Pantau Flash
Dokter: Kelelahan pada Penyintas Korona Jadi Gejala Fenomena 'Long COVID'
Bamsoet: Deklarasi Benny Wenda Makar, Pemerintah Harus Tindak Tegas
Rekor Lagi! Kasus COVID-19 di Indonesia Melonjak Naik 8.369 Hari Ini
Lemhannas: Benny Wenda Tidak Punya Kewenangan untuk Deklarasi Papua Barat
Ditangkap Bareskrim di Bogor, Ustadz Maaher Jadi Tersangka Kasus UU ITE

Aksi Boikot Hotel di Brunei Bisa Ancam Para Pekerja di 9 Hotel

Headline
Aksi Boikot Hotel di Brunei Bisa Ancam Para Pekerja di 9 Hotel Seruan boikot dari Presenter Ellen DeGeneres (Foto: Twitter/Ellen DeGeneres)

Pantau.com - Sejumlah pihak mendesak boikot terhadap hotel-hotel mewah milik kerajaan Brunei, termasul Hotel Le Meurice yang ada di Paris.

Akun-akun media sosial sembilan hotel mewah milik Brunei dihapus atau atau untuk sementara dinonaktifkan, menyusul pemberlakuan peraturan anti-LGBT yang diterapkan di kerajaan tersebut.

Brunei menerapkan hukum Islam itu pekan ini dan mereka yang dinyatakan melakukan hubungan seks sesama jenis bisa dicambuk atau dirajam hingga meninggal.

Baca juga: Kabar Buruk (Lagi), Toko Pakaian Dalam Ann Summers Merugi Rp61 Miliar

Dikutip BBC, selebritas termasuk aktor George Clooney dan penyanyi Elton John menyerukan publik untuk tidak menggunakan hotel-hotel mewah yang dimiliki kerajaan Brunei.

Serangan di media sosial terhadap akun-akun hotel mewah itu sepertinya makin keras dalam beberapa waktu terakhir, setelah pembawa acara terkenal asal Amerika Serikat, Ellen DeGeneres, mengunggah nama sembilan hotel milik Brunei di Twitter dan menyerukan boikot.

 

Akun media sosial sembilan hotel tersebut sekarang tak bisa diakses, meski tak semuanya dihapus. Delapan akun telah dihapus atau dinonaktifkan, sementara akun milik Hotel Principle de Savoia di Italia berstatus "protected", yang berarti masih ada di internet, namun semua twitnya tak bisa dilihat.

Enam akun Instagram hotel-hotel ini dihapus atau dinonaktifkan, sedangkan akun yang dijalankan Le Meurice, Hotel Plaza Athenee di Prancis dan otel Eden di Roma diubah menjadi "private". Artinya, foto-fotonya hanya bisa dilihat oleh akun yang diizinkan untuk menjadi pengikut.

Di Facebook, semua akun hotel-hotel ini tak bisa diakses.

Dorchester Collection, perusahaan yang mengelola sembilan hotel mewah ini, menulis pesan di situs mereka yang menyebutkan, "Kami tidak mentoleransi diskriminasi dalam bentuk apa pun."

Di luar seruan yang dilakukan individu, perusahaan penerbangan Virgin Australia mengakhiri kerja sama dengan Royal Brunei Airlines.

Baca juga: Ramalan Guru Besar UI Menerawang Masa Depan Ekonomi Indonesia

Serangan terhadap hotel-hotel ini terus berlanjut, satu di antaranya bertanya di media sosial apakah pegawai gay di Dorchester akan dirajam.

Yang lain meminta agar para pegawai hotel tidak menjadi sasaran kemarahan, sementara seorang lainnya mengatakan "bayangkan bagaimana perasaan pegawai-pegawai gay yang bekerja di hotel-hotel ini".

Ada juga yang menulis, kalau hotel-hotel ini diboikot, "yang paling menderita adalah para pegawai hotel, bukan sultan Brunei".

Mungkin komentar-komentar bernada marah ini yang membuat Dorchester Collection menutup akun media sosial mereka. Dikatakan, sudah ada serangan-serangan yang ditujukan kepada para pegawai mereka.

Di situs TripAdvisor, pengunjung dilarang menulis review atau ulasan atas hotel-hotel milik kerajaan Brunei ini di situs mereka. TripAdvisor mengatakan langkah ini diambil terkait dengan "kejadian yang menarik perhatian media".

Kejadian ini, kata TripAdvisor, memicu masuknya review baru, yang dinilai bukan berdasarkan pengalaman langsung menginap di hotel tersebut dan oleh karenanya ulasan atas sembilan hotel milik Brunei untuk sementara tidak diterima. Hingga berita ini diturunkan, belum jelas apakah situs-situs ulasan lain mengikuti jejak TripAdvisor.

Tim Pantau
Penulis
Nani Suherni

Berita Terkait: