
Pantau - Pemerintah Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menargetkan rehabilitasi sekolah yang rusak akibat bencana hidrometeorologi pada akhir 2025 dapat diselesaikan menjelang akhir 2026 guna memulihkan kegiatan belajar mengajar di lingkungan yang aman dan nyaman.
Bupati Agam Benni Warlis mengatakan pemerintah daerah terus mengawasi pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah agar proses pemulihan sektor pendidikan berjalan sesuai target.
"Kita menargetkan seluruh sekolah yang direhabilitasi selesai menjelang akhir tahun dan kita terus melakukan pengawasan agar target tercapai nantinya," kata Benni di Lubuk Basung, Minggu (18/10/2026).
Berdasarkan pendataan pemerintah daerah, sebanyak 67 satuan pendidikan mengalami kerusakan akibat bencana yang melanda Kabupaten Agam pada akhir 2025.
Sekolah terdampak terdiri atas 27 taman kanak-kanak dan pendidikan anak usia dini (TK/PAUD), 31 sekolah dasar (SD), serta sembilan sekolah menengah pertama (SMP).
Sebanyak 46 Sekolah Ditangani Melalui Dua Program Pemulihan
Benni menjelaskan bahwa sebanyak 37 sekolah mendapatkan perbaikan melalui program revitalisasi pascabencana yang dialokasikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Jumlah tersebut meliputi 15 TK/PAUD, 16 SD, dan enam SMP yang mengalami kerusakan akibat bencana.
Selain itu, sembilan sekolah lainnya mendapatkan penanganan melalui alokasi Tambahan Keuangan Daerah (TKD) 2026 yang dikhususkan untuk pemulihan pascabencana.
Sembilan sekolah tersebut terdiri atas tiga TK/PAUD, tiga SD, dan tiga SMP yang menjalani kegiatan rehabilitasi maupun rekonstruksi.
"Kedua program tersebut sedang berjalan dan menjadi langkah strategis dalam mempercepat pemulihan sarana dan prasarana pendidikan, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung di lingkungan yang lebih layak, aman dan nyaman," kata dia.
Dengan demikian, sebanyak 46 sekolah telah masuk dalam penanganan melalui kedua program tersebut.
Tiga Sekolah Direlokasi, Pemulihan Lainnya Libatkan BNPB
Selain 46 sekolah yang ditangani melalui program Kemendikdasmen dan TKD, pemerintah daerah juga menyiapkan langkah pemulihan bagi 21 satuan pendidikan lainnya.
Dari jumlah tersebut, tiga sekolah direncanakan untuk direlokasi dan usulannya telah diajukan kepada Kemendikdasmen.
Sementara itu, penanganan sekolah lainnya dilakukan melalui skema rehabilitasi dan rekonstruksi bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta program revitalisasi regional.
“Ini menjadi salah satu bukti nyata komitmen, kerja keras dan sinergi berbagai pihak dalam mendukung pemulihan sektor pendidikan di Agam,” ujar dia.
Benni menegaskan bahwa pemulihan fasilitas pendidikan menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah setelah bencana hidrometeorologi menimbulkan kerusakan cukup besar.
Kerusakan Jalan Turut Hambat Akses Pendidikan
Selain merusak bangunan sekolah, bencana hidrometeorologi pada akhir 2025 juga mengganggu akses menuju sejumlah fasilitas pendidikan.
"Selain kerusakan bangunan, sejumlah sekolah juga menghadapi kendala akses akibat rusak maupun terputusnya infrastruktur jalan," katanya.
Kondisi tersebut membuat pemulihan sektor pendidikan tidak hanya berfokus pada perbaikan ruang kelas, tetapi juga membutuhkan dukungan perbaikan infrastruktur penunjang.
Pemkab Agam terus menjalin kerja sama dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, organisasi pemerintah dan nonpemerintah, komunitas, serta masyarakat di kampung halaman maupun perantauan.
Kolaborasi tersebut dilakukan untuk mempercepat pemulihan fasilitas pendidikan dan mendukung kelancaran kegiatan belajar mengajar.
"Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Presiden dan Wakil Presiden, Mendikdasmen beserta jajaran, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap proses pemulihan Agam, khususnya sektor pendidikan," ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Agam menyatakan pengawasan terhadap seluruh program rehabilitasi akan terus dilakukan agar sekolah-sekolah terdampak dapat kembali digunakan secara layak dan aman.
- Penulis :
- Gerry Eka




