Pantau Flash
Arab Saudi Stop Umrah, Hidayat Nur Wahid: Baik Dilakukan untuk Cegah Korona
Lion Air Jemput 13.000 Jamaah Umrah Kembai ke Indonesia
Bank Indonesia Yakin Ekonomi Membaik di Semester II-2020
Lion Air Hentikan Sementara Penerbangan Umrah ke Arab Saudi
3 Induk Cabor Tanda Tangan MoU Dana Pelatnas 2020

Catatan Kekayaan Menurun, Miliarder Hong Kong Ajak Warga Akhiri Unjuk Rasa

Headline
Catatan Kekayaan Menurun, Miliarder Hong Kong Ajak Warga Akhiri Unjuk Rasa Demo di Hong Kong. (Foto: Reuters/Tyrone Siu)

Pantau.com - Para taipan properti Hong Kong menanggung rugi, pasar saham setempat semakin merosot dan sektor pariwisata di bekas koloni Inggris ini ikut terpukul ketika gerakan pro-demokrasi terus berlangsung.

Meski perang dagang AS-China memicu beberapa kerugian ini, unjuk rasa berminggu-minggu telah mendatangkan malapetaka bagi investor dan menyebabkan kerusakan reputasi besar terhadap wilayah semi-otonom ini sebagai kekuatan ekonomi.

Saat aksi unjuk rasa memasuki minggu ke-11 tanpa tanda-tanda melambat, analis memperkirakan Hong Kong akan mengalami resesi. Sekarang para miliarder di sana menyerukan agar protes berakhir.

Menurut Indeks Miliarder Bloomberg, kekayaan bersih dari 10 taipan terkaya, yang mendapatkan kekayaan mereka dari perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Hong Kong, telah merosot miliaran sejak protes dimulai pada Juni.

Orang terkaya Hong Kong, raja bisnis berusia 91 tahun Li Ka-shing, menjadi miliarder terbaru yang bergabung dengan kelompok pemrotes aksi unjuk rasa.

Baca juga: Fix! Donald Trump Tegaskan AS Tak Akan Berbisnis Dengan Huawei

Li, yang dijuluki 'Superman' di Hong Kong, mengeluarkan iklan satu halaman penuh di sebagian besar surat kabar lokal, mendesak penghentian kerusuhan "atas nama cinta".

Iklan itu menampilkan kata dalam bahasa China untuk "kekerasan" dengan hiasan palang merah, diapit oleh slogan-slogan tentang mencintai China dan mencintai Hong Kong.

Pengusaha, yang memiliki kekayaan sekitar $39 miliar (atau setara Rp390 triliun), ini mengakhiri iklan tersebut dengan ucapan "dari seorang warga Hong Kong, Li Ka-shing".

Penguasa properti

Ketika gerakan unjuk rasa berlangsung berlarut-larut, ada kekhawatiran bahwa sektor properti, yang merupakan kunci utama ekonomi lokal, bisa berada dalam bahaya.

Dikendalikan oleh miliarder mega-kaya, Hong Kong adalah rumah bagi real estat paling mahal di dunia, membuatnya jauh dari jangkauan banyak warganya.

Rata-rata, sebuah apartemen nano seukuran tempat parkir berharga sekitar $1.475 (atau setara Rp14,75 juta) per bulan untuk disewa. Sebagian besar pengunjuk rasa yang turun ke jalan adalah mahasiswa dan profesional muda.

Keluarga Kwoks, keluarga ketiga terkaya di Asia, meminta agar unuk rasa dihentikan. Mereka memiliki sedikit harapan untuk bisa memiliki rumah sendiri, sehingga mengusik orang kaya dan berkuasa telah menjadi tujuan dari gerakan ini.

"Di Hong Kong, taipan properti mengendalikan pasokan tanah," kata analis yang berpusat di Shanghai, Andy Xie.

Baca juga: Demonstran di Hong Kong Serukan Kuras Uang ATM, Ekonomi China Bisa Goyang

"Beijing mengandalkan para taipan di Hong Kong untuk memerintah tempat itu, sehingga Pemerintah tak benar-benar bertanggung jawab. Semua taipan memiliki hubungan langsung ke Beijing," kata Xie.

Apakah para miliarder Hong Kong mengiyakan penawaran Beijing, hal itu masih harus dilihat lebih lanjut.

"Mereka pikir para taipan ini akan menjaga perdamaian di Hong Kong, yang jelas bukan tujuan mereka. Tujuan mereka adalah menghasilkan uang sebanyak mungkin, secepat mungkin", kata Xie.

Ketika keuntungan mereka mulai turun, makin banyak tokoh properti Hong Kong mengkritik gerakan protes tersebut.

Swire Pacific, salah satu kerajaan bisnis keluarga terkaya Hong Kong, telah mengeluarkan pernyataan tegas yang mengutuk "kegiatan ilegal dan perilaku kekerasan" di sana, seraya melemparkan dukungannya terhadap pemerintah kota itu.

Bisnis keluarga, yang telah berusia lebih dari 200 tahun, ini adalah pemegang saham terbesar di Cathay Pacific, memiliki hotel-hotel mewah, menara perkantoran, dan pusat perbelanjaan kelas atas di seluruh kota.

Sun Hung Kai Properties, yang dikendalikan oleh keluarga terkaya ketiga di Asia, Kwoks, juga menyerukan agar kekerasan dihentikan dan agar tatanan sosial dipulihkan.

Taipan properti, Peter Woo, mantan CEO dari pengembang bernama Wheelock and Co, mengatakan para pengunjuk rasa harus mundur karena mereka sudah berhasil menggagalkan rancangan undang-undang ekstradisi.

"Ekonomi akan mengalami penurunan yang mendalam sebelum akhir tahun ini. Pasar properti akan jatuh besar. Sangat jelas ke mana arah ekonomi ini," kata Xie.

Baca juga: Detik-detik Seorang Polisi Dihajar Demonstran di Hong Kong

Pemesanan penerbangan ke wilayah Asia dari Hong Kong turun 20 persen dalam beberapa bulan terakhir. Sangat sedikit orang yang saat ini membeli properti di Hong Kong, menurut Mr Xie.

"Jika anda melihat data harga, itu tak terlihat seperti situasi yang mengerikan. Tetapi pinjaman telah runtuh, jadi kapan penjual akan menyerah dan mulai memotong harga? Sulit dikatakan," katanya.

Buggle Lau menganalisis data untuk salah satu perusahaan real estat terbesar di Hong Kong, Midland Realty Services, dan mengatakan harga telah turun sekitar 2 persen sejak kerusuhan dimulai dengan pasar mewah yang paling terpukul.

"Pengembang telah memperlambat peluncuran terbaru mereka. Baik pembeli maupun penjual mengadopsi pendekatan melihat-lihat situasi," katanya.

Lau mengatakan transaksi perumahan turun lebih dari 50 persen bulan ini, dibandingkan dengan rata-rata bulanan tujuh bulan pertama tahun ini.

"Tetapi kami tak berbicara tentang keruntuhan besar di pasar properti Hong Kong seperti pada tahun 1997," katanya.

Tim Pantau
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: