
Pantau - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknasi (Kemdiktisaintek) bersama Pemerintah Prancis membuka peluang kemitraan yang lebih luas di bidang pendidikan tinggi, sains, dan teknologi sebagai tindak lanjut kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis pada akhir Mei 2026.
Pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menghasilkan komitmen untuk meningkatkan kolaborasi penelitian, memperluas mobilitas akademik, serta memperkuat kemitraan antara perguruan tinggi dan lembaga penelitian di kedua negara.
Kerja sama tersebut juga diarahkan untuk menghasilkan solusi atas berbagai tantangan pembangunan yang dihadapi Indonesia dan Prancis melalui riset dan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Fokus pada Riset Berdampak dan Hilirisasi Inovasi
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyambut positif penguatan hubungan kerja sama Indonesia dan Prancis yang berfokus pada pengembangan riset berorientasi solusi.
Brian menilai Indonesia memiliki keunggulan strategis berupa biodiversitas yang kaya serta sumber daya mineral yang melimpah untuk mendukung kolaborasi dengan Prancis.
“Biodiversitas dan sumber daya mineral yang dimiliki Indonesia merupakan keunggulan strategis yang dapat dikombinasikan dengan kekuatan teknologi dan kapasitas riset yang dimiliki Prancis. Kolaborasi ini akan membuka peluang lahirnya inovasi-inovasi baru yang dapat menghasilkan riset berkualitas, sekaligus mendukung hilirisasi hasil penelitian ke sektor industri,” ungkap Brian.
Pemerintah Indonesia juga mendorong peningkatan program mobilitas akademik yang mencakup pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen, kehadiran profesor internasional, penelitian bersama, dan penguatan jejaring akademik.
Indonesia membuka peluang yang lebih besar bagi akademisi dan peneliti Prancis untuk menjadi visiting professor di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
“Kami membuka peluang yang lebih luas bagi profesor dan peneliti dari Prancis untuk menjadi visiting professor di perguruan tinggi Indonesia. Pertukaran pengetahuan dan pengalaman internasional sangat penting untuk memperkuat kualitas pendidikan tinggi dan kapasitas riset nasional,” kata Brian.
Prioritaskan Mobilitas Akademik dan Teknologi Masa Depan
Duta Besar Prancis untuk Indonesia Fabien Penone menegaskan bahwa pendidikan, penelitian, dan mobilitas akademik menjadi prioritas utama dalam kemitraan strategis Indonesia dan Prancis.
Menurut Fabien, komitmen yang telah dibangun oleh kedua kepala negara perlu diwujudkan melalui program-program konkret yang memberikan manfaat nyata bagi kedua negara.
“Prancis terus mendorong perluasan kerja sama penelitian dengan Indonesia, termasuk melalui keterlibatan berbagai lembaga penelitian Prancis dan pengembangan kolaborasi pada bidang-bidang strategis yang menjadi kepentingan bersama kedua negara,” ujarnya.
Chief Executive Officer Institut de Recherche pour le Développement (IRD), Valérie Verdier, menjelaskan bahwa lembaganya telah menjalin kemitraan dengan Indonesia selama sekitar lima dekade.
Sejumlah perguruan tinggi Indonesia yang telah menjadi mitra IRD antara lain Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan IPB University.
Kerja sama yang telah berjalan mencakup bidang geosains, mitigasi risiko bencana, kelautan dan maritim, biodiversitas, konservasi lingkungan, serta pembangunan berkelanjutan.
Kedua pihak berharap kolaborasi dapat diperluas melalui penelitian bersama, pertukaran peneliti, mobilitas akademik, pengembangan program kolaboratif, dan skema pendanaan bersama sesuai prioritas kedua negara.
Selain melanjutkan program yang telah berjalan, Indonesia dan Prancis juga membahas peluang kerja sama pada bidang teknologi masa depan seperti kecerdasan artifisial (AI), teknologi kuantum, teknologi antariksa, teknologi nuklir, serta bidang strategis lainnya yang menjadi kepentingan bersama.
- Penulis :
- Arian Mesa





