HOME  ⁄  Teknologi & Sains

BRIN Ungkap Formula Pemadam Berbasis Singkong Lebih Efisien Tangani Kebakaran Gambut

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

BRIN Ungkap Formula Pemadam Berbasis Singkong Lebih Efisien Tangani Kebakaran Gambut
Foto: Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Julinton Sianturi dalam diskusi yang digelar di Kantor BRIN, Jakarta, Selasa 6/10/2026 (sumber: BRIN)

Pantau - Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Julinton Sianturi menjelaskan formula pemadam berbasis singkong dan amonium polifosfat (APP) mampu mengurangi penggunaan media pemadam sekitar 46 persen dibandingkan air biasa dalam penanganan kebakaran lahan gambut.

Dalam diskusi di Kantor BRIN, Jakarta, Selasa, Julinton menjelaskan kebakaran lahan gambut memiliki suhu api sangat tinggi, baik di permukaan maupun di bawah tanah, sehingga sifat fisik air menjadi kendala dalam proses pemadaman.

Berdasarkan hasil pengamatan, suhu bara api pada lahan gambut dapat mencapai lebih dari 500 derajat Celcius, sedangkan air mendidih dan menguap pada suhu 100 derajat Celcius.

Perbedaan suhu tersebut menyebabkan air yang disemprotkan ke lokasi kebakaran berpotensi menguap sebelum mencapai dan memadamkan bara utama.

"Yang artinya, ketika bapak/ibu masukkan air, air mendidih pada suhu berapa? Suhu 100 (derajat). Itu sudah kalah. Berarti sebelum dia menyentuh (tanah), dia sudah menguap. Ini yang menjadi permasalahan di pemadaman menggunakan air," kata Julinton.

Kondisi termal tersebut membuat penggunaan air untuk memadamkan kebakaran lahan gambut menjadi lebih boros dan kurang efisien karena cairan dapat menguap sebelum menembus bagian bara utama.

Singkong dan APP Ciptakan Lapisan Penghambat Api

Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim peneliti BRIN mengembangkan formula yang memadukan molekul pati atau starch hasil ekstraksi singkong dengan senyawa amonium polifosfat.

Kombinasi tersebut dirancang pada tingkat molekuler agar dapat memberikan respons dan bereaksi cepat ketika bersentuhan dengan api kebakaran hutan dan lahan bersuhu ekstrem.

Ketika terkena suhu sangat tinggi, amonium polifosfat akan mengalami proses dekomposisi dan selanjutnya berinteraksi kuat dengan molekul pati dari singkong.

Interaksi tersebut menghasilkan lapisan isolator tebal yang disebut char untuk menghambat perpindahan panas sekaligus memutus akses oksigen yang dibutuhkan dalam proses pembakaran.

"Ini namanya char. Yang dihasilkan dari proses reaksi ini, yang mampu menghambat perpindahan panas, menghalangi oksigen dan memutus akses oksigen. Jadi ketika api itu tadi dia naik, ketika kami semprotkan itu (singkong APP), dia langsung tertutup gitu, seperti menyelimuti. Nah, itulah pendekatan yang kita lakukan," ungkap Julinton.

Formula singkong dan APP bekerja dengan menciptakan lapisan yang menyelimuti bagian terbakar sehingga pasokan oksigen menuju api tertutup dan perpindahan panas terhambat.

Mekanisme tersebut dapat memutus rantai pembakaran dari bawah tanah yang penting dalam penanganan kebakaran gambut karena bara di dalam tanah dapat terus memicu rambatan api menuju permukaan.

Penggunaan Media Pemadam Berkurang 46 Persen

Julinton mengatakan efektivitas formula berbasis singkong tersebut telah terlihat dalam data hasil uji coba untuk tugas pemadaman yang sama.

Penggunaan air biasa dalam pengujian membutuhkan sebanyak 120 liter, sedangkan formula singkong dan APP hanya membutuhkan sekitar 65 liter.

Perbandingan tersebut menunjukkan penggunaan media pemadam berbasis singkong dan APP sekitar 46 persen lebih sedikit dibandingkan air biasa.

"Dan penggunaan medianya itu, sekitar 46 persen lebih sedikit daripada penggunaan air," kata Julinton.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mendorong pengembangan bahan pemadam kebakaran berbasis tepung ubi atau singkong sebagai alternatif untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Prabowo meminta penelitian dan produksi bahan pemadam berbasis singkong segera dilakukan serta meminta pengajuan anggaran untuk mendukung pengembangannya.

"Intinya dia bisa meredam. Menarik sekali itu. Bahan bakunya dari ubi, dari singkong. Coba diproduksi dalam skala besar," kata Prabowo.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026