HOME  ⁄  Nasional

Aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Menurun, Status Masih Waspada dan Warga Dilarang Mendekat Radius 4 Kilometer

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Menurun, Status Masih Waspada dan Warga Dilarang Mendekat Radius 4 Kilometer
Foto: (Sumber :Erupsi Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. ANTARA/HO-PPG Lewotobi/aa.)

Pantau - Aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), menunjukkan penurunan selama periode 1–15 Oktober 2026, tetapi status gunung tersebut masih berada pada Level II atau Waspada.

Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-laki melaporkan penurunan sejumlah aktivitas kegempaan, terutama gempa vulkanik dalam, gempa frekuensi rendah, dan gempa harmonik.

Meski demikian, aktivitas fluida dan gas di dalam tubuh gunung api masih terdeteksi sehingga potensi erupsi belum sepenuhnya hilang.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-laki, Herman S Boro, menyampaikan hasil evaluasi tersebut dalam laporan yang diterima di Kupang, Jumat (23/10/2026).

Masyarakat dan wisatawan tetap diminta tidak beraktivitas dalam radius empat kilometer dari pusat erupsi serta mewaspadai potensi banjir lahar hujan.

Gempa Vulkanik Lewotobi Laki-laki Menurun pada Awal Oktober

Herman S Boro menjelaskan bahwa penurunan aktivitas vulkanik terlihat dari hasil pemantauan kegempaan selama 1–15 Oktober 2026.

Gempa vulkanik dalam tercatat sebanyak 65 kejadian, menurun dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 92 kejadian.

Gempa frekuensi rendah atau low frequency juga turun dari 70 menjadi 44 kejadian.

Sementara itu, gempa harmonik berkurang dari delapan menjadi dua kejadian.

Namun, gempa embusan sedikit meningkat dari 31 menjadi 33 kejadian.

Aktivitas kegempaan masih didominasi tremor nonharmonik dengan total 282 kejadian selama periode pengamatan.

Berikut rincian hasil pemantauan kegempaan Gunung Lewotobi Laki-laki:

  • Gempa vulkanik dalam: 65 kejadian, sebelumnya 92 kejadian.
  • Gempa frekuensi rendah: 44 kejadian, sebelumnya 70 kejadian.
  • Gempa harmonik: 2 kejadian, sebelumnya 8 kejadian.
  • Gempa embusan: 33 kejadian, sebelumnya 31 kejadian.
  • Tremor nonharmonik: 282 kejadian.

Berdasarkan data tersebut, sebagian besar parameter kegempaan menunjukkan penurunan meskipun aktivitas di dalam tubuh gunung api masih berlangsung.

Tidak Ada Gempa Letusan dan Guguran Selama 1–15 Oktober

Hasil pengamatan menunjukkan tidak terdapat gempa letusan maupun gempa guguran selama periode 1–15 Oktober 2026.

Kondisi tersebut melanjutkan periode pengamatan sebelumnya yang juga tidak mencatat kejadian erupsi.

Erupsi terakhir Gunung Lewotobi Laki-laki tercatat terjadi pada 31 Agustus 2026.

Dari pengamatan visual, kondisi gunung terpantau jelas pada waktu tertentu, tetapi juga tertutup kabut tebal.

Asap kawah utama terlihat berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang.

Ketinggian asap kawah tercatat sekitar 50–200 meter di atas puncak gunung.

Meski tidak terjadi erupsi selama periode pengamatan, petugas masih merekam aktivitas kegempaan yang berkaitan dengan pergerakan fluida dan gas di dalam gunung api.

Pemantauan Belum Temukan Peningkatan Tekanan Magmatik

Selain pengamatan kegempaan, petugas melakukan evaluasi terhadap perubahan bentuk tubuh gunung api atau deformasi.

Hasil pengamatan hingga 15 Oktober 2026 belum menunjukkan indikasi inflasi atau peningkatan tekanan magmatik secara menyeluruh.

Data dari alat pengukur kemiringan tanah atau tiltmeter di Nurabelen menunjukkan kondisi relatif stabil.

Sementara itu, pengamatan menggunakan Global Navigation Satellite System (GNSS) masih memperlihatkan perubahan horizontal yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.

Penurunan sejumlah parameter kegempaan dan belum adanya indikasi peningkatan tekanan magmatik secara konsisten menunjukkan aktivitas vulkanik relatif stabil.

Namun, kondisi tersebut tidak dapat diartikan bahwa ancaman erupsi telah berakhir.

Status Gunung Lewotobi Laki-laki Tetap Level II Waspada

Berdasarkan evaluasi visual dan instrumental, tingkat aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki masih ditetapkan pada Level II atau Waspada.

Masyarakat dan wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius empat kilometer dari pusat erupsi.

Pembatasan tersebut tetap berlaku meskipun sejumlah indikator aktivitas vulkanik menunjukkan penurunan.

Petugas menilai kewaspadaan masih diperlukan karena dinamika fluida dan gas di dalam tubuh gunung api belum sepenuhnya berhenti.

Masyarakat di sekitar gunung diharapkan tetap memperhatikan perkembangan aktivitas vulkanik dan mematuhi rekomendasi dari petugas pengamatan.

Delapan Wilayah Diminta Waspadai Banjir Lahar Hujan

Selain potensi erupsi, masyarakat di sekitar Gunung Lewotobi Laki-laki diminta mewaspadai kemungkinan banjir lahar hujan.

Ancaman tersebut perlu diperhatikan terutama ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi di kawasan puncak dan lereng gunung.

Aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Lewotobi Laki-laki menjadi area yang perlu diwaspadai.

Sebanyak delapan wilayah mendapat perhatian terkait potensi banjir lahar hujan, yakni:

  • Dulipali
  • Padang Pasir
  • Nobo
  • Klatanlo
  • Hokengjaya
  • Boru
  • Nawakote
  • Nurabelen

Warga di wilayah tersebut diminta meningkatkan kewaspadaan ketika terjadi hujan deras yang berpotensi memicu aliran material vulkanik melalui sungai.

Meskipun aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki menunjukkan kecenderungan menurun pada awal Oktober 2026, pembatasan aktivitas dalam radius empat kilometer dan kewaspadaan terhadap banjir lahar hujan tetap diberlakukan.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026