Pantau Flash
Survei: Sejak Pandemi, Aktivitas Anak Main Game Komputer Berkurang
Bayi 50 Hari Asal Cirebon Positif Korona Usai Diajak Orangtua ke Hajatan
Update COVID-19 di Indonesia: Jumlah Positif 30.514, Pasien Sembuh 9.907
KSP: Pemerintah Berhati-hati dan Tetap Waspada Memasuki Era New Normal
Meutya Hafid: Kepemimpinan Penerapan New Normal Tetap di Pemerintah Sipil

Airlangga Sebut Kebijakan Biodiesel Bisa Atasi Defisit Neraca Perdagangan

 Airlangga Sebut Kebijakan Biodiesel Bisa Atasi Defisit Neraca Perdagangan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto usai menghadiri diskusi Kementerian Perindustrian di Jakarta, Selasa. (Foto: Antara/Mentari Dwi Gayati)

Pantau.com - Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan implementasi kebijakan biodiesel bisa mengatasi masalah defisit neraca perdagangan yang dihadapi Indonesia saat ini.

"Dengan implementasi biodiesel ini maka masalah defisit neraca perdagangan bisa diselesaikan tetapi tentu ada prasyaratnya yaitu salah satunya membuat green refinerinya," kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto usai ratas dengan agenda penyampaian program dan kegiatan bidang perekonomian di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (30/10/2019).

Baca juga: 4 Langkah Jitu yang Diklaim Bisa Turunkan Impor BBM

Airlangga menyebutkan upaya mengatasi defisit neraca perdagangan merupakan satu dari beberapa hal yang dibahas dalam rapat kebinet itu.

Terkait defisit neraca perdagangan, salah satu yang akan didorong sebagai quick deal, menurut Airlangga adalah pelaksanaan kebijakan biodisel.

"Jadi kalau tahun depan ada B30, kami akan buat selanjutnya yaitu Program B40, B50, B70 sampai B100," katanya.

Ia menyebutkan implementasi B20 akan bisa menghemat dana 5 miliar dolar AS, implementasi B70 menghemat 12 miliar dolar AS, dan B100 bisa menghemat 18 miliar dolar AS.

Terkait green refineri, lanjut Airlangga, Presiden Jokowi memberi arahan perlunya merevitalisasi PT Trans Pacific Petroleum Indotama (TPPI) di Tuban, Jatim.

"TPPI di Tuban itu bisa untuk substitusi BBM Ron 88 namun kami modifikasi menjadi Ron 92 berbasis disel," katanya.

Baca juga: Airlangga Tegaskan Berkat Biodiesel, RI Tak Perlu 'Mengemis' ke Negara Lain

Ia mengaku memang perlu diputuskan apakah TPPI tetap berdiri sebagai BUMN atau bagian dari Pertamina.

"Ini kami akan panggil Menteri BUMN untuk dikaji maksimal," katanya.

Menurut dia di kompleks TPPI sudah terdapat lahan dan pelabuhan yang bisa dikembangkan menjadi pabrik green disel.

"Artinya produksi dan investasi lebih murah dan infrastrukturnya sudah tersedia. Nah di situ ada 10 pengusaha yang siap melakukan investasi," katanya.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Kontributor - TIH

Berita Terkait: