Pantau Flash
Alami Pneumonia Akibat Korona, Musisi jazz Ellis Marsalis Meninggal Dunia
WP KPK Tolak Wacana Pembebasan Napi Koruptor Dampak Pandemi Korona
Penanganan COVID-19 di Jakarta Disebut Lebih Baik dari Jabar dan Banten
PSI pada Jokowi: Mudik Harus Dilarang, Kalau Imbauan Saja Tak Akan Efektif
Update COVID-19 3 April: 1.986 Kasus Positif, 134 Sembuh, 181 Meninggal

Bak Beli Kucing dalam Karung, Pembeli Apartemen Ini Rugi Rp1 Miliar

Bak Beli Kucing dalam Karung, Pembeli Apartemen Ini Rugi Rp1 Miliar Apartemen dengan dua kamar tidur di pinggiran Kota Sydney kini dijual hingga sekitar Rp 9 miliar per unit (Foto: ABC News/Nick Sas)

Pantau.com - Nilai apartemen di Australia telah jatuh dibandingkan harganya saat pertama kali dibeli, terutama untuk apartemen yang dibeli saat belum dibangun, atau 'off-plan'.

60 persen apartemen 'off-plan' di Sydney dan 52,9 persen di Melbourne telah jatuh nilainya dibandingkan dengan harganya saat kontrak jual beli disepakati, seperti yang dilaporkan program televisi 7.30 dari ABC.

Berdasarkan data properti dari CoreLogic, nilai apartemen baru di Sydney turun sampai 15 persen, di Melbourne penurunan mencapai 11 persen dari harganya saat dibeli. Sementara penurunan di Queensland sebesar lebih dari 43 persen dari 22,5 persen di Australia Barat.

Tim Lawless, Kepala Peneliti CoreLogic mengatakan jumlah apartemen telah mengalami 'oversupply' yang signifikan dan melebihi dari permintaan pasar.

Baca juga: 58.416 Lembar Saham Milik Nadiem, Lalu Siapa yang Akan Duduki CEO Gojek?

Namun jatuhnya nilai apartemen baru menurutnya lebih disebabkan karena kekhawatiran soal kualitas bangunan dan struktur bagian luar bangunan yang mudah terbakar.

"Ini sepertinya dipertimbangkan warga dan berpotensi mempengaruhi nilai properti saat dijual kembali," kata Tim.

Pembeli dari Indonesia rugi sekitar Rp 1 Miliar

Widya, warga Indonesia di Melbourne dan tidak ingin nama lengkapnya disebutkan, mengaku kepada ABC Indonesia jika ia "kapok" untuk membeli apartemen lagi di Australia.

Ia pernah memiliki sebuah apartemen di kota Melbourne, tapi setelah empat tahun, ia memutuskan untuk menjualnya.

"Baru setahun lebih tinggal, banyak kerusakan di unit, yang paling sering bocor, entah dari kamar mandi di atas yang bocor ke unit kita, atau sebalkinya," ujar Widya yang bekerja di industri keuangan.

Akibatnya biaya asuransi untuk seluruh bangunan meningkat dan berdampak pada iuran tahunan, atau 'body corporate fee' yang meningkat hingga dua kali lipat.

Baca juga: Benang Merah antara Jumlah Tabungan dengan Usia Kamu, Begini Penjelasannya

Di tahun pertama ia setidaknya harus mengeluarkan AU$ 2.000, atau lebih dari Rp20 juta per tahun untuk 'body corporate' ini dan setelah hampir empat tahun menjadi AU$ 4.000, atau lebih dari Rp40 juta per tahun. Tak hanya itu, Widya yang tadinya ingin menjadikan unitnya sebagai investasi malah mengalami kerugian, "bukannya balik modal".

"Harganya waktu beli AU$ 420.000 (lebih dari Rp4 miliar), dijual AU$ 320.000 (sekitar Rp3 miliar), jadi rugi AU$ 10.000 (sekitar Rp1 miliar)."

"Membeli apartemen baru yang off-plan di Australia itu seperti beli kucing dalam karung," kata Widya.

Meski saat itu memiliki kesepakatan untuk inspeksi sebelum melunasi pembayaran, tetap saja banyak yang tidak diketahui seperti apa kualitas material di tempat yang tersembunyi.

"Saya setuju dengan laporan itu (data CoreLogic) karena banyak pengembang di Australia yang pakai material kurang berkualitas," ujarnya yang sekarang lebih memilih menyewa apartemen.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni

Berita Terkait: