
Pantau - Pemain tim nasional Aljazair Jaouen Hadjam menyebut kegagalan melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 menjadi pelajaran berharga bagi skuad muda Aljazair setelah tersingkir usai kalah dari Swiss pada babak 32 besar.
Hadjam Nilai Kekalahan Ditentukan Detail Kecil
Hadjam mengatakan tekanan dalam pertandingan hidup-mati merupakan hal yang wajar dan bukan menjadi penyebab utama kekalahan Aljazair.
"Setiap pertandingan di Piala Dunia selalu menghadirkan tekanan bagi semua tim. Mungkin hari ini tekanannya sedikit lebih besar karena ini laga hidup-mati, tetapi tekanan adalah hal yang baik dan kami membutuhkannya," ungkap Hadjam.
Menurutnya, pertandingan berlangsung ketat dan ditentukan oleh detail-detail kecil karena Aljazair mampu menciptakan sejumlah peluang, tetapi kurang efektif dalam penyelesaian akhir, sementara Swiss tampil lebih efisien.
"Kami melakukan banyak hal positif. Tentu kami harus tetap berpikir positif, tetapi kami juga tidak boleh puas karena pertandingan seperti ini ditentukan oleh detail kecil. Lawan lebih efektif dan itu yang membuat hasil ini sangat menyakitkan," katanya.
Hadjam mengakui seluruh pemain merasa kecewa karena yakin memiliki peluang untuk melangkah lebih jauh di turnamen tersebut.
"Kami benar-benar merasa punya kesempatan untuk lolos. Kompetisi ini hanya datang setiap empat tahun, dan momen seperti ini sangat langka. Kami sudah menunggunya cukup lama, dan sekarang semuanya berakhir. Itu sangat menyakitkan," ujarnya.
Minta Rekan Setim Bangkit dan Hormati Riyad Mahrez
Hadjam menegaskan pengalaman di Piala Dunia 2026 harus menjadi bahan evaluasi untuk membangun tim yang lebih matang, baik dari sisi mental maupun permainan.
Ia meminta seluruh pemain kembali bekerja keras bersama klub masing-masing agar dapat kembali memperkuat tim nasional dengan kualitas yang lebih baik.
"Sekarang kami harus kembali ke klub masing-masing dan bekerja dua kali lebih keras. Kami punya kelompok pemain yang bagus dan generasi yang menjanjikan. Jika kami terus berkembang, saya yakin kami bisa kembali lebih kuat," ungkapnya.
Hadjam juga memberikan penghormatan kepada kapten Aljazair Riyad Mahrez yang dinilainya menjadi sosok penting bagi perkembangan para pemain muda.
"Kami ingin memberikan akhir yang lebih indah untuknya, tetapi inilah sepak bola," katanya.
Ia menambahkan pengalaman bermain bersama Mahrez menjadi bekal berharga dalam perjalanan kariernya.
"Bisa bermain bersama Riyad Mahrez adalah sebuah kehormatan besar. Kami belajar banyak darinya setiap hari di tim nasional. Itu akan selalu menjadi kenangan yang sangat berharga," ujar Hadjam.
Aljazair mengakhiri perjalanan di Piala Dunia 2026 pada babak 32 besar setelah sebelumnya lolos ke fase gugur sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik dari fase grup.
- Penulis :
- Arian Mesa





