HOME  ⁄  Nasional

BMKG Perkuat Simulasi Evakuasi Tsunami di Cilacap, Skenario Terburuk Perkirakan Gelombang 15 Meter

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

BMKG Perkuat Simulasi Evakuasi Tsunami di Cilacap, Skenario Terburuk Perkirakan Gelombang 15 Meter
Foto: (Sumber :Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah II Ana Oktavia Setiowati memberi keterangan pers setelah pembukaan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (21/10/2026). ANTARA/Sumarwoto..)

Pantau - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat edukasi kebencanaan dan simulasi evakuasi tsunami di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menyusul hasil pemodelan skenario terburuk yang menunjukkan potensi gelombang tsunami setinggi 15 meter akibat gempa besar di zona megathrust selatan Jawa.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah II Ana Oktavia Setiowati mengatakan waktu kedatangan tsunami di pesisir Cilacap diperkirakan sekitar 43–45 menit setelah gempa bumi terjadi berdasarkan pemodelan tersebut.

Informasi itu disampaikan Ana dalam pembukaan kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami yang diselenggarakan BMKG Stasiun Geofisika Banjarnegara di Cilacap, Rabu (21/10/2026).

“Informasi ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan harus dibangun sejak dini,” katanya.

BMKG menegaskan bahwa hasil pemodelan tersebut merupakan skenario mitigasi bencana, bukan prediksi bahwa gempa bumi dan tsunami akan terjadi dalam waktu dekat.

BMKG Ungkap Skenario Gempa Megathrust Magnitudo 9,1

Ana menjelaskan bahwa wilayah Cilacap memiliki potensi aktivitas gempa bumi yang berkaitan dengan sejumlah sumber gempa, termasuk Sesar Ajibarang dan zona megathrust di selatan Pulau Jawa.

Berdasarkan data pengamatan BMKG sepanjang 2009 hingga Maret 2026, tercatat sekitar 1.801 kejadian gempa bumi di wilayah Cilacap.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 11 kejadian gempa dilaporkan dirasakan oleh masyarakat.

Aktivitas kegempaan tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam penguatan pemantauan dan mitigasi bencana di wilayah pesisir selatan Jawa.

“Berdasarkan pemodelan skenario terburuk, gempa bumi bermagnitudo hingga 9,1 pada segmen megathrust di selatan Jawa menjadi salah satu skenario penting dalam mengkaji potensi tsunami di pesisir selatan,” katanya.

Ana menegaskan bahwa pemodelan gempa bermagnitudo 9,1 dan potensi tsunami setinggi 15 meter tidak dapat diartikan sebagai kepastian terjadinya bencana.

Hasil kajian tersebut digunakan untuk membantu pemerintah daerah dan masyarakat mempersiapkan langkah penyelamatan apabila terjadi gempa bumi yang berpotensi menimbulkan tsunami.

Waktu Kedatangan Tsunami Diperkirakan 43–45 Menit

Berdasarkan skenario yang dikaji BMKG, gelombang tsunami diperkirakan dapat mencapai pesisir Cilacap dalam waktu sekitar 43–45 menit setelah gempa terjadi.

Perkiraan waktu tersebut menjadi perhatian dalam penyusunan strategi evakuasi bagi masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di kawasan pesisir.

BMKG menilai kesiapsiagaan perlu dilakukan sebelum bencana terjadi agar masyarakat memahami jalur dan lokasi penyelamatan.

“Upaya mitigasi perlu dilakukan melalui pengenalan potensi ancaman, pemetaan jalur evakuasi, penyiapan tempat evakuasi sementara, serta latihan evakuasi secara berkala,” katanya.

Selain penyediaan tempat evakuasi, pemerintah daerah juga didorong untuk memastikan masyarakat mengetahui akses menuju kawasan yang lebih aman.

Ana mengimbau pemerintah daerah bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan BMKG untuk memasang serta melengkapi rambu-rambu jalur evakuasi.

Rambu tersebut diperlukan di sepanjang jalan yang menjadi akses penyelamatan masyarakat ketika menghadapi ancaman tsunami.

BMKG Gelar Simulasi Evakuasi dari Pantai Menuju Lokasi Aman

Melalui Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami, BMKG memberikan edukasi mengenai potensi bencana dan langkah penyelamatan diri kepada para peserta.

Kegiatan tersebut mencakup penyampaian materi, diskusi, simulasi gempa bumi di dalam ruangan, serta latihan evakuasi dari kawasan pantai menuju lokasi aman.

Ana mengatakan masyarakat perlu memiliki pengetahuan yang memadai mengenai cara melindungi diri sendiri, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya saat terjadi bencana.

Simulasi dilakukan untuk memberikan pengalaman langsung mengenai tindakan yang perlu diambil dalam situasi darurat.

Melalui latihan tersebut, peserta diharapkan dapat memahami prosedur evakuasi dan mengenali jalur penyelamatan yang tersedia.

BMKG juga mendorong agar kegiatan latihan evakuasi dilakukan secara berkala sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana.

Sirene Peringatan Dini Tsunami Dipasang di Pantai Jetis dan Tegalkamulyan

Untuk mendukung pemantauan aktivitas gempa bumi dan tsunami di Cilacap, BMKG telah memasang sejumlah peralatan operasional.

Peralatan tersebut meliputi seismometer, akselerometer, intensitimeter, serta sistem pendukung penyebarluasan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami.

Selain itu, sirene peringatan dini tsunami telah tersedia di kawasan Pantai Jetis dan Kelurahan Tegalkamulyan.

BMKG juga menempatkan perangkat pengukur perubahan muka air laut di Pantai Jetis serta kawasan Pelabuhan Perikanan Samudra Cilacap.

Keberadaan peralatan tersebut diharapkan dapat memperkuat pemantauan aktivitas kegempaan dan perubahan kondisi laut.

Sistem pemantauan dan peringatan dini juga menjadi bagian penting dalam mendukung kesiapsiagaan pemerintah daerah serta masyarakat pesisir.

BMKG Ingatkan Perlindungan Fasilitas Energi dan Air Bersih

Selain keselamatan masyarakat, BMKG menekankan pentingnya mitigasi terhadap objek vital dan infrastruktur layanan publik.

Ana mengatakan dampak bencana tidak hanya berpotensi menimbulkan korban jiwa, tetapi juga dapat mengganggu fasilitas penting yang menunjang kehidupan masyarakat.

Fasilitas energi dan jaringan penyediaan air bersih menjadi bagian dari infrastruktur yang perlu diperhatikan dalam perencanaan mitigasi.

“Potensi bencana bukan cuma kepada masyarakat atau struktur bangunan, tetapi juga objek-objek vital. Kerugian bukan cuma soal korban jiwa, juga materi,” kata Ana.

BMKG berharap penguatan edukasi, penyediaan peralatan pemantauan, pemetaan jalur evakuasi, dan perlindungan infrastruktur dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat Cilacap menghadapi potensi gempa bumi dan tsunami.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026