
Pantau - Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menuntaskan program Aptisi Executive Rector Leadership Academy (AERLA) Angkatan I untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan rektor dan memperkuat tata kelola perguruan tinggi swasta (PTS) di Indonesia.
Program yang berlangsung selama tiga hari, pada 21–23 Oktober 2026 di Jakarta, tersebut diproyeksikan menjadi agenda strategis jangka panjang untuk mendorong peningkatan mutu pendidikan tinggi.
Melalui kegiatan ini, Aptisi dan Kemdiktisaintek menargetkan penguatan kapasitas kepemimpinan bagi sekitar 70.000 pimpinan perguruan tinggi swasta di seluruh Indonesia.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengapresiasi inisiatif Aptisi dalam menyelenggarakan program pengembangan kepemimpinan bagi para rektor PTS.
"Intinya adalah bagaimana meningkatkan kapasitas pemimpinan para rektor-rektor di perguruan tinggi swasta. Ini juga kesempatan juga kami menyampaikan bentuk-bentuk program-program dari kementerian kepada para rektor PTS. Program ini akan berlanjut, ini batch 1, nanti batch 2 berikutnya seperti apa," katanya dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (24/10/2026).
Mendiktisaintek Dorong Rektor PTS Tingkatkan Kapasitas Kepemimpinan
Brian menjelaskan bahwa program AERLA menjadi wadah untuk memperkuat kemampuan pimpinan perguruan tinggi swasta dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan tinggi.
Menurutnya, seorang rektor harus memiliki kemampuan kepemimpinan yang tidak hanya memahami pengelolaan institusi, tetapi juga dunia akademik, penelitian, dan pendidikan secara menyeluruh.
Ia menekankan bahwa pengelolaan perguruan tinggi tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan materi, tetapi juga harus memberikan manfaat sosial bagi masyarakat.
Brian berharap peserta AERLA Angkatan I dapat membagikan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh kepada rektor lainnya di berbagai daerah.
Dengan demikian, praktik pengelolaan perguruan tinggi yang dinilai berhasil dapat diterapkan secara lebih luas untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi nasional.
"Saya melihat PTS-PTS kita sudah sangat baik. Makanya, praktik-praktik baik yang sudah berjalan di PTS yang hari ini dikumpulkan itu diharapkan bisa ditularkan kepada kemimpinan pada selanjutnya," ucap Brian Yuliarto.
AERLA Jadi Wadah Evaluasi Kebijakan Kemdiktisaintek
Selain memperkuat kepemimpinan rektor, Brian menyebut kegiatan AERLA juga memberikan kesempatan bagi kementerian untuk menyosialisasikan berbagai program pemerintah kepada pimpinan PTS.
Melalui pertemuan tersebut, Kemdiktisaintek dapat memperoleh masukan langsung mengenai pelaksanaan kebijakan pendidikan tinggi.
Masukan dari para rektor dinilai penting untuk mengetahui berbagai kendala yang dihadapi perguruan tinggi swasta dalam menjalankan kegiatan akademik dan kelembagaan.
"Selain kami bisa memberikan sosialisasi terkait program Kemdiktisaintek dalam kegiatan ini, kami juga mendapatkan masukan-masukan terkait berbagai kebijakan kami, mana yang masih kurang, terutama untuk melayani perguruan tinggi swasta. Itu bisa kami optimalkan," ujar dia.
Brian berharap komunikasi antara pemerintah dan pimpinan PTS terus diperkuat agar berbagai kebijakan dapat disesuaikan dengan kebutuhan perguruan tinggi.
Ia juga memastikan program pengembangan kepemimpinan tersebut direncanakan berlanjut melalui penyelenggaraan angkatan berikutnya.
Aptisi Siapkan Rektor yang Adaptif dan Berorientasi pada Dampak Sosial
Ketua Umum Aptisi Budi Djatmiko menjelaskan bahwa AERLA dirancang sebagai wadah pertukaran pengalaman dan praktik terbaik dalam pengelolaan perguruan tinggi.
Menurutnya, para rektor membutuhkan ruang pembelajaran bersama untuk merumuskan solusi terhadap berbagai tantangan global di sektor pendidikan tinggi.
Program tersebut juga diarahkan untuk membentuk pemimpin perguruan tinggi yang adaptif, transformatif, dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Budi menyebut peserta AERLA memperoleh berbagai masukan mengenai arah kepemimpinan dan perkembangan pendidikan tinggi menuju 2035.
Ia mengungkapkan bahwa kegiatan pengembangan kepemimpinan serupa sebenarnya telah dilaksanakan sejak 2014, tetapi baru diresmikan secara khusus melalui program AERLA pada 2026.
Melalui penyelenggaraan yang lebih terstruktur, Aptisi berharap pengembangan kapasitas pimpinan perguruan tinggi dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Aptisi Prioritaskan Pendampingan Perguruan Tinggi di Indonesia Timur dan Tengah
Budi menegaskan bahwa Aptisi juga memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan perguruan tinggi swasta di wilayah Indonesia bagian timur dan tengah.
Menurutnya, sejumlah PTS di wilayah tersebut membutuhkan pendampingan dan dukungan lebih besar untuk meningkatkan kualitas kelembagaan serta memperkuat daya saing.
Pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya Aptisi untuk mendorong pemerataan mutu pendidikan tinggi di berbagai daerah.
Selain rektor, pengembangan kapasitas kepemimpinan juga direncanakan menjangkau wakil rektor, dekan, ketua program studi, dan pimpinan lembaga di lingkungan perguruan tinggi.
Aptisi menargetkan program tersebut dapat menjangkau 4.211 rektor di seluruh Indonesia melalui pelaksanaan pelatihan secara bertahap.
Penyelenggaraan AERLA Angkatan I yang ditutup pada Jumat (23/10/2026) menjadi langkah awal untuk memperluas penguatan kepemimpinan perguruan tinggi swasta melalui kerja sama Aptisi dan Kemdiktisaintek.
- Penulis :
- Aditya Yohan
- Editor :
- Aditya Yohan




