HOME  ⁄  News

Studi Sun Life: 70 Persen Keluarga Asia Khawatir Kekayaan Tak Bertahan ke Generasi Berikutnya

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Studi Sun Life: 70 Persen Keluarga Asia Khawatir Kekayaan Tak Bertahan ke Generasi Berikutnya
Foto: Sun Life logo

Pantau - Sebanyak 70 persen masyarakat Asia khawatir kekayaan mereka tidak akan bertahan hingga generasi berikutnya, sementara kesiapan penerima manfaat dalam mengelola warisan menjadi kekhawatiran utama berdasarkan studi terbaru Sun Life Asia.

Studi bertajuk Passing the Torch: When Legacy Means More Than Money itu melibatkan 3.073 responden dari Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Vietnam pada Agustus 2026.

Hasil riset menunjukkan hanya 20 persen responden yang merasa benar-benar siap mewariskan kekayaan mereka saat ini.

Di antara responden yang khawatir kekayaannya tidak bertahan, sebanyak 52 persen mencemaskan kesiapan penerima manfaat dalam mengelola warisan, lebih tinggi dibandingkan kekhawatiran terhadap volatilitas pasar sebesar 49 persen dan konflik terkait aset sebesar 44 persen.

Warisan Tak Lagi Hanya Berupa Uang

Studi tersebut menemukan 74 persen keluarga yang merencanakan warisan finansial juga berniat meneruskan nilai-nilai, pengetahuan, atau pelajaran hidup kepada generasi berikutnya.

Selain uang dan properti, responden ingin mewariskan keterampilan dan pendidikan sebesar 33 persen, nilai-nilai keluarga 32 persen, serta pelajaran hidup 31 persen.

Sebanyak 61 persen responden menginginkan kekayaan mereka membuka peluang jangka panjang bagi orang-orang terdekat, sedangkan 52 persen ingin kekayaan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti tempat tinggal dan layanan kesehatan.

Jumlah responden yang memiliki rencana warisan terdokumentasi sepenuhnya dan telah dikomunikasikan juga meningkat dari 10 persen pada 2025 menjadi 22 persen pada 2026.

Namun, peningkatan perencanaan tersebut belum diikuti kenaikan signifikan dalam tingkat kesiapan karena hanya 20 persen responden merasa benar-benar siap, dibandingkan 19 persen pada tahun sebelumnya.

David Broom, Chief Client and Distribution Officer Sun Life Asia, mengatakan rencana warisan tidak cukup hanya dituangkan secara tertulis.

"Rencana warisan belum bisa dianggap lengkap hanya karena sudah dibuat secara tertulis. Rencana tersebut perlu memastikan seluruh keluarga memiliki pemahaman yang sama tentang tujuan kekayaan tersebut, prinsip yang menjadi pedoman dalam mengelolanya, serta bagaimana generasi berikutnya dapat melanjutkan tanggung jawab itu. Dengan begitu, rencana yang telah disusun tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi juga dapat diterapkan dan bertahan dalam jangka panjang," kata David.

Gen Z dan Milenial Paling Khawatir

Kekhawatiran mengenai keberlangsungan kekayaan tercatat paling tinggi pada generasi muda, yakni 76 persen Gen Z dan Milenial.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Gen X sebesar 66 persen dan Baby Boomer sebesar 59 persen.

Sebanyak 27 persen responden juga menyebut kurangnya literasi keuangan generasi berikutnya sebagai salah satu risiko terbesar terhadap keberlangsungan kekayaan keluarga.

Sementara itu, 25 persen mengkhawatirkan generasi berikutnya tidak memiliki keyakinan yang cukup untuk mengelola kekayaan yang akan mereka terima.

"Mewariskan kekayaan mungkin merupakan keputusan yang cukup mudah, tetapi mempersiapkan seseorang untuk mengelolanya membutuhkan proses yang jauh lebih panjang. Keluarga yang melibatkan generasi berikutnya sejak dini dapat memanfaatkan pembicaraan tersebut untuk membangun kemampuan dalam mengambil keputusan finansial, memperjelas ekspektasi, dan mengurangi ketidakpastian sebelum tanggung jawab beralih kepada mereka. Penasihat keuangan tepercaya dapat membantu keluarga menjalani pembicaraan tersebut dengan lebih yakin dan mewujudkan niat baik menjadi rencana yang dipahami oleh seluruh anggota keluarga," ungkap David.

Keluarga Kaya Lebih Khawatir Risiko Investasi

Studi Sun Life Asia menemukan pola berbeda pada responden dengan kekayaan bersih tinggi yang lebih menyoroti risiko investasi, kompleksitas perpajakan dan hukum, serta kepercayaan terhadap penasihat.

Sebanyak 37 persen responden dengan kekayaan bersih tinggi memandang keputusan investasi yang kurang tepat sebagai risiko, dibandingkan 24 persen pada masyarakat umum.

Sebanyak 29 persen kelompok tersebut menyoroti kompleksitas perpajakan atau hukum, dibandingkan 18 persen masyarakat umum.

Sementara itu, hanya 20 persen responden dengan kekayaan bersih tinggi menilai perselisihan keluarga sebagai ancaman besar terhadap keberlangsungan kekayaan, dibandingkan 34 persen dari keseluruhan masyarakat yang disurvei.

CEO Sun Life Private Wealth Sujoy Ghosh mengatakan keluarga dengan kekayaan bersih tinggi membutuhkan keyakinan bahwa berbagai keputusan terkait pengelolaan kekayaan telah diambil secara tepat.

"Bagi keluarga dengan kekayaan bersih tinggi, menjaga kekayaan agar tetap bertahan lintas generasi bukan hanya soal menghindari konflik keluarga. Hal yang tak kalah penting adalah keyakinan bahwa setiap keputusan terkait kekayaan tersebut, mulai dari investasi hingga penataannya untuk generasi berikutnya, telah diambil dengan tepat. Karena itu, nasihat dari pihak yang tepercaya menjadi sangat penting. Keluarga semakin membutuhkan penasihat yang dapat menggabungkan berbagai keahlian yang tepat, membantu mereka menghadapi berbagai kompleksitas, dan mengambil keputusan yang bijak untuk kekayaan mereka di berbagai negara dan lintas generasi," kata Sujoy.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026