HOME  ⁄  Teknologi & Sains

ICDF Taiwan Dorong Indonesia Perkuat Kerja Sama AI dan Semikonduktor

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

ICDF Taiwan Dorong Indonesia Perkuat Kerja Sama AI dan Semikonduktor
Foto: Kepala Departemen Luar Negeri Taiwan Lin Chia-Lung bersama delegasi media dalam kerangka New Southbound Policy (NSP) Taiwan di Kantor Departemen Luar Negeri Taiwan di Taipei, Kamis (20/8).

Pantau - Dana Kerja Sama dan Pembangunan Internasional atau International Cooperation and Development Fund (ICDF) Taiwan mendorong penguatan kerja sama teknologi dengan Indonesia, terutama dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor.

Sekretaris Jenderal ICDF Taiwan Yu-Lin Huang menilai Indonesia memiliki kondisi yang baik untuk mengembangkan teknologi tinggi seiring berkembangnya pusat data AI dan masuknya investasi perusahaan Taiwan.

“Untuk kerja sama teknologi, ini adalah waktu yang tepat bagi kita untuk memperkuatnya. Kita perlu meningkatkan hubungan kita dengan kerja sama teknologi,” kata Huang.

Pernyataan tersebut disampaikan Huang dalam pertemuan dengan delegasi media dalam kerangka Kebijakan Baru ke Arah Selatan atau New Southbound Policy (NSP) Taiwan di Kantor ICDF, Taipei, Sabtu.

ICDF Soroti Potensi AI dan Semikonduktor Indonesia

Huang menyoroti keberadaan sejumlah pusat data AI di Indonesia sebagai salah satu modal untuk memperkuat pengembangan teknologi tinggi.

“Untuk AI dan semikonduktor, saya tahu ada banyak pusat data AI di Indonesia. Anda juga sudah memiliki beberapa pusat data AI di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Huang, sejumlah perusahaan Taiwan juga telah berinvestasi di Indonesia sehingga hubungan kedua pihak diharapkan semakin kuat untuk memfasilitasi kerja sama teknologi pada masa mendatang.

“Indonesia secara umum berada dalam kondisi yang sangat baik untuk mengembangkan teknologi tinggi lebih lanjut. Dan saya berharap hubungan kita (Taiwan dan Indonesia) dapat diperkuat sedemikian rupa untuk memfasilitasi kerja sama teknologi kita di masa depan,” tuturnya.

Kerja Sama Merambah Ketahanan Pangan

Selain teknologi tinggi, ICDF Taiwan menjalankan kerja sama dengan Universitas Hasanuddin di Sulawesi Selatan dalam pengembangan varietas jagung baru untuk mendukung ketahanan pangan.

Kerja sama tersebut dilakukan melalui proyek pengembangan industri benih jagung pakan yang berlangsung hingga Desember 2028.

Proyek itu bertujuan membangun model produksi benih jagung hibrida komersial dan rantai pasok benih hibrida domestik dengan target penggunaan benih jagung F1 jenis flint produksi dalam negeri mencapai 22,5 persen di Sulawesi Selatan.

“Dari pertanian ke pasar, itu juga sangat penting. Anda dapat melihat produksi para petani berkualitas tinggi diterima oleh toko-toko rantai kelas atas. Jadi, lebih menguntungkan bagi petani untuk menjual produk mereka langsung ke pasar,” ujarnya.

Pendekatan serupa diterapkan melalui proyek inkubasi dan pemasaran agribisnis di Jawa Barat untuk membantu petani meningkatkan teknologi produksi, pengelolaan rantai pasok, dan akses ke pasar pangan olahan.

Proyek yang berjalan hingga Desember 2028 tersebut menargetkan peningkatan nilai penjualan usaha agribisnis peserta sebesar 75 persen melalui peningkatan daya saing dan nilai tambah produk.

Program itu juga membuka peluang transfer teknologi dan pencocokan bisnis bagi usaha kecil dan menengah Taiwan yang bergerak di sektor agribisnis Indonesia.

Huang menilai keterhubungan produksi pertanian dengan pasar penting untuk meningkatkan manfaat ekonomi bagi petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan.

Penulis :
Gerry Eka