
Pantau - Badan Keamanan Siber Singapura (Cyber Security Agency/CSA) melaporkan jumlah kasus phishing di negara tersebut menurun menjadi sekitar 4.800 kasus pada 2025, namun memperingatkan bahwa ancaman penipuan siber tetap meningkat karena kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuat modus penipuan semakin meyakinkan.
AI Dinilai Memperkuat Modus Phishing
CSA dalam laporan Singapore Cyber Landscape 2025/2026 yang dirilis pada Selasa (30/6) menyebut jumlah upaya phishing turun 21 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 6.100 kasus dan turun 44 persen dari puncaknya pada 2022 yang mencatat sekitar 8.500 kasus.
Meski demikian, CSA menilai angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya karena masih banyak insiden yang tidak dilaporkan, terutama apabila tidak menimbulkan kerugian finansial.
"AI juga mengubah operasi phishing dan scam dengan memungkinkan pelaku kejahatan membuat umpan phishing yang meyakinkan dalam skala besar, membuat tiruan suara dan video deepfake yang realistis, serta mengembangkan alat yang mampu melewati autentikasi multifaktor," ungkap CSA.
Sektor Perbankan Masih Jadi Target Utama
CSA menjelaskan sektor perbankan dan jasa keuangan tetap menjadi industri yang paling sering dipalsukan identitasnya selama empat tahun berturut-turut dengan porsi sekitar 70 persen dari seluruh upaya phishing yang dilaporkan.
Berdasarkan laporan tersebut, pelaku kejahatan siber paling sering menyamar sebagai lembaga keuangan asal Jepang yang dinilai kurang dikenal oleh sebagian besar masyarakat Singapura.
Selain sektor keuangan, entitas pemerintah dan sektor logistik juga menjadi sasaran yang kerap dipalsukan identitasnya dalam berbagai aksi phishing.
- Penulis :
- Aditya Yohan

