Pantau Flash
Wapres Sebut MUI Terapkan Moderasi dalam Fatwa Vaksin COVID-19
Pemerintah Anggarkan Rp2 Triliun untuk Bayar Utang ke Guru dan Dosen Agama
36 Pegawai Kedeputian Penindakan KPK Positif COVID-19
Pos Penyekatan di Jembatan Suramadu Resmi Ditiadakan
Perhatian! Warga dengan KTP Non DKI Jakarta Bisa Ikut Vaksinasi COVID-19

4 Tips Perencanaan Keuangan yang Wajib Diperhatikan Pemilik Mobil

Headline
4 Tips Perencanaan Keuangan yang Wajib Diperhatikan Pemilik Mobil Ilustrasi perencanaan keuangan pemilik mobil. (Foto: Istimewa)

Pantau.com - Meski nilainya terus mengalami depresiasi dari tahun ke tahun, mobil merupakan sebuah aset. Kepemilikan sebuah mobil tentu menuntut seseorang untuk memiliki perencanaan keuangan yang baik.

Keberadaan mobil sebagai aset tentu akan menambah nilai kekayaan bersih kamu. Namun sebagai sebuah aset, mobil bisa dikategorikan sebagai aset pribadi maupun investasi.

Ketika mobil hanya digunakan untuk keperluan mobilitas sehari-hari, maka statusnya pun menjadi aset pribadi. Namun ketika mobil digunakan untuk mencari uang seperti mengantar penumpang, mengangkut barang dagangan, diperjual-belikan ke showroom atau pelanggan, maka mobil akan menjadi aset investasi.

Baca juga: Dengerin Lagu Saat Nyetir Ternyata Bisa Pengaruhi Gaya Berkendara

Seperti diketahui, ada banyak biaya yang harus dikeluarkan bagi mereka yang memiliki mobil. Berikut adalah tips perencanaan keuangan dari Lifepal untuk para pemilik mobil.

1. Mobil juga butuh dana darurat

Idealnya, seorang harus menyediakan dana darurat setara minimal 3 sampai 6 kali pengeluaran bulanan. Mengapa? Karena dana darurat akan berguna untuk menalangi biaya hidup di saat orang yang bersangkutan kehilangan penghasilan.

Lantas seperti apa bentuk dana darurat untuk mobil?

Semakin tua usia mobil, maka semakin sering pula pergantian suku cadangnya. Pergantian suku cadang saat servis berkala jelas memunculkan biaya tak terduga yang harus dibayarkan. Sebut saja aki mobil yang habis masa pakainya, kampas kopling, rem, busi, oli, dan filter-filter yang harus diganti dalam hitungan kilometer. Belum lagi, pemilik mobil rentan terkena risiko ban kempes di tengah perjalanan, baik karena tekanan anginnya yang kurang atau karena musibah lain.

Oleh karena itulah, cukup penting tentunya untuk mengalokasikan dana untuk kebutuhan ini. Tidaklah salah untuk menabung setidaknya 1 hingga 5 persen dari pemasukan per bulan untuk dana darurat mobil. Simpan saja dana tersebut di tabungan agar tetap likuid. 

2. Total aset lancar kamu harus 15 hingga 20 persen dari kekayaan bersih

Seperti dijelaskan di atas bahwa keberadaan mobil yang merupakan aset, akan menambah nilai kekayaan bersih Anda. Nilai kekayaan bersih sendiri didapat dari hasil pengurangan antara total aset dan total utang. Semakin tinggi kekayaan bersih, maka makin tinggi pula persentase aset lancar (tabungan, kas, dan setara kas) yang harus Anda miliki.

Wajar saja, mobil tentunya butuh biaya operasional seperti biaya bahan bakar, biaya kebersihan, biaya jasa servis ringan, servis berat dan pajak. Itu sebabnya, seseorang yang memiliki mobil harus memiliki kas yang cukup, bukan hanya untuk keperluan yang sifatnya darurat melainkan juga untuk operasional.

Total aset lancar ideal harus Anda miliki adalah 15 hingga 20 persen dari kekayaan bersih. Jika kurang dari 15 persen, itu tandanya jumlahnya terlalu kecil, namun jika lebih dari 20 persen, Anda terlalu banyak menyimpan uang di tabungan dan kurang berinvestasi untuk masa depan.

Baca juga: Tips Merencanakan Keuangan Kamu yang Terpaksa 'Menambah Utang'

3. Mobil juga harus dilindungi

Satu-satunya yang bisa melindungi Anda dari risiko finansial atas rusak atau hilangnya mobil Anda adalah asuransi mobil.  Secara garis besar, asuransi mobil terdiri dari all risk dan total loss only (TLO).

All risk akan menanggung apapun risiko yang terjadi, termasuk lecet di bagian bodi asal sesuai dengan aturan yang berlaku. Sedangkan TLO menanggung biaya pertanggungan ketika mobil Anda hilang, atau mengalami kerusakan total hingga mencapai 70 persen dari harga mobil.

TLO cenderung lebih murah daripada all risk. Namun pemilihannya harus disesuaikan dengan potensi risiko yang bakal dialami si pemilik mobil.

4. Pastikan cicilannya Sesuai dengan pemasukan

Bagi kamu yang tengah mencicil mobil, mungkin tidak mengetahui apakah cicilan mobil per bulan terlalu besar atau tidak.  Cara mengukurnya tentu saja dengan mengetahui debt service ratio (DSR) kita.

DSR menunjukkan total cicilan utang yang kita miliki berbanding pemasukan bulanan, tidak hanya cicilan mobil, melainkan juga cicilan kartu kredit, dan kredit lainnya bila ada.

Untuk menghitung nilai DSR, Anda bisa melakukan perbandingan dari jumlah total cicilan Anda dengan pemasukan bulanan. Bila besaran cicilan mobil dan utang-utang lainnya masih di bawah 35 persen dari penghasilan, maka jumlah cicilan itu masih wajar. Tapi jika berlebih, tandanya sudah terlalu besar. Itu artinya Anda harus mengatur ulang pembayaran utang, bisa dengan melakukan perpanjangan tenor pinjaman atau dengan melunasi utang-utang lain di luar kredit mobil yang berbunga besar. 

Ada cara mudah untuk melakukan perhitungan ini, yaitu menggunakan Kalkulator Angsuran Kredit Flat Lifepal. Dengan kalkulator tersebut, kamu bisa menghitung, berapa tenor cicilan paling tepat, agar besaran cicilan yang kamu bayarkan tiap bulan tidak melebihi 35 persen dari penghasilan.

Kalkulator Bunga Flat:


Tim Pantau
Editor
Widji Ananta

Berita Terkait: