HOME  ⁄  Nasional

Kopassus Kerahkan Drone Dragonfish 25 ke Kapuas, Pantau Karhutla dengan Kamera Termal hingga Jarak 100 Km

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Kopassus Kerahkan Drone Dragonfish 25 ke Kapuas, Pantau Karhutla dengan Kamera Termal hingga Jarak 100 Km
Foto: Kedatangan tim drone Kopassus di Posko Induk Penanganan Tanggap Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla BPBD Kapuas di Kuala Kapuas, Jumat 23/10/2026 (sumber: ANTARA/ All Ikhwan)

Pantau - Komando Pasukan Khusus (Kopassus) mengerahkan tim drone Dragonfish 25 dari Jakarta untuk membantu pemantauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, dengan teknologi kamera termal yang mampu mendeteksi sumber panas dari udara.

Pengerahan tim tersebut dilakukan untuk memperkuat operasi penanganan karhutla melalui pemantauan udara jarak jauh yang dapat menjangkau kawasan luas, termasuk wilayah yang sulit diakses petugas melalui jalur darat.

Tim drone Kopassus ditugaskan mendukung Satuan Tugas (Satgas) Karhutla, khususnya Komando Distrik Militer (Kodim) 1011/Kuala Kapuas, dalam mengawasi kondisi wilayah dan mengidentifikasi kawasan yang berpotensi mengalami kebakaran.

Ketua Tim Drone Kopassus, Sersan Satu Reki, mengatakan pengerahan personel dan perangkat drone merupakan penugasan dari Komandan Kopassus (Dankopassus) atas perhatian Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad).

"Jadi, kedatangan kami di sini diperintahkan terutama oleh Dankopassus dan atas atensi Kasad untuk membantu Satgas Karhutla, khususnya Kodim 1011/Kuala Kapuas," ucap Reki saat berada di Posko Induk Tanggap Darurat Kekeringan dan Karhutla Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kapuas, Jumat.

Drone Dragonfish 25 Mampu Terbang Tiga Jam dan Jangkau Hampir 100 Kilometer

Reki menjelaskan bahwa Dragonfish 25 memiliki kemampuan pemantauan udara jarak jauh yang dapat membantu petugas mengawasi kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan.

Drone tersebut mampu terbang selama sekitar tiga jam dalam satu operasi penerbangan dengan jangkauan hampir 100 kilometer.

Kemampuan tersebut memungkinkan tim melakukan pengamatan terhadap sejumlah kawasan yang membutuhkan perhatian tanpa harus mengandalkan pemantauan langsung melalui jalur darat.

Dengan durasi penerbangan yang relatif panjang, Dragonfish 25 diharapkan dapat membantu petugas memperoleh gambaran kondisi wilayah secara lebih luas selama operasi penanganan karhutla berlangsung.

Teknologi pemantauan udara tersebut juga dapat digunakan untuk mengawasi kawasan yang memiliki keterbatasan akses, sehingga informasi mengenai kondisi lapangan tetap dapat diperoleh.

Selain memiliki kemampuan terbang jarak jauh, Dragonfish 25 dilengkapi kamera termal yang berfungsi mendeteksi sumber panas pada permukaan wilayah yang dipantau.

Sensor tersebut memungkinkan petugas mengidentifikasi indikasi titik panas yang berpotensi berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan.

Informasi mengenai sumber panas yang terdeteksi dapat menjadi bahan awal bagi petugas untuk menentukan lokasi yang membutuhkan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut.

Kamera Termal dan Siaran Langsung Bantu Pemantauan Karhutla

Selain kemampuan mendeteksi sumber panas, Dragonfish 25 memiliki fitur live streaming yang memungkinkan hasil pemantauan udara ditampilkan secara langsung melalui monitor.

Fitur tersebut dapat dimanfaatkan unsur pimpinan dan pihak terkait untuk menyaksikan kegiatan pemantauan tanpa harus berada di lokasi penerbangan drone.

