNPB, kebakaran hutan dan lahan tercatat sebanyak 954 kejadian, disusul banjir 578 kejadian, cuaca ekstrem 337 kejadian, kekeringan 120 kejadian, dan tanah longsor 108 kejadian.
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi akibat faktor alam maupun aktivitas manusia.
Untuk mengurangi dampaknya, pemerintah sejak 2025 menjalankan berbagai langkah mitigasi, mulai dari penguatan sarana penanggulangan bencana hingga pengembangan sistem peringatan dini.
Kebakaran Hutan dan Lahan Jadi Bencana Terbanyak pada 2026
Data BNPB menunjukkan kebakaran hutan dan lahan mendominasi kejadian bencana di Indonesia sepanjang periode pencatatan 2026.
Jumlah kebakaran hutan dan lahan mencapai 954 kejadian, lebih tinggi dibandingkan jenis bencana lainnya.
Banjir menempati urutan kedua dengan 578 kejadian, sedangkan cuaca ekstrem berada di posisi ketiga dengan 337 kejadian.
Sementara itu, kekeringan tercatat sebanyak 120 kejadian dan tanah longsor mencapai 108 kejadian.
Kelima jenis bencana tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat terhadap berbagai ancaman yang dapat terjadi di wilayah masing-masing.
Pemerintah Siapkan Tambahan 200 Helikopter untuk Penanggulangan Bencana
Salah satu langkah mitigasi yang disiapkan pemerintah adalah memperkuat armada penanggulangan bencana.
Pemerintah merencanakan penambahan 200 unit helikopter mulai 2026 untuk mendukung kegiatan penanganan bencana.
Selain penguatan armada, pemerintah juga mengembangkan sistem peringatan dini berbasis dampak dan risiko bagi masyarakat.
Sistem tersebut diarahkan untuk membantu masyarakat memahami potensi ancaman bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan.
Pemerintah turut menyiapkan infrastruktur pendukung pengendalian bencana, termasuk tanggul laut di kawasan pantai utara Jawa.
Langkah lainnya adalah melakukan modifikasi cuaca untuk membantu mitigasi bencana hidrometeorologi, kekeringan, dan polusi udara.
Sebanyak 3.363 Desa dan Kelurahan Tangguh Bencana Dibentuk pada 2025
Penguatan mitigasi juga dilakukan melalui pembentukan Desa dan Kelurahan Tangguh Bencana.
Berdasarkan informasi dalam infografik ANTARA, jumlah Desa dan Kelurahan Tangguh Bencana mencapai 3.363 pada 2025.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana.
Pemerintah juga menekankan pentingnya peningkatan kesiapsiagaan aparatur, petugas, dan relawan agar proses evakuasi dapat berlangsung secara efektif.
Selain memperkuat respons darurat, mitigasi bertujuan mengurangi kerugian materi, kerusakan lingkungan, serta jumlah korban akibat bencana.
Presiden Prabowo Tekankan Pentingnya Investasi Peralatan Mitigasi
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau ring of fire menuntut peningkatan kemampuan mitigasi bencana.
Menurutnya, lembaga yang bertugas menghadapi bencana harus diperkuat agar mampu menjalankan penanganan secara optimal.
“Kita hidup di ring of fire, kita harus meningkatkan kemampuan mitigasi kita. Badan yang menghadapi bencana harus kita perkuat juga investasi di peralatan untuk kita mitigasi,” kata Presiden Prabowo sebagaimana dikutip dalam infografik ANTARA.
Penguatan peralatan tersebut menjadi salah satu bagian dari strategi pemerintah dalam meningkatkan kemampuan menghadapi ancaman bencana.
Melalui peningkatan armada, sistem peringatan dini, kesiapsiagaan masyarakat, dan pembangunan infrastruktur, pemerintah berupaya memperkuat ketahanan Indonesia terhadap berbagai jenis bencana.
- Penulis :
- Gerry Eka




