HOME  ⁄  Teknologi & Sains

Mahasiswa ITS Ciptakan Futechi Farm, Kandang Ayam Pintar Berbasis AI dan IoT yang Terjual Rp105 Juta

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Mahasiswa ITS Ciptakan Futechi Farm, Kandang Ayam Pintar Berbasis AI dan IoT yang Terjual Rp105 Juta
Foto: Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Bambang Pramujati berbincang dengan ketua tim inovator Muhammad Samsuddin saat meninjau inovasi sistem kandang ayam petelur cerdas berbasis Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI) Futechi Farm di ITS Surabaya, Jawa Timur, Senin 19/10/2026 (sumber: ANTARA/Moch Asim)

Pantau - Tujuh mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan inovasi Futechi Farm, sistem peternakan ayam petelur berbasis otomasi, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), dan Internet of Things (IoT) yang telah mencatatkan penjualan tiga unit dengan total nilai Rp105 juta.

Inovasi tersebut dirancang untuk meningkatkan efisiensi operasional dan produktivitas peternakan ayam petelur, khususnya bagi pelaku usaha skala kecil dan menengah.

Ketua Tim Inovator Futechi Farm, Muhammad Samsuddin, menjelaskan bahwa teknologi tersebut dikembangkan untuk menjawab tantangan peternakan konvensional yang masih banyak mengandalkan tenaga manusia dalam kegiatan operasional sehari-hari.

Dalam keterangannya di Surabaya pada Senin (19/10/2026), Samsuddin menyebut sistem tersebut memungkinkan peternak mengelola berbagai aktivitas kandang secara otomatis melalui perangkat digital.

"Pemberian pakan dapat dilakukan secara otomatis dan terjadwal yang dapat dikendalikan melalui panel kontrol ataupun ponsel pintar," kata Samsuddin.

Melalui teknologi tersebut, peternak dapat mengatur jadwal pemberian pakan tanpa harus selalu melakukan proses distribusi pakan secara manual.

Futechi Farm juga mengintegrasikan berbagai fitur pengelolaan peternakan dalam satu sistem, mulai dari pemberian pakan, pemantauan suhu, pengumpulan telur, hingga pendeteksian indikasi penyakit pada ayam.

Tujuh Mahasiswa ITS Kembangkan Sistem Peternakan Ayam Otomatis

Futechi Farm dikembangkan oleh tujuh mahasiswa program sarjana dan magister Departemen Teknik Mesin ITS yang memiliki perhatian terhadap modernisasi sektor peternakan.

Ketujuh mahasiswa tersebut adalah Muhammad Samsuddin, Khoerunnisa Utami, Yusran Ardian Hamissy, Risky Firmansyah, Muhammad Tabranie, Osama Ilham Prasetya Putra, dan Achmad Rizky Tri Wibowo.

Pengembangan inovasi ini dilatarbelakangi oleh tingginya kebutuhan tenaga kerja, waktu, dan biaya operasional dalam pengelolaan peternakan ayam petelur secara konvensional.

Menurut Samsuddin, persoalan tersebut semakin terasa pada peternakan dengan kapasitas produksi besar karena jumlah ayam yang dipelihara memerlukan pengawasan dan pengelolaan lebih intensif.

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim mahasiswa ITS merancang Futechi Farm sebagai platform yang menggabungkan sejumlah aktivitas peternakan dalam satu sistem berbasis teknologi.

Salah satu fitur utamanya adalah pemberian pakan otomatis yang memungkinkan distribusi pakan dilakukan berdasarkan jadwal yang telah ditentukan.

Sistem tersebut dapat dikendalikan melalui panel kontrol maupun ponsel pintar sehingga peternak memiliki kemudahan dalam mengatur kegiatan operasional kandang.

Selain pemberian pakan, Futechi Farm dilengkapi fitur pemantauan suhu untuk membantu peternak mengawasi kondisi lingkungan kandang.

