
Pantau - Produsen mobil mewah Bentley tetap mempertahankan identitasnya sebagai merek otomotif asal Inggris meskipun telah berada di bawah kepemilikan Volkswagen Group sejak 1998, dengan fasilitas produksi utama yang masih beroperasi di Crewe, Inggris.
Bentley yang didirikan pada 1919 dikenal melalui kendaraan mewah berperforma tinggi serta pengerjaan interior yang mengutamakan keterampilan tradisional.
Meskipun menggunakan berbagai teknologi dan komponen dari perusahaan otomotif Jerman, Bentley tetap mempertahankan proses produksi, pengecatan, serta personalisasi kendaraan di Inggris.
Dilansir dari Carscoops pada Sabtu (17/10/2026), perjalanan kepemilikan Bentley melibatkan persaingan antara Volkswagen dan BMW yang terjadi hampir tiga dekade lalu.
Sejarah Bentley Berawal dari Inggris hingga Diambil Alih Rolls-Royce
Bentley berdiri pada 1919 dan mulai membangun reputasi melalui produksi mobil mewah yang menggabungkan performa tinggi dengan kualitas pengerjaan.
Nama Bentley semakin dikenal setelah mencatat sejumlah kemenangan dalam ajang balap ketahanan Le Mans pada dekade 1920-an.
Namun, krisis ekonomi akibat kejatuhan pasar saham Wall Street pada 1929 membuat kondisi keuangan perusahaan memburuk.
Situasi tersebut menyebabkan Bentley akhirnya diambil alih oleh pesaingnya, Rolls-Royce.
Selama sekitar enam dekade berikutnya, kendaraan Bentley menggunakan sasis dan mesin yang dikembangkan Rolls-Royce.
Meski berada di bawah kepemilikan yang sama, Bentley tetap berupaya membangun karakter produknya sendiri.
Salah satu model yang menjadi bagian penting sejarah perusahaan adalah Bentley R-Type Continental yang diperkenalkan pada 1952.
Model tersebut kemudian menjadi salah satu inspirasi pengembangan Bentley Continental GT modern.
Volkswagen Kalahkan BMW dalam Perebutan Bentley pada 1998
Perubahan besar dalam kepemilikan Bentley terjadi pada 1998 ketika Vickers memutuskan menjual merek Bentley dan Rolls-Royce.
BMW yang sebelumnya memasok mesin V12 mengajukan penawaran sebesar 340 juta poundsterling atau sekitar Rp8,18 triliun untuk mengambil alih kedua merek tersebut.
Namun, Volkswagen memberikan penawaran lebih tinggi sebesar 430 juta poundsterling atau sekitar Rp10,3 triliun.
Penawaran tersebut membuat Volkswagen berhasil memperoleh pabrik di Crewe, kendaraan kedua merek, serta sejumlah aset desain Rolls-Royce.
Aset yang diperoleh Volkswagen mencakup maskot Spirit of Ecstasy dan desain gril khas Rolls-Royce.
Meski demikian, BMW sebelumnya telah membuat kesepakatan terpisah dengan Rolls-Royce PLC, perusahaan yang bergerak di bidang mesin pesawat.
Melalui kesepakatan senilai 40 juta poundsterling atau sekitar Rp962,4 miliar, BMW memperoleh lisensi penggunaan nama Rolls-Royce.
Kondisi tersebut kemudian mendorong kedua produsen otomotif Jerman mencapai kesepakatan pembagian aset.
BMW mengambil alih pengembangan mobil Rolls-Royce dan membangun fasilitas produksi baru di Goodwood, Inggris.
Sementara itu, Volkswagen mempertahankan Bentley dengan basis produksi di pabrik Crewe.
Bentley Tetap Diproduksi di Inggris, Sebagian Flying Spur Pernah Dirakit di Jerman
Setelah diambil alih Volkswagen, Bentley tetap mempertahankan fasilitas produksi utamanya di Pyms Lane, Crewe, Inggris.
Pabrik tersebut menjadi pusat produksi berbagai model Bentley, mulai dari SUV Bentayga hingga Batur Convertible.
Volkswagen tidak memindahkan seluruh kegiatan produksi Bentley ke Jerman meskipun perusahaan induknya berasal dari negara tersebut.
Namun, Bentley pernah melakukan pengecualian dengan memproduksi sebagian unit Flying Spur di fasilitas Volkswagen di Dresden, Jerman.
Langkah tersebut dilakukan untuk memenuhi tingginya permintaan setelah Flying Spur diluncurkan pada 2005.
Kebutuhan tambahan kapasitas produksi kembali muncul ketika permintaan terhadap model tersebut meningkat pada 2013.
Meski sebagian unit pernah diproduksi di Jerman, fasilitas Crewe tetap menjadi pusat utama kegiatan manufaktur Bentley.
Bentley Gunakan Teknologi Volkswagen dan Porsche untuk Mobil Modern
Di bawah kepemilikan Volkswagen Group, Bentley semakin banyak menggunakan teknologi dan komponen yang dikembangkan bersama merek otomotif lain dalam grup tersebut.
SUV Bentley Bentayga menggunakan platform yang juga digunakan Porsche Cayenne.
Sementara itu, Continental GT dan Flying Spur memanfaatkan arsitektur kendaraan yang sama dengan Porsche Panamera.
Perubahan juga terjadi pada penggunaan mesin Bentley setelah produksi mesin V8 berkapasitas 6,75 liter dihentikan pada 2020.
Mesin tersebut sebelumnya menjadi salah satu ciri khas Bentley sejak era kepemilikan Rolls-Royce.
Bentley modern kini menggunakan mesin V6 berkapasitas 3,0 liter dan V8 berkapasitas 4,0 liter dari Volkswagen yang diproduksi di daratan Eropa.
Selain mesin, sejumlah struktur bodi kendaraan juga dipasok dari Jerman, dengan sebagian komponen sebelumnya diproduksi di Slovakia.
Bentley Investasikan Rp8,4 Triliun untuk Modernisasi Pabrik Crewe
Walaupun menggunakan teknologi dari Volkswagen Group, Bentley tetap mempertahankan karakter kendaraan mewah melalui proses pengerjaan akhir di Inggris.
Pengerjaan cat, penyelesaian interior, dan layanan personalisasi Mulliner menjadi bagian penting dalam mempertahankan identitas merek tersebut.
Bentley juga melakukan investasi sebesar 350 juta poundsterling atau sekitar Rp8,4 triliun untuk mengembangkan fasilitas produksinya di Crewe.
Investasi tersebut mencakup pembangunan fasilitas pengecatan modern dan pusat teknis rekayasa baru.
Selain itu, Bentley menyiapkan lini produksi untuk Torcal yang disebut sebagai mobil listrik pertama perusahaan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari pengembangan teknologi kendaraan Bentley tanpa meninggalkan basis manufakturnya di Inggris.
Sejak 2021, Bentley berada di bawah kendali Audi sebagai bagian dari divisi Progressive Volkswagen.
Dengan struktur kepemilikan tersebut, Bentley tetap menjadi bagian dari Volkswagen Group sekaligus mempertahankan akar sejarah, lokasi produksi utama, dan karakter kendaraan mewah asal Inggris.
- Penulis :
- Gerry Eka




