Pantau Flash
Apple Dikabarkan Tunda Peluncuran iPhone 9 Akibat Virus Korona
Komisioner KPAI Sitti Himawatty Minta Maaf Soal Hamil di Kolam Renang
Survei Indo Barometer: Prabowo Diunggulkan Jadi Capres 2024, Anies Kedua
Lagi, RSHS Bandung Tangani Pasien Suspect Virus Korona
WHO: Dunia Harus Bertindak Cepat Cegah Virus Korona

Buka-bukan Menteri Jonan Soal Kedaulatan Energi di Indonesia

Headline
Buka-bukan Menteri Jonan Soal Kedaulatan Energi di Indonesia Menteri ESDM Ignasius Jonan (Foto: Kementerian ESDM)

Pantau.com - Semua negara membutuhkan energi, oleh sebab itu, negara yang tak memiliki sumber energi seperti minyak dan gas rela merogoh kocek tinggi untuk impor. 

Lalu bagaimana dengan Indonesia, negara yang memiliki sumber energi ini menjamin warganya bisa mendapatkan energi yang merata?

Menjawab hal tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan memastikan, prinsip ketersediaan dan keterjangkauan energi oleh masyarakat menjadi inti dari kebijakan dalam pengelolaan ESDM.

"Paling penting dari kedaulatan energi itu ada dua, yakni ketersediaan energi itu sendiri dan keterjangkauan dari segi harga," kata Jonan saat mengisi kuliah umum di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Baca juga: Menteri Jonan Sebut Kericuhan di Papua Tak Menganggu Aktivitas PT Freeport

Bahkan, kembali ke topik pembahasan soal kebutuhan energi, Jonan memastikan setiap negara akhirnya saling memiliki ketergantungan energi.

"Semua negara itu saling ketergantungannya (di sektor energi) besar. Kedaulatan energi itu yang terpenting adalah membuat daya saing bangsa ini menjadi lebih baik," ucapnya.

Dalam menyediakan energi dengan harga terjangkau, pemerintah memberikan subsidi energi secara tepat sasaran untuk menjaga daya beli masyarakat kurang mampu.

Baca juga: Kompensasi Token Listrik Akan Ditambah Saat Pembelian Perta

Tercatat sekitar Rp1.200 triliun dana di APBN digunakan untuk subsidi energi selama periode 2011 hingga 2014, namun alokasinya dibuat makin tepat sasaran dalam 4 tahun terakhir, agar tersedia alokasi pembiayaan untuk sektor produktif lainnya.

"Subsidi, yang selalu orang ramai bicara ini. Dibandingkan periode sebelumnya, sekarang empat tahun terakhir (2015-2018) subsidi sektor energi dipangkas menjadi hanya Rp477 triliun. Ini kurang lebih hanya sepertiga dari yang sebelumnya. Agar lebih tepat sasaran," jelas Jonan.

Sementara, lanjut Jonan subsidi di tahun tahun 2019 ini targetnya Rp160 triliun, namun, ia memprediksi hanya berada di angka Rp120 triliun sampai Rp130 trilyun. Hal itu melihat harga komoditas energi yang turun, hingga semester I tahun ini angkanya sebesar Rp59,4 triliun.

Tim Pantau
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: