HOME  ⁄  Nasional

Brigjen TNI Agus Bhakti Ungkap Bahaya Perang Kognitif Abad ke-21, Media Sosial Jadi Medan Pertempuran Pikiran Manusia

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Brigjen TNI Agus Bhakti Ungkap Bahaya Perang Kognitif Abad ke-21, Media Sosial Jadi Medan Pertempuran Pikiran Manusia
Foto: (Sumber :Buku "Perang Kognitif: Eskalasi Digital, Demonstrasi, dan Demokrasi Indonesia 2025, karya Brigjen TNI Dr Agus Bhakti. (Screenshot).)

Pantau - Brigadir Jenderal TNI Dr. Agus Bhakti mengungkap ancaman perang kognitif pada abad ke-21 yang menjadikan pikiran manusia sebagai sasaran utama melalui manipulasi informasi, algoritma media sosial, dan penyebaran disinformasi di ruang digital.

Ancaman tersebut dibahas dalam bukunya berjudul Perang Kognitif: Eskalasi Digital, Demonstrasi, dan Demokrasi Indonesia 2025 yang mengulas perubahan karakter peperangan dari perebutan wilayah fisik menjadi pertarungan memengaruhi persepsi dan cara berpikir masyarakat.

Dalam ulasan buku yang ditulis Riza Fahriza dan diterbitkan ANTARA pada Selasa (20/10/2026), perang kognitif dianalogikan sebagai bentuk baru Pertempuran Stalingrad yang berlangsung di ruang psikologis manusia.

Agus Bhakti menjelaskan bahwa perang kognitif atau cognitive warfare tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi, tetapi juga memengaruhi cara otak manusia menerima, mengolah, dan menafsirkan pesan.

Perkembangan teknologi digital memungkinkan penyebaran narasi secara cepat dan luas, sehingga upaya memengaruhi persepsi masyarakat dapat dilakukan melalui berbagai platform media sosial.

Perang Kognitif Disebut sebagai Stalingrad Era Baru

Dalam bukunya, Agus Bhakti menggunakan gambaran Pertempuran Stalingrad untuk menjelaskan perubahan karakter konflik pada era digital.

Pertempuran Stalingrad berlangsung sejak 17 Juli 1942 hingga 2 Februari 1943 dan melibatkan pasukan Uni Soviet melawan Nazi Jerman.

Pertempuran tersebut menjadi salah satu peristiwa penting dalam Perang Dunia II karena berlangsung selama lebih dari enam bulan dengan korban jiwa dalam jumlah besar.

Dalam ulasan tersebut, jumlah korban dari pihak militer dan warga sipil diperkirakan mencapai 1,1 juta hingga 3 juta jiwa.

Jika peperangan konvensional mengandalkan pesawat tempur, tank, dan persenjataan untuk menguasai wilayah, perang kognitif berupaya menguasai cara berpikir dan persepsi manusia.

Perbandingan tersebut digunakan untuk menggambarkan bahwa dampak konflik tidak selalu berbentuk kehancuran bangunan atau infrastruktur.

Pada perang kognitif, dampak yang menjadi perhatian adalah rusaknya kepercayaan, melemahnya kemampuan berpikir kritis, serta munculnya perbedaan persepsi yang tajam di masyarakat.

Algoritma Media Sosial Jadi Instrumen Penyebaran Narasi

Agus Bhakti menjelaskan bahwa perang kognitif menggunakan sejumlah mekanisme untuk memengaruhi pemahaman dan respons psikologis masyarakat.

Mekanisme tersebut mencakup pembingkaian informasi atau framing, penentuan agenda, pengondisian, penargetan mikro atau microtargeting, serta penyebaran konten dalam berbagai format.

Strategi lainnya meliputi sinkronisasi pesan antarkanal, penguatan distribusi melalui algoritma, dan pengaturan narasi oleh aktor negara maupun nonnegara.

Menurut pembahasan dalam buku tersebut, algoritma media sosial dapat meningkatkan keterlihatan narasi tertentu sehingga menjangkau lebih banyak pengguna.

Format video pendek dan fitur penyuntingan konten di Facebook maupun Instagram juga memungkinkan informasi disalin, diubah, dan disebarluaskan dengan cepat.

Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan oleh jaringan akun untuk menyebarkan pesan secara berulang dan serentak.

Kecepatan distribusi informasi menjadi salah satu faktor penting karena pesan dapat menjangkau banyak pengguna dalam waktu singkat.

Penargetan Mikro Bisa Memanfaatkan Kerentanan Psikologis Pengguna

Salah satu metode yang mendapat perhatian dalam buku Agus Bhakti adalah microtargeting atau penargetan mikro.

Metode tersebut memungkinkan penyampaian pesan yang disesuaikan dengan karakteristik dan kerentanan psikologis kelompok sasaran.

Dalam konteks media sosial, konten yang diterima pengguna dapat dipengaruhi oleh sistem rekomendasi dan pola interaksi digital.

Agus Bhakti menyoroti bahwa pendekatan tersebut dapat digunakan untuk memperkuat respons emosional terhadap suatu isu.

Emosi seperti kemarahan, ketakutan, dan kebencian menjadi perhatian karena dapat memengaruhi cara seseorang menilai informasi.

Dalam kondisi emosional yang kuat, seseorang berpotensi lebih mudah menerima narasi sederhana yang sesuai dengan keyakinannya.

Perang kognitif karena itu tidak hanya berkaitan dengan isi pesan, tetapi juga dengan proses psikologis yang terjadi ketika seseorang menerima informasi.

Disinformasi Berpotensi Mengikis Kepercayaan Publik

Agus Bhakti menilai narasi, gambar, video, dan disinformasi dapat menjadi instrumen utama dalam perang kognitif.

Berbeda dengan perang konvensional yang menggunakan persenjataan fisik, perang kognitif memanfaatkan jaringan informasi untuk memengaruhi persepsi masyarakat.

Penyebaran pesan yang memicu perpecahan dapat diperkuat melalui algoritma dan interaksi antarpengguna media sosial.

Dalam bukunya, Agus Bhakti menyoroti dampak jangka panjang dari manipulasi persepsi terhadap kepercayaan dan pemahaman bersama di masyarakat.

"Kerusakan pada domain ini meliputi erosi kepercayaan, hilangnya realitas kolektif, dan degradasi akal sehat (common sense) yang jauh lebih sulit diperbaiki daripada kerusakan infrastruktur fisik," tulis Agus Bhakti dalam bukunya.

Pernyataan tersebut menggambarkan kekhawatiran terhadap dampak perang kognitif yang tidak selalu terlihat secara langsung.

Kerusakan yang dimaksud berkaitan dengan melemahnya kepercayaan masyarakat terhadap informasi serta meningkatnya kesulitan membedakan fakta dan manipulasi.

Buku Agus Bhakti Soroti Pentingnya Berpikir Jernih di Era Digital

Buku Perang Kognitif: Eskalasi Digital, Demonstrasi, dan Demokrasi Indonesia 2025 juga membahas pentingnya memahami cara kerja penyebaran informasi di tengah perkembangan teknologi digital.

Melalui pembahasan mengenai algoritma, manipulasi psikologis, dan distribusi konten, Agus Bhakti menguraikan bagaimana ruang digital dapat digunakan untuk memengaruhi pandangan masyarakat.

Buku tersebut turut memuat sejumlah kutipan yang mengajak pembaca mempertahankan kejernihan berpikir ketika menghadapi informasi yang belum terverifikasi.

Pesan tersebut berkaitan dengan meningkatnya peredaran hoaks dan berbagai narasi yang dapat memicu respons emosional di media sosial.

Pembahasan perang kognitif dalam buku itu juga menempatkan kemampuan masyarakat untuk menilai informasi secara kritis sebagai perhatian penting dalam menghadapi ancaman manipulasi digital.

Melalui analogi Stalingrad era baru, Agus Bhakti menggambarkan bahwa persaingan memengaruhi pikiran manusia telah menjadi salah satu bentuk konflik yang perlu dipahami pada abad ke-21.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026