Menurut Reki, kemampuan siaran langsung memungkinkan Kepala BPBD dan unsur pimpinan lainnya memperoleh gambaran kondisi wilayah yang sedang diawasi.

"Fitur kami bisa live streaming. Nanti para pimpinan, termasuk Kepala BPBD, bisa melihat langsung kegiatan kami di lapangan, mulai dari penerbangan hingga pemantauan kondisi wilayah," ujarnya.

Melalui teknologi tersebut, informasi mengenai kondisi lapangan diharapkan dapat diterima lebih cepat oleh pihak-pihak yang terlibat dalam operasi penanganan karhutla.

Hasil pemantauan udara juga dapat membantu petugas mengidentifikasi kawasan yang membutuhkan perhatian, terutama apabila ditemukan indikasi sumber panas.

Ketersediaan informasi secara langsung diharapkan dapat memperkuat koordinasi antara tim pemantau udara, petugas lapangan, dan unsur pimpinan dalam menentukan langkah penanganan.

Penggunaan kamera termal dan fitur siaran langsung menjadi bagian dari dukungan teknologi Kopassus untuk melengkapi kegiatan pengawasan yang telah dilakukan Satgas Karhutla.

Kopassus Turunkan 10 Personel untuk Operasi Pemantauan di Kapuas

Dalam penugasan di Kabupaten Kapuas, tim drone Kopassus terdiri atas delapan personel militer dan dua instruktur.

Dengan komposisi tersebut, sebanyak 10 orang terlibat dalam kegiatan pemantauan udara menggunakan drone Dragonfish 25.

Reki menjelaskan bahwa seluruh personel menjalankan tugas berdasarkan arahan komando dan kebutuhan operasi penanganan karhutla di lapangan.

Mengenai durasi penugasan, ia menyebut keberadaan tim Kopassus di Kabupaten Kapuas belum memiliki batas waktu khusus.

Tim akan tetap menjalankan kegiatan pemantauan selama masih mendapatkan perintah dari komando yang berwenang.

"Kami mengikuti perintah. Kalau diperintahkan tetap di sini, kami tetap di sini. Kami mengikuti sampai selesai," tegasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan kesiapan tim drone Kopassus untuk terus mendukung kegiatan Satgas Karhutla sesuai perkembangan situasi dan kebutuhan operasi.

Tim Drone Kopassus Berada di Bawah Koordinasi Kodim 1011/Kuala Kapuas

Selama menjalankan tugas di Kabupaten Kapuas, tim drone Kopassus berada di bawah koordinasi Kodim 1011/Kuala Kapuas.

Koordinasi tersebut mencakup pelaksanaan kegiatan pemantauan udara serta mekanisme penyampaian laporan hasil pengawasan wilayah.

Reki menjelaskan bahwa laporan awal mengenai pelaksanaan tugas tim drone akan disampaikan kepada Komandan Kodim 1011/Kuala Kapuas.

Mekanisme tersebut diterapkan agar informasi hasil pemantauan dapat disampaikan melalui jalur koordinasi yang telah ditentukan.

Data yang diperoleh dari pengamatan udara, termasuk kondisi wilayah dan indikasi sumber panas, diharapkan dapat menjadi bahan pendukung bagi unsur yang terlibat dalam penanganan karhutla.

Pemanfaatan teknologi Dragonfish 25 juga diharapkan dapat membantu meningkatkan efektivitas pengawasan terhadap kawasan yang memiliki potensi kebakaran.

Melalui dukungan personel, kamera termal, pemantauan jarak jauh, dan penyampaian informasi secara langsung, Kopassus berupaya memperkuat kegiatan Satgas Karhutla di Kabupaten Kapuas.

Kehadiran tim drone tersebut diharapkan dapat melengkapi pengawasan petugas di lapangan sekaligus mendukung pengambilan keputusan dalam operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026