
Pantau - Technology Innovation Institute (TII) menyelesaikan wahana pendarat asteroid buatan Uni Emirat Arab (UEA) untuk Emirates Mission to the Asteroid Belt (EMA) yang dijadwalkan meluncur pada 2028 dan menargetkan pendaratan di asteroid 269 Justitia pada awal 2036.
Wahana yang dirancang, dibuat, dan diuji di Abu Dhabi tersebut akan dikirim ke Colorado, Amerika Serikat, untuk menjalani integrasi akhir dengan pesawat antariksa MBR Explorer.
Dalam misi tersebut, MBR Explorer akan mengambil gambar dua planet dan tujuh asteroid dengan melintasi enam asteroid di sabuk utama sebelum mencapai 269 Justitia.
Jika misi berhasil, Justitia akan menjadi asteroid ketujuh dalam sejarah yang permukaannya berhasil dicapai sebuah wahana.
Wahana Beroperasi Mandiri di Ruang Angkasa
Wahana TII dikembangkan oleh Propulsion and Space Research Center bekerja sama dengan UAE Space Agency, HEX20, Khalifa University, dan National Space Science and Technology Center milik UAE University.
Wahana tersebut menjadi satu-satunya muatan yang dapat dikerahkan dalam misi dan akan terpisah dari MBR Explorer untuk mencapai permukaan Justitia.
Sekretaris Jenderal Advanced Technology Research Council Faisal Al Bannai mengatakan pengembangan wahana menuntut kemampuan teknologi yang memungkinkan perangkat mengambil keputusan dan beroperasi secara mandiri di ruang angkasa jauh.
“Jika ingin membangun kemampuan teknologi yang serius, Anda harus menghadapi persoalan yang memaksa Anda untuk terus melangkah lebih jauh. Dalam misi ini, artinya mengembangkan wahana yang harus mampu mengambil keputusan dan beroperasi secara mandiri di ruang angkasa jauh. Dan tim kami telah membangun teknologi tersebut di UEA. Misinya mungkin masih di depan mata, tapi kami telah memperluas kemampuan teknologi yang dapat kami bangun. Inilah cara kemampuan suatu negara berkembang. Kami menyelesaikan persoalan yang sulit, kemudian mengarahkan pandangan pada persoalan yang lebih besar,” kata Faisal.
Wahana akan menggunakan dua kamera bidang lebar dan bidang sempit serta perangkat lunak yang mampu menentukan waktu pengambilan gambar, jumlah gambar, dan data yang layak disimpan tanpa menerima perintah setelah peluncuran.
Justitia Diperkirakan Berasal dari Sabuk Kuiper
Asteroid 269 Justitia merupakan salah satu benda langit paling merah yang pernah diamati di sabuk asteroid utama dan memiliki spektrum yang lebih menyerupai objek di Sabuk Kuiper di luar Neptunus.
Justitia diperkirakan terbentuk di wilayah luar Tata Surya sebelum berpindah ke sabuk asteroid utama pada tahap awal pembentukan Tata Surya.
Permukaannya diperkirakan mengandung material organik kompleks sehingga penelitian terhadap asteroid tersebut diharapkan memberikan informasi mengenai penyebaran air dan zat volatil ketika planet terbentuk.
CEO TII Dr. Najwa Aaraj mengatakan misi tersebut menunjukkan kemampuan UEA mengubah penelitian menjadi teknologi yang siap digunakan dalam eksplorasi ruang angkasa.
“EMA Probe menunjukkan apa yang dapat terjadi ketika penelitian mutakhir diwujudkan menjadi rekayasa yang siap digunakan dalam misi. Tim kami di TII telah mengembangkan sistem yang dirancang untuk bertahan dalam kondisi ekstrem, beroperasi dengan presisi luar biasa, dan menghasilkan temuan ilmiah yang bermakna sejauh miliaran kilometer dari Bumi. Misi ini mencerminkan kualitas para profesional kami sekaligus kedalaman kemampuan ilmiah dan rekayasa yang telah dibangun UEA untuk berkontribusi dalam sejumlah misi ruang angkasa yang paling ambisius di dunia,” kata Najwa.
MBR Explorer Akan Menempuh Lima Miliar Kilometer
MBR Explorer dijadwalkan menempuh perjalanan sekitar lima miliar kilometer selama delapan tahun dengan memanfaatkan manuver bantuan gravitasi di Venus, Bumi, dan Mars.
Pesawat antariksa tersebut dijadwalkan diluncurkan dari Jepang pada Maret 2028 dalam rentang peluncuran selama tiga minggu yang disesuaikan dengan kondisi antarplanet.
Chief Researcher Propulsion and Space Research Center TII Dr. Elias Tsoutsanis mengatakan ketahanan wahana selama perjalanan menjadi salah satu tantangan utama misi.
“Tantangan teknisnya bukan sekadar mencapai Justitia, namun juga untuk memastikan bahwa wahana ini dapat bertahan dalam perjalanan selama delapan tahun dan tetap berfungsi dengan presisi ketika paling dibutuhkan. Setiap elemen - mulai dari perangkat keras dan desain termal hingga perangkat lunak di dalam wahana - telah direkayasa dan diuji untuk menghadapi pertemuan akhir tersebut,” katanya.
Setelah tiba di Justitia, MBR Explorer akan mengorbit selama sekitar tujuh bulan sebelum wahana TII dikerahkan pada awal 2036 untuk turun menuju permukaan dan mengambil gambar secara terus-menerus.
Principal Investigator sekaligus Executive Director Propulsion and Space Research Center TII Dr. Anton Ivanov mengatakan kemampuan otonom menjadi salah satu keunggulan utama wahana tersebut.
"Wahana TII berbeda karena tingkat kemandirian yang direkayasa menjadi sistem yang sangat ringkas. Setelah dikerahkan, wahana ini harus mampu mendeteksi, mengambil keputusan, dan beroperasi secara mandiri, jauh dari Bumi. Program ini juga telah membantu melatih para insinyur Emirat dan memperkuat kemampuan canggih yang diperlukan untuk membangun ekosistem teknologi ruang angkasa di UEA yang mampu bersaing secara global,” kata Ivanov.
EMA menjadi misi antarplanet kedua UEA sekaligus misi pertama negara tersebut dengan elemen pesawat ruang angkasa yang dirancang, direkayasa, dirakit, dan diuji di dalam negeri.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