Pemantauan suhu menjadi bagian penting dalam pengelolaan peternakan karena kondisi lingkungan berkaitan dengan kenyamanan dan kesehatan ayam.

Teknologi tersebut juga menyediakan sistem pengumpulan telur otomatis yang dirancang untuk mengurangi ketergantungan terhadap tenaga manusia dalam proses pengambilan hasil produksi.

Dengan integrasi berbagai fitur tersebut, kegiatan operasional peternakan diharapkan dapat berlangsung lebih praktis, efisien, dan terencana.

Teknologi AI Bantu Deteksi Penyakit Ayam Lebih Awal

Salah satu keunggulan Futechi Farm adalah penggunaan kecerdasan buatan untuk membantu mendeteksi indikasi penyakit pada ayam petelur.

Teknologi AI tersebut dikembangkan agar peternak dapat memantau kondisi kesehatan ternak, terutama pada peternakan dengan populasi ayam yang besar.

Melalui sistem pendeteksian tersebut, indikasi gangguan kesehatan diharapkan dapat diketahui lebih awal sehingga peternak memiliki kesempatan melakukan pemeriksaan dan penanganan.

"Adanya fitur ini memungkinkan bagi peternak untuk mengobati ayam sebelum jatuh sakit dan produksi telur dapat tetap optimal," ungkap Samsuddin.

Fitur pendeteksian indikasi penyakit tersebut diharapkan membantu mengurangi risiko gangguan produksi akibat masalah kesehatan ayam.

Selain pemantauan kesehatan, Futechi Farm dilengkapi fitur pengaturan jadwal vaksinasi untuk mendukung pemeliharaan ternak secara lebih terencana.

Sistem ini juga menyediakan pengaturan jadwal sterilisasi agar kegiatan sanitasi kandang dapat dilakukan sesuai kebutuhan perawatan.

Pengaturan vaksinasi dan sterilisasi disesuaikan dengan jadwal pemeliharaan serta usia ayam sehingga peternak dapat mengelola kegiatan perawatan secara lebih teratur.

Integrasi fitur kesehatan dan sanitasi tersebut menjadi bagian dari upaya tim inovator untuk membangun sistem peternakan yang lebih modern dan mendukung keberlanjutan produksi telur.

Kandang Gunakan Jaring Kawat Las dan Integrasikan Kolam Lele

Dari sisi konstruksi, Futechi Farm menggunakan material weld mesh atau jaring kawat las sebagai bahan utama pengganti bambu yang umum digunakan pada kandang ayam konvensional.

Pemilihan material tersebut bertujuan menciptakan konstruksi kandang yang lebih praktis dalam proses pembersihan dan pemeliharaan.

Struktur kandang berbahan jaring kawat las memungkinkan kotoran ayam jatuh ke bagian bawah sehingga tidak seluruhnya tertahan pada permukaan tempat ayam dipelihara.

Dengan konstruksi tersebut, proses pembersihan kandang diharapkan menjadi lebih mudah dan mengurangi kebutuhan penanganan secara manual.

Selain memperhatikan konstruksi, tim mahasiswa ITS juga merancang sistem yang dapat membantu menekan biaya operasional peternakan.

Efisiensi biaya diupayakan melalui otomatisasi berbagai proses kerja serta optimalisasi penggunaan pakan dalam kegiatan pemeliharaan ayam petelur.

Futechi Farm turut mengintegrasikan konsep pengelolaan kotoran ayam dengan kolam lele sebagai bagian dari pengembangan sistem peternakan yang lebih berkelanjutan.

Konsep tersebut dirancang untuk menghubungkan kegiatan peternakan ayam dengan pengelolaan hasil sampingnya.

Seluruh fitur dan konstruksi Futechi Farm disesuaikan dengan kebutuhan peternakan kecil dan menengah agar dapat diterapkan berdasarkan kapasitas serta kemampuan operasional masing-masing usaha.

