HOME  ⁄  News

KJRI San Francisco Promosikan Kebaya Indonesia di Museum Seni Asia untuk Perkuat Diplomasi Budaya

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

KJRI San Francisco Promosikan Kebaya Indonesia di Museum Seni Asia untuk Perkuat Diplomasi Budaya
Foto: Gelar busana kebaya oleh Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) San Francisco dalam pameran kebaya dan budaya Indonesia bertajuk “Kebaya at the Museum” di Asian Art Museum San Francisco, Amerika Serikat, Sabtu (25/7/2026).

 

Pantau - Konsulat Jenderal Republik Indonesia di San Francisco menggelar pameran kebaya dan budaya Indonesia bertajuk Kebaya at the Museum di Asian Art Museum San Francisco dalam rangka memperingati Hari Kebaya Nasional sekaligus memperkuat diplomasi budaya antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Kebaya Diperkenalkan sebagai Warisan Budaya

Konsul Jenderal RI di San Francisco Yohpy Ichsan Wardana mengatakan kebaya yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO sejak 2024 menjadi cerminan identitas, sejarah, dan warisan budaya bersama di Asia Tenggara.

Ia mengatakan, "Kebaya mengajarkan bahwa warisan budaya tidak hanya merekam masa lalu, tetapi juga terus hidup dan berkembang mengikuti zaman.”

Yohpy menambahkan budaya menjadi sarana untuk membangun saling pengertian, mempererat persahabatan antarbangsa, serta memperkuat people-to-people diplomacy.

Acara tersebut menampilkan gelar busana oleh Komunitas Cinta Berkain Indonesia San Francisco yang memperagakan kebaya Kartini, kebaya encim, kebaya modern, hingga kebaya pengantin.

Pameran Dihadiri Ratusan Pengunjung

Pendiri Tracing Patterns Foundation Dr. Sandra Sardjono memaparkan evolusi kebaya selama lebih dari empat abad melalui arsip sejarah, karya seni, dan koleksi tekstil.

KJRI San Francisco juga menghadirkan pertunjukan ansambel gamelan, tari tradisional Sunda, gerai interaktif kaligrafi Aksara Jawa, serta sajian kuliner nusantara seperti rendang, ayam bakar, dan kopi Gayo.

Wakil Direktur dan Kurator Utama Asian Art Museum Dr. Robert Mintz mengatakan, “Kami ingin Asian Art Museum menjadi tempat di mana tradisi budaya Asia tidak hanya dipamerkan sebagai objek sejarah, tetapi juga dihidupkan melalui cerita, musik, seni pertunjukan, dan interaksi dengan masyarakat di Bay Area.”

KJRI San Francisco mencatat kegiatan yang berlangsung pada 25 Juli tersebut dihadiri lebih dari 300 pengunjung yang terdiri atas korps diplomatik, komunitas budaya dan tekstil, diaspora Indonesia, serta masyarakat Amerika Serikat.

Penulis :
Gerry Eka