
Pantau - Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI) Jawa Timur menilai film Laut Bercerita menjadi sarana edukasi bagi generasi muda untuk memahami sejarah penculikan aktivis dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) menjelang Reformasi 1998.
Ketua IKOHI Jawa Timur Dandik Katjasungkana mengatakan film yang diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori tersebut dapat membantu generasi muda mengenal peristiwa penghilangan paksa aktivis yang terjadi pada masa lalu.
Pernyataan itu disampaikan Dandik di Surabaya, Minggu (25/10/2026), menjelang penayangan film Laut Bercerita secara serentak di bioskop Indonesia pada 29 Oktober 2026.
“Film ini menjadi media penting untuk mentransformasikan pengetahuan, terutama sejarah pelanggaran HAM masa lalu kepada anak-anak sekarang,” kata Dandik.
IKOHI Sebut Laut Bercerita Berangkat dari Fakta Sejarah
Dandik menjelaskan bahwa meskipun Laut Bercerita merupakan karya fiksi, cerita yang diangkat memiliki keterkaitan dengan peristiwa sejarah penculikan dan penghilangan paksa aktivis pada 1998.
Menurutnya, film tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda yang tidak mengalami langsung peristiwa menjelang Reformasi.
Ia juga menyambut positif antusiasme pembaca muda terhadap novel Laut Bercerita yang pertama kali diterbitkan pada 2017.
Kehadiran versi layar lebar diharapkan mampu memperluas jangkauan cerita kepada masyarakat yang belum membaca novelnya.
Dandik mengungkapkan bahwa IKOHI turut mendampingi Leila S. Chudori dalam proses penelitian untuk penulisan novel tersebut.
Proses penelitian itu melibatkan sejumlah korban penculikan aktivis, terutama yang berada di Jakarta dan Yogyakarta.
IKOHI juga mendukung peluncuran novel pada 2017 yang saat itu disertai pemutaran film pendek berdurasi sekitar 25 menit.
Generasi Muda Diajak Pelajari Sejarah Pelanggaran HAM
Dandik berharap penonton tidak hanya menikmati cerita yang disajikan dalam film, tetapi juga mencari informasi dari sumber sejarah yang kredibel.
Menurutnya, pemahaman mengenai peristiwa penghilangan paksa aktivis penting agar masyarakat tidak melupakan pelanggaran HAM yang pernah terjadi.
Ia menilai pembelajaran sejarah juga diperlukan untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa.
Dandik mengaitkan pesan film tersebut dengan persoalan yang menurutnya masih muncul dalam kehidupan masyarakat, termasuk represi terhadap aktivis dan penangkapan mahasiswa saat demonstrasi.
“Situasi pelanggaran HAM yang berulang-ulang itu terjadi karena tidak adanya pertanggungjawaban hukum maupun politik dari para pelakunya. Tidak ada preseden hukum untuk mengadili para pelanggar HAM berat,” ujarnya.
Dandik menegaskan bahwa penyelesaian kasus pelanggaran HAM secara adil merupakan bagian penting dalam upaya mencegah kejadian serupa pada masa mendatang.
Ia berharap generasi muda dapat memahami sejarah sekaligus mengambil peran dalam memperjuangkan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Sutradara Yosep Anggi Noen Soroti Kasus Orang Hilang
Sutradara Laut Bercerita, Yosep Anggi Noen, mengatakan film tersebut mengangkat peristiwa masa lalu yang hingga kini masih menyisakan persoalan.
Salah satu isu yang menjadi perhatian dalam film tersebut adalah kasus orang hilang dan pelanggaran HAM yang belum memperoleh kejelasan.
“Dalam karya kami, yang kami pilih adalah berbicara tentang masa lalu. Masa lalu yang sebenarnya masih belum memiliki kejelasan hingga sekarang, seperti kasus orang hilang, pelanggaran hak asasi manusia, dan sebagainya,” kata Yosep.
Menurut Yosep, film tersebut diharapkan menjadi sarana bagi masyarakat untuk melihat kembali sejarah yang belum terselesaikan.
Ia menilai pemahaman terhadap peristiwa masa lalu dapat menjadi landasan untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Laut Bercerita Tayang di Bioskop Indonesia Mulai 29 Oktober 2026
Film Laut Bercerita telah menjalani penayangan perdana di Busan, Korea Selatan, pada 11 Oktober 2026.
Setelah penayangan internasional tersebut, film ini dijadwalkan hadir secara serentak di bioskop Indonesia mulai Kamis (29/10/2026).
Adaptasi layar lebar dari novel Leila S. Chudori itu mengangkat kisah yang berkaitan dengan sejarah gerakan aktivis dan penghilangan paksa menjelang Reformasi 1998.
IKOHI Jawa Timur berharap kehadiran film tersebut dapat mendorong lebih banyak anak muda mempelajari sejarah, memahami hak asasi manusia, dan memperhatikan upaya penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu.
- Penulis :
- Gerry Eka




