
Pantau - Akademisi dan penulis Dr Sutejo MHum mengemukakan bahwa karangan khas atau karkhas dalam jurnalistik dapat menjadi sumber inspirasi penulisan cerita pendek (cerpen) karena memiliki kekuatan narasi dan nilai kemanusiaan yang dapat dikembangkan melalui imajinasi pengarang.
Gagasan tersebut disampaikan Sutejo dalam tulisan telaah berjudul "Menulis Cerpen Berbasis Karkhas" yang dipublikasikan pada Minggu (18/10/2026).
Menurut Sutejo, penulis cerpen dapat memperoleh ide dari berbagai sumber, mulai dari pengalaman pribadi, cerita orang lain, pengamatan sosial, film, lukisan, berita, hingga karangan khas jurnalistik.
Ia menjelaskan bahwa karkhas memiliki karakteristik bercerita sehingga dapat menjadi bahan awal bagi pengarang untuk mengembangkan karya sastra.
Karangan Khas Memiliki Kekuatan Cerita dan Nilai Kemanusiaan
Sutejo menjelaskan bahwa karangan khas, yang dikenal dalam jurnalistik sebagai feature, merupakan tulisan yang menyampaikan fakta dengan pendekatan bercerita.
Jenis tulisan tersebut juga menonjolkan sisi kemanusiaan sehingga memiliki kedekatan dengan unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra.
Menurutnya, bentuk karkhas yang sudah menyerupai cerita menjadi salah satu alasan tulisan jurnalistik tersebut berpotensi menginspirasi penulisan cerpen.
Namun, terdapat perbedaan mendasar antara karkhas dan cerpen dalam penggunaan fakta serta kebebasan pengembangan cerita.
Karkhas tetap terikat pada fakta, ketepatan data, dan tanggung jawab jurnalistik terhadap peristiwa yang benar-benar terjadi.
Sementara itu, cerpen memberikan kebebasan kepada pengarang untuk menciptakan tokoh, konflik, latar, dan rangkaian peristiwa melalui imajinasi.
Sutejo menilai keduanya memiliki titik temu pada perhatian terhadap pengalaman dan nilai kemanusiaan.
Penulis Cerpen Dapat Mengembangkan Fakta Menjadi Cerita Fiksi
Dalam telaahnya, Sutejo menekankan bahwa menulis cerpen berdasarkan karkhas bukan berarti memindahkan seluruh isi tulisan jurnalistik ke dalam karya sastra.
Proses tersebut memerlukan penafsiran ulang terhadap pengalaman manusia yang menjadi dasar sebuah cerita.
Pengarang dapat menggunakan peristiwa atau persoalan kemanusiaan dalam karkhas sebagai titik awal untuk membangun narasi fiksi.
Pengembangan cerita kemudian dilakukan melalui kemampuan berimajinasi dan pengalaman kreatif masing-masing penulis.
Dengan pendekatan tersebut, sebuah peristiwa faktual dapat menjadi inspirasi bagi cerita yang tidak harus mengikuti seluruh kejadian sebenarnya.
Sutejo juga menempatkan pengalaman mental pengarang sebagai unsur penting dalam proses penciptaan karya sastra.
Pengalaman Hidup dan Pengamatan Sosial Juga Menjadi Sumber Ide Cerpen
Selain karkhas, Sutejo menyebut pengalaman hidup yang unik sebagai salah satu sumber gagasan penulisan cerpen.
Membaca karya sastra orang lain dan mendengarkan cerita teman juga dapat membantu penulis menemukan bahan cerita.
Pengamatan terhadap kenyataan sosial yang mengandung pertentangan atau ironi turut menjadi sumber inspirasi bagi pengarang.
Sementara itu, film, lukisan, dan berita dapat memberikan gambaran mengenai tokoh, suasana, maupun persoalan yang dapat dikembangkan menjadi cerita.
Berbagai sumber tersebut dapat diolah sesuai sudut pandang dan kemampuan kreatif penulis.
Melalui telaahnya, Sutejo menempatkan karangan khas sebagai salah satu jembatan antara penulisan jurnalistik yang berbasis fakta dan penciptaan cerpen yang mengandalkan imajinasi.
- Penulis :
- Gerry Eka




