Pantau Flash
Pasar Kembali ke Aset Safe Haven, Rupiah Melemah Rp16.250 per Dolar
Anies Tegaskan Tak Batasi Jumlah Kendaraan di Jalan saat Jakarta PSBB
Polda Metro Jaya: Tak Ada Penutupan Akses Keluar-Masuk Jakarta Selama PSBB
Kabar Duka, Penyanyi Glenn Fredly Meninggal Dunia
Kemenkes: Orang Terinfeksi COVID-19 Bisa Tularkan ke Hewan

AS Coret Indonesia sebagai Negara Berkembang Bisa Berdampak Positif

Headline
AS Coret Indonesia sebagai Negara Berkembang Bisa Berdampak Positif Ilustrasi pelabuhan bongkar muat. (Foto: Antara)

Pantau.com - Kepala Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Riza Noer Arfani menilai, keputusan Amerika Serikat (AS) mencoret Indonesia dari daftar negara berkembang bisa memiliki dampak positif. Pasalnya, itu bisa mendorong pelaku usaha nasional meningkatkan daya saing produksi di kancah internasional.

"Yang perlu dilakukan adalah membuat ini sebagai 'berkah terselubung' supaya pelaku usaha nasional yang selama ini dininabobokan dengan status mendapat Generalized System of Preferences (GSP) dari Amerika tidak lagi 'tidur' dan siap bersaing," kata Riza di Yogyakarta, Jumat (28/2/2020).

Menurut dia, dengan dihapuskannya Indonesia dari daftar negara berkembang versi AS, otomatis Indonesia tidak lagi mendapat fasilitas pengurangan bea masuk GSP dari negara Paman Sam itu.

Baca juga: Indonesia Keluar dari Negara Berkembang, Menperin: RI Perlu Persiapan

Kondisi tersebut, menurut dia, memang akan berdampak pada kinerja ekspor Indonesia, khususnya produk tekstil dan turunannya yang selama ini mengandalkan pasar AS.

Agar para eksportir nasional tidak terlalu terguncang dalam jangka pendek menurut dia, pemerintah perlu memberikan berbagai insentif, mulai dari pemangkasan pajak hingga penyederhanaan perizinan.

Kendati demikian, lanjut Riza, kebijakan perdagangan AS itu juga memiliki dampak positif karena membuat pelaku usaha nasional mulai menyiapkan strategi yang solid serta tidak lagi bergantung pada negara tujuan ekspor. Hal itu, kata dia, sejalan dengan harapan Presiden Joko Widodo agar pengusaha nasional tidak hanya unggul di dalam negeri dan lebih siap menghadapi persaingan secara global.

"Diversifikasi destinasi (ekspor) mungkin bisa juga jadi bagian strategi itu tapi kalau tetap pasar utamanya adalah Amerika, ya kita harus siap bersaing dengan Vietnam, Thailand, dan China sekali pun di produk-produk yang memang mengandalkan pasar Amerika," kata dia.

Baca juga: Ini Alasan Pemerintah Tingkatkan Dana Lingkungan Hidup

Berpindah sepenuhnya dari pasar AS, menurut dia, tidak bisa serta merta dilakukan karena selama ini pasar di negara Paman Sam cukup bagus menampung aneka produk tekstil dan produk nonmigas lainnya dari Indonesia. "Apalagi mereka juga sudah pulih ekonominya sekarang, di bawah Trump. Ini mengejutkan tapi itu terjadi. Kita tidak bisa serta merta meninggalkan Amerika," kata dia.

Menurut dia, keputusan AS mengeluarkan Indonesia dari daftar negara berkembang merupakan bagian dari kelanjutan kebijakan Donald Trump yang memilih lebih memperhatikan ekonomi domestik dibandingkan perdagangan internasional.

"Selama ini kita mengandalkan jargon perdagangan bebas. Sementara, itu sekarang sudah ditinggalkan Amerika. Jadi kalau Amerika saja meninggalkan maka Indonesia seharusnya juga bertanya pada diri sendiri, jangan-jangan selama ini (perdagangan bebas) merugikan kita," tukas Riza.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta

Berita Terkait: