Berikut Tiga Kunci Utama Pemulihan Ekonomi & Prospek Investasi Keberlanjutan

Bahana menggelar “Market & Commander” Catatan Akhir Tahun 2017 Strong & Trustworthy. (Pantau.com/Ratih)Bahana menggelar “Market & Commander” Catatan Akhir Tahun 2017 Strong & Trustworthy. (Pantau.com/Ratih)

Pantau.com Budi Hikmat, Direktur Investor Relation and Chief Economist Bahana TCW Investment Management mengatakan ada tiga kunci utama untuk pemulihan ekonomi dan prospek investasi secara keberlanjutan. Pertama, keberhasilan pemerintah dalam memperluas lapangan pekerjaan. Selanjutnya kedua, pengendalian defisit neraca berjalan. Ketiga, mendorong penerimaan pajak yang tetap ramah bagi dunia usaha.

Menurut Budi, ketiga hal di atas dapat dijadikan paduan bagi investor. Dia menjelaskan, rasio pajak terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia terbilang bisa ditingkatkan secara gradual. “Jika upaya ini berhasil maka penawaran (supply) obligasi negara akan berkurang. Hal ini akan diikuti dengan penurunan yield mendekati paras negara sekawasan yang berkisar 5%. Valuasi saham dapat meningkat sehingga mendorong kenaikan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan,” jelas Budi Hikmat, Rabu (17/1/2018).

Dia mengatakan kombinasi sentimen domestik dan eksternal akan memberi potensi pada penguatan fondasi pemulihan ekonomi, sekaligus menopang peluang investasi di pasar modal Indonesia. Dari sisi eksternal, antara lain banyak investor merisaukan dampak kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang pada akhir 2017 memotong pajak.

Kebijakan tersebut, selain akan memicu kenaikan yield T-bond, langkah tersebut dikhawatirkan akan memicu fenomena dolar pulang kampung alias capital outflow, yang berisiko menekan harga saham dan obligasi, serta memperlemah nilai tukar rupiah. Sementara dari sisis domestik, posisi Indonesia dinilai jauh lebih baik. Hal tersebut antara lain nampak pada penurunan defisit neraca berjalan, penguatan cadangan devisa, pelambatan inflasi, dan kestabilan rupiah. 

“Maka tak heran bila lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings memberikan kado istimewa akhir tahun lalu berupa kenaikan peringkat layak investasi,” kata Budi. 

Menurut Budi, peningkatan peringkat investasi ini akan menurunkan premi risiko (yield spread) yang diukur berdasarkan selisih antara yield T-bond dan surat utang negara (SUN) Indonesia. “Jadi kendati yield T-bond naik, yield SUN kita tetap berpeluang turun. Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Filipina, yield spread Filipina cenderung meningkat sementara untuk Indonesia cenderung menurun. Ini pertanda investor asing cenderung lebih positif kepada Indonesia”, papar Budi.

Tim Pantau
Editor
Martina Prianti