HOME  ⁄  Teknologi & Sains

Wamenkomdigi Ingatkan Ancaman Penjajahan Baru Lewat Dominasi Algoritma Media Sosial

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Wamenkomdigi Ingatkan Ancaman Penjajahan Baru Lewat Dominasi Algoritma Media Sosial
Foto: (Sumber: Wakil Menteri (Wamen) Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria menjawab pertanyaan dalam program siniar (podcast) saat mengunjungi Antara Heritage Center (AHC) di Jakarta, Selasa (24/2/2026). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym. (ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S).)

Pantau - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan generasi muda Indonesia tentang bentuk baru penjajahan di era digital berupa dominasi algoritma media sosial yang dinilai dapat membentuk cara berpikir dan persepsi publik.

Nezar Soroti Bahaya Filter Bubble dan Disinformasi

Menurut Nezar, masyarakat saat ini hidup dalam ruang digital yang dikendalikan platform dan algoritma media sosial sehingga semakin sulit membedakan fakta, opini, dan manipulasi informasi.

“Hari ini hidup kita dimediasi platform digital. Bahkan isi kepala kita perlahan dibentuk algoritma. Apa yang kita suka terus diperlihatkan, sementara pandangan lain disingkirkan. Kita hidup dalam filter bubble dan echo chamber,” ujar Nezar.

Ia menilai dominasi algoritma menjadi ancaman serius karena dapat memicu polarisasi sosial, memperkuat misinformasi, dan melemahkan kemampuan berpikir kritis masyarakat, terutama generasi muda.

Nezar juga mengutip laporan World Economic Forum yang menyebut misinformasi dan disinformasi menjadi salah satu risiko global terbesar pada 2026.

“Sekarang orang lebih dulu percaya sentimen dibanding fakta. Kalau suka langsung dipercaya, kalau tidak suka langsung ditolak. Ini yang berbahaya,” katanya.

Generasi Muda Diminta Kuasai Teknologi dan STEM

Dalam paparannya, Nezar turut menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau AI yang bergerak sangat cepat mulai dari generative AI, agentic AI, hingga physical AI berbasis robotika.

Menurutnya, dunia kini memasuki fase baru persaingan global yang bukan lagi soal perebutan sumber daya alam, melainkan penguasaan data, komputasi, semikonduktor, dan talenta digital.

“Hari ini perang yang paling penting adalah perang chip AI dan penguasaan teknologi. Kalau Indonesia hanya jadi pengguna teknologi, bonus demografi kita akan hilang tanpa dampak besar,” ungkap Nezar.

Ia menjelaskan Indonesia memiliki modal besar berupa bonus demografi dan kekayaan mineral strategis untuk industri teknologi global.

Namun, menurutnya, keunggulan tersebut tidak akan berarti tanpa sumber daya manusia yang menguasai sains dan teknologi.

Nezar meminta generasi muda memperkuat kemampuan STEM (science, technology, engineering, and mathematics) serta meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terjebak manipulasi algoritma.

“Kita harus masuk menjadi pemain dalam industri digital global. Jangan hanya jadi pasar dan konsumen teknologi,” ujarnya.

Wamenkomdigi juga mengajak organisasi kepemudaan dan pelajar mengambil peran dalam membangun kemandirian teknologi nasional serta menjaga ruang digital Indonesia tetap sehat, kritis, dan produktif bagi masa depan bangsa.

Penulis :
Gerry Eka