Samsuddin, yang memiliki latar belakang sebagai profesional manufacturing designer, ingin teknologi peternakan modern dapat diakses oleh peternak lokal dan tidak hanya digunakan perusahaan berskala besar.

"Jadi, kami mendorong transformasi peternakan konvensional menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan demi penguatan ketahanan pangan nasional," kata Samsuddin.

Futechi Farm Terjual Tiga Unit ke Bangkalan dan Papua

Inovasi Futechi Farm mulai dikembangkan oleh tim mahasiswa ITS pada Januari 2026 dan telah menunjukkan perkembangan melalui penjualan sejumlah unit kepada pembeli di berbagai daerah.

Tim inovator berhasil menjual dua unit platform Futechi Farm ke Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, dengan total nilai transaksi mencapai Rp70 juta.

Selain penjualan ke Bangkalan, tim juga mencatatkan penjualan satu unit Futechi Farm ke Papua senilai Rp35 juta.

Dengan demikian, total penjualan yang telah dicatatkan mencapai tiga unit platform dengan nilai keseluruhan sebesar Rp105 juta.

Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa inovasi mahasiswa ITS telah memasuki tahap pemanfaatan komersial dan tidak hanya berhenti sebagai proyek akademik.

Dalam pengembangan bisnisnya, Futechi Farm memperoleh pembinaan dari Inkubator dan Layanan Bisnis Inovatif (ILBI) ITS.

ILBI merupakan bagian dari Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) ITS yang memberikan pendampingan terhadap pengembangan inovasi dan kegiatan bisnis.

Selain memperoleh pendampingan bisnis, proyek Futechi Farm mendapatkan dukungan pendanaan dari Asian Development Bank (ADB) dan ITS melalui program HETI.

"Pencapaian ini tidak terlepas dari dukungan pendanaan Asian Development Bank (ADB) dan ITS melalui program HETI, serta pendampingan bisnis dari ILBI," ungkap Samsuddin.

Dukungan pendanaan dan pendampingan tersebut membantu tim mahasiswa mengembangkan hasil perancangan teknologi menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Rektor ITS Dorong Inovasi Mahasiswa Berikan Dampak Nyata

Rektor ITS, Prof. Bambang Pramujati, turut memberikan perhatian terhadap pengembangan inovasi yang dihasilkan mahasiswa dan sivitas akademika ITS.

Bambang menegaskan bahwa kegiatan riset dan pengembangan teknologi di lingkungan perguruan tinggi perlu diarahkan untuk menghasilkan solusi terhadap kebutuhan masyarakat maupun pemerintah.

Menurutnya, hasil penelitian tidak seharusnya hanya berhenti pada konsep akademik, tetapi juga perlu memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung.

"Selalu saya dorongkan peran mahasiswa dan lulusan ITS untuk memberikan dampak nyata bagi pengembangan SDM dan perekonomian nasional," kata Bambang.

Pengembangan Futechi Farm menjadi salah satu contoh penerapan ilmu teknik mesin, otomasi, IoT, dan kecerdasan buatan untuk menjawab kebutuhan sektor peternakan.

Melalui integrasi teknologi tersebut, berbagai aktivitas yang sebelumnya bergantung pada tenaga manusia dapat dibantu oleh sistem otomatis untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan peternakan ayam petelur.

Futechi Farm juga menawarkan pendekatan pengelolaan peternakan yang mencakup aspek produksi, kesehatan ternak, sanitasi kandang, penggunaan pakan, hingga pengelolaan kotoran ayam.

Kehadiran inovasi tersebut diharapkan membantu peternak kecil dan menengah meningkatkan produktivitas tanpa harus sepenuhnya bergantung pada metode operasional konvensional.

Dengan dukungan teknologi, pendampingan bisnis, dan pengembangan produk yang berkelanjutan, Futechi Farm diharapkan dapat berkontribusi terhadap modernisasi peternakan, peningkatan kesejahteraan peternak, serta penguatan ketahanan pangan nasional.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026