Pantau Flash
Penembakan di Cafe Shisha Jerman, 9 Orang dan Pelaku Tewas
Jokowi Benarkan 4 WNI Positif Korona di Kapal Pesiar Diamond Princess
Ada Gubernur Belum Alihkan Kewenangan Izin Investasi, Bahlil Lapor Presiden
KPK Takut Tangkap DPO Eks Sekretaris MA Nurhadi?
Rapper Pop Smoke Tewas Ditembak di Rumahnya

Bahayakah Tailing? Pasir Sisa Tambang Freeport Indonesia

Headline
Bahayakah Tailing? Pasir Sisa Tambang Freeport Indonesia Pekerja freeport Indonesia (Foto: Kementerian ESDM)

Pantau.com - Proses kumpulan tailing akan menjadi hutan baru dalam waktu 10-15 tahun, dan akan lebih cepat lagi jika ada campur tangan manusia yang membantunya.

Apa itu tailing? Oke, mari kita kita bahas bersama-sama. Kegiatan operasi pertambangan PT Freeport Indonesia menghasilkan tailing berupa pasir sisa tambang (Sirsat). Sirsat yang dihasilkan dari kegiatan PT FI ini mencapai 97 persen dari produk batuan biji yang dihasilkan. 

Sirsat yang merupakan sisa gerusan batuan bijih setelah mineral tembaga, emas dan peraknya diambil (dalam bentuk konsentrat).

"Menurut informasi dari Bapak Toni, tailing disini tidak berbahaya karena proses yang dilaksanakan adalah proses fisika dan bukan proses kimiawi yang berbahaya," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Minerl, Ignasius Jonan di lokasi.

Baca juga: 51 Persen Saham Milik RI, Jonan Catat Sejarah Pimpin Upacara di Freeport

Meski tidak berbahaya dan beracun, karena volumenya besar sekali yakni sekitat 200.000 ton per hari, maka menurut Jonan, semua yang terdampak seperti tanaman akan mati, dan ini mesti ditanami kembali.

Lokasi tempat penimbunan tailing diperkirakan akan kembali menjadi hutan alami dalam waktu 10-15 tahun. Setelah menjadi hutan kembali Jonan menyarankan agar ditanami tanaman keras jangan jenis perdu.

"Informasi yang saya dapat, lokasi limbah tailing ini dalam 10 tahun sudah menjadi "hutan muda". Jika demikian maka saya menyarankan agar di lokasi ini lebih banyak ditanami tanaman keras misalnya, kayu merbau dan trambesi, kalau tanaman keras itu bisa survive mestinya "oke"," saran Jonan.

Mengamini statemen Jonan, Presiden Direktur PT FI, Toni Wenas menegaskan, bahwa limbah tailing hasil pertambangan PT FI tidak berbahaya. 

Baca juga: Lama Tak ada Kabar, Freeport Rupanya Tak Ekspor Konsentrat Selama 3 Bulan

"Proses yang terjadi bukan kimiawi tetapi fisika. Di dataran tinggi sana (Tembagapura) batuan diekstrak, digerus menjadi halus, kemudian diekstrak kembali menggunakan sejenis reagen, sejenis alcohol sehingga mineral berharganya bisa mengambang, yang ini kemudian diekstrak kembali dan sisanya 97 persen menjadi tailing," jelas Toni.

Lokasi reklamasi hasil kegiatan pertambangan PT FI seluas sekitar 800 Hektare dan semuanya sudah tumbuh menjadi hutan baru, khususnya yang 100 ha sudah ditanami dengan pohon buah-buahan, serta kolam ikan, penangkaran kupu-kupu dan peternakan sapi, hal ini untuk menujukkan bahwa ekosistem sudah kembali normal dilokasi reklamasi.

Setelah menjadi hutan baru setelah 10-15 tahun diperkirakan akan tumbuh sekitar 500 jenis tumbuhan termasuk buah-buahan dan setelah 20 tahun akan tumbuh sekitar 800 tumbuhan secara alami. Untuk buah-buahan yang dihasilkan dari lokasi reklamasi Departemen Lingkungan PT FI akan terus melakukan analisa secara rutin untuk melihat apakah buah-buahan tersebut aman untuk dikonsumsi, termasuk juga dengan ikan-ikan yang ada yang hidup di kolam bekas tailing.

Tim Pantau
Editor
Nani Suherni
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: