HOME  ⁄  News

Kekeringan Akut Melanda Swiss, Pemerintah Larang Warga Cuci Mobil dan Siram Taman

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Kekeringan Akut Melanda Swiss, Pemerintah Larang Warga Cuci Mobil dan Siram Taman
Foto: Ilustrasi - Swiss.

Pantau - Sejumlah pemerintah daerah di Swiss membatasi penggunaan air dengan melarang warga mencuci mobil, menyiram taman, mengisi kolam renang, hingga mengambil air sungai setelah kekeringan dan panas ekstrem melanda negara tersebut.

Dinas cuaca nasional MeteoSuisse sebelumnya menetapkan peringatan kekeringan tertinggi pada tingkat empat untuk seluruh wilayah Swiss.

Kondisi tersebut mendorong hampir seluruh dari 26 kanton di Swiss menerapkan pembatasan penggunaan air.

Kanton Mulai Batasi Penggunaan Air

Menurut laporan harian Blick, otoritas Kanton Aargau yang berbatasan dengan Jerman melarang warga menyiram taman, mengisi kolam renang, dan mencuci kendaraan.

Pemerintah setempat juga melarang petani mengambil air dari sungai sehingga kondisi tersebut menimbulkan persoalan serius bagi sektor pertanian.

Kebijakan pembatasan serupa turut diberlakukan pemerintah Kanton Basel.

Pemerintah Kota Solothurn juga melarang petani mengambil air dari sungai "hingga waktu yang belum ditentukan," kata Blick.

Tingkat air di Danau Zurich dilaporkan turun secara signifikan, sementara kekeringan berkepanjangan turut memengaruhi Danau Constance dan Sungai Rhein Hilir.

Sejumlah perusahaan pelayaran terpaksa membatalkan layanan pada beberapa rute akibat kondisi tersebut.

Sumber Mata Air Mengering

Masyarakat di sejumlah kawasan pegunungan Swiss tengah, termasuk sekitar Gunung Pilatus dekat Kota Lucerne, harus mengandalkan pasokan air minum menggunakan mobil tanker atau traktor.

Langkah tersebut dilakukan setelah sumber mata air setempat mengering akibat kekeringan berkepanjangan.

Krisis di Swiss terjadi ketika sejumlah negara Eropa menghadapi periode panas ekstrem, dengan Spanyol, Portugal, Prancis, Italia, dan Yunani termasuk wilayah yang terdampak parah.

Presiden Prancis Emmanuel Macron pada 16 Juli menyatakan negaranya menghadapi jumlah kebakaran hutan tertinggi sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Penulis :
Gerry Eka