HOME  ⁄  Politik

Hensa Nilai Teddy Indra Wijaya Mulai Tumbuh Jadi Figur Populer Nasional

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Hensa Nilai Teddy Indra Wijaya Mulai Tumbuh Jadi Figur Populer Nasional
Foto: (Sumber: Tangkapan layar - Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dalam pengumuman kebijakan transformasi budaya kerja nasional dan efisiensi energi yang berlangsung secara daring dari Seoul, Korea Selatan, melalui konferensi video dipantau di Jakarta, Selasa (31/3/2026). ANTARA/HO-Sekretariat Kabinet/aa.)

Pantau - Analis komunikasi politik Hendri Satrio menilai Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mulai tumbuh sebagai figur publik dengan daya tarik nasional.

Hendri Satrio atau Hensa mengatakan Teddy kini tidak lagi hanya dikenal sebagai orang dekat Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Hensa, popularitas Teddy semakin dikenal publik hingga ke wilayah terluar Indonesia.

Hal tersebut terlihat saat Teddy mendampingi Presiden Prabowo dalam kunjungan ke Pulau Miangas dan namanya disambut antusias warga.

“Terlihat dari kunjungan ke pulau terluar Indonesia saja, Teddy Indra Wijaya sekarang mulai dikenal publik bukan sekadar sebagai orang dekatnya pak Prabowo, ia sekarang tumbuh sebagai salah satu figur populer nasional,” kata Hensa.

Hensa menjelaskan pengenalan publik terhadap Teddy tidak selalu berkaitan dengan pemahaman masyarakat mengenai tugas jabatannya, tetapi lebih karena konsistensi kemunculannya dalam berbagai momen penting.

Menurut Hensa, kondisi tersebut memiliki nilai strategis dalam konteks politik ke depan.

“Orang mungkin tidak hafal tugas dia apa-apa, tetapi sudah tahu siapa dia, tahu bahwa dia sering muncul di momen yang berat, yang simbolik, yang emosional. Di politik, itu nilainya besar, soalnya kadang yang paling berpengaruh justru bukan yang paling banyak bicara, tapi yang sering hadir,” ujar Hensa.

Hensa Soroti Gaya Komunikasi Teddy yang Dinilai Dekat dengan Publik

Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI tersebut juga menyoroti gaya Teddy yang dinilai mampu membaca ritme interaksi dengan publik.

Hensa menilai Teddy mengetahui kapan perlu turun langsung ke lapangan dan kapan cukup menunjukkan kehadiran secara sederhana.

“Teddy juga kelihatan paham ritme kapan harus turun langsung ke lapangan, kapan cukup berdiri diam mendengarkan, kapan tampil sederhana, tetapi tetap jadi salah satu pusat perhatian publik,” kata Hensa.

Menurut Hensa, kedekatan figur dengan masyarakat sering kali terbentuk dari kesan kehadiran langsung di lapangan dibanding pidato panjang.

“Perlu diingat, publik Indonesia mudah dekat dengan figur yang kelihatan ikut capek, datang ke daerah jauh, jalan tanpa protokol berlebihan, bertemu warga tanpa banyak gimmick, di era media sosial ini efektif karena saat ini visual sering lebih kuat daripada penjelasan panjang,” ujar Hensa.

Meski demikian, Hensa mengingatkan bahwa meningkatnya keterkenalan merupakan fase yang sensitif.

Ia menilai eksposur yang konsisten dapat memunculkan pertanyaan publik mengenai arah peran Teddy di masa depan.

“Ketika seseorang belum punya agenda politik apa-apa, tetapi sudah sangat recognizable, orang akan mulai bertanya sendiri, 'Ini orang sebenarnya sedang dipersiapkan jadi apa?' dan pertanyaan seperti itu biasanya muncul bukan karena pencitraan yang berlebihan, tetapi karena eksposurnya konsisten,” kata Hensa.

Hensa juga mengingatkan agar momentum popularitas tersebut dijaga secara natural dan tidak terkesan berlebihan dalam membangun citra.

“Kalau momentumnya dijaga natural, popularitas seperti ini biasanya malah lebih kuat,” ujar Hensa.

Penulis :
Gerry Eka