
Pantau - Ketua Umum PSSI sekaligus Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menegaskan pembinaan sepak bola usia dini melalui turnamen tingkat akar rumput menjadi fondasi utama dalam mencetak pemain tim nasional Indonesia pada masa mendatang saat menghadiri Festival Grassroot U-10 dan U-12 Piala Presiden di JEC Soccer Field, Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (8/7/2026).
Pembinaan Dimulai dari Tingkat Akar Rumput
Erick menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan PSSI tingkat provinsi yang telah mendukung pembinaan pemain sejak level paling bawah.
“Saya terima kasih kepada Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan PSSI tingkat provinsi yang telah percaya bahwa menciptakan pemain itu harus dari bawah.,” ungkapnya.
Erick menjelaskan kehadirannya dalam festival tersebut untuk melihat secara langsung perkembangan pemain usia dini sekaligus mencari bibit-bibit baru yang diproyeksikan memperkuat tim nasional Indonesia pada masa mendatang.
“Kami ke sini melihat secara langsung bagaimana kejuaraan U-10 dan U-12 ini menjadi fondasi untuk mencari bibit baru bagi timnas masa depan.,” katanya.
Erick menilai pembinaan usia dini semakin penting setelah FIFA meluncurkan turnamen dan festival sepak bola U-15 World Cup and Festival 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Azerbaijan pada 22-31 Oktober 2026.
“Saat ini FIFA sudah membuat kejuaraan U-15 yang dimulai di bulan Oktober tahun ini.,” ujarnya.
Menurut Erick, peluang Indonesia untuk bersaing di level internasional semakin terbuka sehingga pembinaan pemain harus dimulai sejak kelompok usia di bawah 15 tahun.
“Ini harus kita persiapkan dari bibit-bibit di bawah U-15 dan bukan tidak mungkin juga ada pemain U-12 bisa bermain di kategori U-15.,” tuturnya.
PSSI Konsisten Menggelar Kompetisi Kelompok Umur
Erick mengatakan setiap negara memiliki strategi pembinaan atlet yang berbeda, sementara Indonesia memilih membangun kekuatan sepak bola melalui kompetisi dan pembinaan dari tingkat paling bawah.
“Tiap negara punya strategi masing-masing, di Indonesia kita percaya pembangunan dari bawah.,” katanya.
Erick mencontohkan Belanda yang menghapus tim nasional kelompok usia U-15 sebagai bagian dari sistem pembinaan menuju kelompok usia yang lebih tinggi.
“Kemarin Belanda saja sudah menghapuskan tim U-15-nya, bukan mereka tidak percaya pada tim U-15, tetapi mereka akan menjaring U-15 bisa langsung ke U-17.,” ungkapnya.
Selain Festival Grassroot U-10 dan U-12 Piala Presiden, Erick menyebut PSSI selama tiga tahun terakhir secara konsisten menggelar kompetisi kelompok umur seperti Piala Soeratin dan Piala Pertiwi sebagai bagian dari pembinaan pemain muda secara berjenjang.
“PSSI tiga tahun terakhir kita selalu ada namanya Piala Soeratin, Pertiwi yang sudah jalan terus karena tidak mungkin kita melakukan pembinaan dari atas saja, tapi juga dari bawah.,” jelasnya.
Saat ditanya mengenai kemungkinan melibatkan pemantau bakat pada Festival Grassroot U-10 dan U-12 Piala Presiden, Erick menjelaskan proses pencarian pemain dilakukan langsung oleh jajaran Komite Eksekutif (Exco) PSSI yang membidangi pencarian bakat.
“Exco-nya langsung, langsung Exco talent scouting, enggak kaleng-kaleng ya.,” ujarnya.
Festival Grassroot U-10 dan U-12 Piala Presiden tingkat nasional berlangsung pada 7-12 Juli 2026 dengan mempertemukan tim-tim juara regional dari berbagai daerah di Indonesia, di antaranya FBS Nusantara dari Banjar, Lambhuk FA dari Aceh, dan Perspin dari Pinrang, Sulawesi Selatan, sebagai bagian dari upaya memperluas pembinaan sepak bola usia dini di seluruh Indonesia.
- Penulis :
- Arian Mesa





